Cabang-Cabang Ilmu Sosiologi – Materi Sosiologi Kelas 10

Sejak kecil sampai sekarang, tentunya elo nggak asing sama yang namanya tetangga atau masyarakat. Meskipun elo anak rumahan, pasti pernah dong disuruh mama ke warung atau keluar rumah buat beli nasi goreng. Tanpa elo sadari, kegiatan-kegiatan sederhana di atas memberikan elo kesempatan buat berinteraksi dengan orang lain.

Dari interaksi tersebut, bisa saja elo merasakan hal yang positif, misalnya karena penjual nasi gorengnya ramah. Tapi, bisa saja di interaksi yang singkat itu justru timbul konflik karena ada pembeli lain yang nggak mau antre atau penjualnya lupa nggak ngasih elo uang kembalian. Nah, fenomena ini ternyata dipelajari di bangku sekolah melalui mata pelajaran Sosiologi.

Menurut Pitirim A. Sorokin, seorang Sosiolog kelahiran Rusia, sosiologi merupakan ilmu yang mengkaji tentang hubungan timbal balik dalam masyarakat dan gejala-gejala sosial, termasuk di dalamnya ada juga interaksi sosial. 

Tapi, ternyata sosiologi nggak cuma membahas interaksi kita dengan orang lain, lho! Pada intinya, karena objek yang dikaji oleh sosiologi itu masyarakat beserta perilakunya, maka ilmu ini bisa mempelajari hal-hal yang ada di masyarakat secara lebih spesifik. Misalnya, dari aspek agama, pendidikan, atau lingkungan tempat tinggal.

Oleh karena itu, nggak heran kalau Sosiologi tuh punya beberapa cabang ilmu dengan objek kajian yang berbeda-beda. Kalau elo nanya, “ada berapa cabang ilmu sosiologi?” Jawabannya nggak bisa dipastikan karena sosiologi itu luas banget dan di dalamnya juga ada banyak aspek-aspek kehidupan masyarakat.

Tapi jangan khawatir, gue sudah merangkum 8 cabang ilmu sosiologi yang paling sering dibahas. Ada apa aja? Yuk simak artikel ini sampai habis!

  1. Sosiologi Agama

Selama ini, kita umumnya belajar agama langsung dari kitab suci tanpa keraguan apapun kepada Tuhan. Oleh karena itu, biasanya ilmu agama itu sifatnya doktrinal (ajaran yang harus langsung diterima).

Namun, ternyata ajaran agama juga membentuk cara pandang, perilaku kita dalam kehidupan bermasyarakat, dan juga identitas kelompok keagamaan tertentu. 

Jadi, sosiologi agama adalah cabang ilmu sosiologi yang belajar tentang bagaimana ajaran agama mempengaruhi pola pikir, perilaku, dan cara bertindak umatnya dalam kehidupan bermasyarakat.

  1. Sosiologi Pendidikan

Elo tahu ga, kalau pendidikan itu tidak hanya mengajarkan kita agar tahu berbagai ilmu pengetahuan. Namun, pendidikan juga mengontrol perilaku kita dengan berbagai ajaran budi pekerti serta mengajarkan bagaimana kita memecahkan berbagai permasalahan di masyarakat.

Selain itu, institusi pendidikan juga berperan dalam mengatasi permasalahan sosial seperti mengurangi pengangguran dan tingkat anak putus sekolah. Oleh karena itu, pendidikan juga berhubungan erat sama masyarakat. Tidak heran kalau akhirnya lahir sosiologi pendidikan.

Sosiologi pendidikan adalah cabang ilmu sosiologi yang mempelajari bagaimana institusi pendidikan berperan dalam membentuk perilaku anak didiknya dan mengatasi permasalahan di masyarakat.
Contoh penerapan sosiologi pendidikan (Arsip Zenius)
  1. Sosiologi Pembangunan

Cabang ilmu sosiologi yang satu ini bakal mengajarkan kepada kita tentang bagaimana dampak pembangunan kepada masyarakat. Hal ini perlu dipelajari supaya pembangunan di negara kita tuh berjalan secara efektif dan efisien.

Kenapa harus efektif dan efisien? Soalnya, nggak selamanya pembangunan yang ada bisa berdampak positif ke kita. Terkadang, pembangunan justru bisa merusak keberadaan suatu budaya atau kelompok masyarakat yang udah ada turun temurun.

Oleh karena itu, sosiologi pembangunan membantu kita buat mengevaluasi dampak pembangunan dan mendorong partisipasi masyarakat biar pembangunan itu bisa bermanfaat buat banyak orang.

Baca juga: Kelompok Sosial – Materi Sosiologi Kelas 11 SMA

  1. Sosiologi Politik

Sosiologi politik adalah cabang ilmu sosiologi yang mempelajari hubungan antara kita sebagai warga negara, dengan lembaga-lembaga politik yang mewakili kepentingan negara.

Nah, di sini elo bakal belajar hak dan kewajiban elo sebagai warga negara, misalnya hak untuk bebas buat menyampaikan pendapat dan kritik serta kewajiban buat turut memberikan suara saat pemilihan umum.

Sosiologi politik mempelajari hubungan warga negara dengan negara serta pelaksanaan hak-hak maupun kewajibannya.
Ruang lingkup dalam sosiologi politik (Arsip Zenius)
  1. Sosiologi Industri

Cabang ilmu sosiologi industri adalah bagian dari sosiologi yang mengkaji perkembangan masyarakat di era industrialisasi, kegiatan ekonomi berupa produksi, distribusi, dan konsumsi, serta bagaimana sistem ekonomi tersebut mempengaruhi keseharian mereka.

Nggak hanya itu, cabang ilmu sosiologi yang satu ini bakal ngajak elo mengamati perubahan kegiatan ekonomi masyarakat karena adanya industrialisasi. Misalnya, saat tahun 2010, mayoritas penduduk di Kota A bekerja sebagai petani. 

Tapi, pada tahun 2020, ternyata ada banyak yang beralih profesi jadi pedagang, sopir ojol, dan karyawan pabrik karena di lingkungannya sudah dibangun kawasan industri.

  1. Sosiologi Hukum

Kita semua pasti merasakan kalau perilaku kita sehari-hari tuh selalu bersinggungan dengan hukum. Baik hukum yang turun temurun di masyarakat, atau hukum yang dibuat negara. Namun, terkadang penerapan aturan hukum yang ada di undang-undang tuh beda lho sama kenyataan di masyarakat. 

Contohnya nih, kalau ada kasus pencurian. Dalam hukum Indonesia, pencurian tuh diancam hukuman pidana berupa penjara atau denda. Tapi, tidak jarang kita jumpai kasus ini diselesaikan dengan cara musyawarah dan pengembalian barang curian.

Nah, dari fenomena tersebut, kita sadar kalau hukum itu tidak cuma dipelajari dari aturan-aturan tertulis. Tapi, ada banyak praktik dalam masyarakat yang nggak sesuai hukum negara, dan itu nggak dipermasalahkan. Inilah yang dipelajari oleh sosiologi hukum.

Sosiologi hukum melihat bahwa penegakan hukum dalam masyarakat tidak selalu sama dengan apa yang diatur dalam aturan perundang-undangan.
Sosiologi hukum adalah cabang ilmu sosiologi yang mempelajari penerapan hukum di masyarakat (Arsip Zenius)
  1. Sosiologi Keluarga

Ngomongin soal keluarga, tentu elo sangat familiar dengan keberadaan kakak, adik, ayah, dan ibu atau yang biasa disebut keluarga inti. Tapi, ternyata nggak semua keluarga tuh diisi oleh 4 peran itu, lho. Ada juga keluarga yang isinya cuma ayah dan anak atau ibu dan anak. 

Selain itu, ternyata, hubungan keluarga di Indonesia dan Eropa tuh beda lho! Di negara kita, hubungan tiap anggota keluarga cenderung memandang usia dan peran. Misalnya, kita diajarkan untuk memanggil “kak” kepada saudara yang lebih tua. 

Lain halnya di Amerika Serikat, di mana memanggil kakak kandung dengan namanya langsung merupakan hal yang sangat lumrah. Nah, hal-hal yang kayak gini bakal elo pelajari di Sosiologi Keluarga.

  1. Sosiologi Pedesaan

Sosiologi pedesaan adalah cabang ilmu sosiologi yang belajar tentang struktur organisasi, perilaku masyarakat, status sosial, karakter masyarakat, dan bagaimana perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat pedesaan.

Selain itu, sosiologi pedesaan juga belajar tentang masalah-masalah yang sering muncul dalam masyarakat. Misalnya, tingginya tingkat pernikahan dini, rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, atau tingginya angka buta huruf. 

Kebalikan dari sosiologi pedesaan adalah sosiologi perkotaan yang mengkaji permasalahan masyarakat kota.

Baca juga: Stratifikasi Sosial: Pengertian, Fungsi, Sifat, dan Contohnya – Materi Sosiologi Kelas 11

Nah, itu tadi penjelasan yang bisa gue kasih terkait cabang-cabang ilmu sosiologi. Elo bisa nyimak penjelasan di atas dalam versi video dengan cara klik banner di bawah ini.

Cabang-Cabang Ilmu Sosiologi - Materi Sosiologi Kelas 10 9

Contoh Soal

Setelah belajar cabang-cabang ilmu sosiologi dan nonton video pembelajarannya, tentu nggak seru rasanya kalau elo belum coba ngerjain contoh soal. Oleh karena itu, gue kasih elo tantangan buat jawab 2 soal di bawah ini. Yuk coba kerjain!

  1. Ana tinggal di suatu desa terpencil di pinggiran hutan yang kehidupan masyarakatnya sangat tradisional. Bahkan, akses pendidikan yang sulit dijangkau karena letaknya jauh, membuat banyak generasinya buta huruf. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai pemburu, petani, dan pengrajin anyaman khas desa itu. Setiap seminggu sekali, sebagian besar warga desa memberikan persembahan kepada leluhur melalui serangkaian ritual turun temurun. Meskipun di desa itu terdapat beberapa orang dengan kepercayaan yang berbeda-beda, namun mereka tidak mempermasalahkan adanya ritual tersebut. Malahan, mereka hidup berdampingan secara damai.

Cabang ilmu sosiologi yang bisa kita pakai buat mempelajari kehidupan sosial di desa Ana menurut ilustrasi di atas adalah….

a. Sosiologi agama, sosiologi pembangunan, sosiologi pendidikan

b. Sosiologi pendidikan, sosiologi industri, sosiologi keluarga

c. Sosiologi pendidikan dan sosiologi agama

d. Sosiologi pedesaan, sosiologi agama, dan sosiologi pendidikan.

Jawaban: d

Pada ilustrasi di atas, elo bisa menemukan 3 masalah pokok, yakni kehidupan masyarakat yang masih tradisional beserta dengan perilaku mereka, lalu sulitnya akses pendidikan sehingga banyak warga menjadi buta huruf, dan tindakan toleransi antarwarga yang berbeda kepercayaan. Nah, ketiga masalah di atas merupakan objek kajian sosiologi pedesaan, sosiologi pendidikan, dan sosiologi agama.

2.  Berikut merupakan cabang ilmu sosiologi, kecuali…

a. Sosiologi pedesaan

b. Sosiologi kesehatan

c. Sosiologi perkotaan

d. Sosiologi individu

Jawaban: d

Sebagaimana yang udah gue jelasin di atas, sosiologi itu merupakan ilmu yang mempelajari tentang masyarakat. Nah, objek kajiannya luas banget, bisa dari segi agama, pendidikan, kehidupan pedesaan, hukum, bahkan dari aspek kesehatan masyarakat suatu daerah. Tapi, sosiologi tidak mengenai kehidupan seseorang sebagai makhluk individu. Oleh karena itu, tidak ada yang namanya sosiologi individu.

Baca juga: Sistematika Penulisan Laporan Penelitian dan Tujuannya – Materi Sosiologi Kelas 10

Gimana, apakah elo bisa jawab kedua soal di atas dengan benar? Kalau belum, yuk scroll dan baca lagi materinya. Selain itu, elo bisa nonton video ini buat ningkatin pemahaman elo tentang sosiologi:

Definisi Sosiologi

Nah, elo kan udah belajar tentang apa itu sosiologi dan cabang-cabang ilmunya, pastinya elo mau tahu dong gimana penerapan tiap cabang ilmu itu dalam kehidupan masyarakat, tokoh-tokoh sosiologi, dan cara meneliti masyarakat melalui ilmu ini.

Elo bisa mempelajari semua hal itu dengan cara download aplikasi Zenius, daftar, dan pilih paket belajar yang cocok di sini Nanti bakal ada tutor-tutor asik yang bakal bikin elo semangat belajar. Eits, nggak ketinggalan juga ribuan contoh soal yang bakal ngebantu banget buat elo mempersiapkan ujian. Yuk gabung sekarang!

Tinggal klik banner di bawah ini kalau elo mau lebih praktis!

Paket Belajar Zenius

Ditulis oleh: Ardalena Romantika (Bagian dari Kampus Merdeka)

Editor: Achmad Haikal Kurniawan

Referensi:

Zenius – Materi Belajar

Nora Susilawati – Sosiologi Pedesaan

Dr. Fithriatus Shalihah, S.H,. M.H – Sosiologi Hukum

Achmad Faesol, M.Si – Diktat Sosiologi Agama

Tujuan Pemberdayaan Komunitas – Materi Sosiologi Kelas 12

Kali ini kita akan membahas tentang pemberdayaan komunitas. Kenapa sih materi ini masuk dalam kurikulum kelas 12 dan apa pentingnya mempelajari ini? Temukan jawabannya di sini!

Halo Sobat Zenius, di artikel ini, gue mau ngebahas Materi Sosiologi Kelas 12 tentang tujuan pemberdayaan komunitas, hakikat dan sasarannya. Yuk baca artikel ini sampai selesai!

Bicara soal komunitas, apa sih yang terlintas di pikiran Sobat Zenius? Coba sebutkan apa yang dimaksud dengan komunitas dan jelaskan tujuannya?

Sebenarnya, komunitas itu terbentuk dari keadaan sosial. Misalnya nih, kelompok masyarakat yang bermigrasi dari desa dan kota untuk melakukan tujuan tertentu, seperti mencari kerja, berbisnis atau menempuh pendidikan.

Kondisi ini tentu berdampak pada perubahan sosial di desa kan? Misalnya, masyarakat kota yang kembali ke desa membawa budaya baru yang berpengaruh secara sosial. Sayangnya, nggak semua perubahan sosial itu bisa diterima oleh komunitas masyarakat di desa. Inilah pemberdayaan komunitas perlu dilakukan.

Ilustrasi tujuan pemberdayaan komunitas lokal di desa
Pemberdayaan komunitas untuk membuat komunitas lebih mandiri (dok. Tenor)

Baca juga: Masalah Ketimpangan Sosial di Masyarakat

Kenapa Kita Perlu Belajar Pemberdayaan?

Alasan pertama adalah untuk melatih skill praktis (practical skills). Satu di antara hakikat pemberdayaan komunitas lokal, memiliki tujuan agar masyarakat memiliki kemampuan yang bisa digunakan untuk beradaptasi.

Dari fungsi ini, elo akan fokus menganalisis kondisi masyarakat, mengkaji sumber daya yang dimiliki, apa yang masyarakat butuhkan, dan bagaimana kondisinya. Untuk mendukung skill ini, elo perlu pemahaman konsep sosiologi mulai dari materi pertama yaitu “Sosiologi Sebagai Ilmu” hingga “Ketimpangan Sosial”.

Alasan kedua, setelah SMA elo akan melanjutkan jenjang selanjutnya nih, entah itu bekerja atau kuliah. Nah, ketika elo menjadi mahasiswa di perguruan tinggi, elo akan menghadapi kehidupan mahasiswa yang di dalamnya ada program PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) dan KKN (Kuliah Kerja Nyata). Kedua kegiatan tersebut akan berhubungan dengan masyarakat, sehingga dibutuhkan skill pemberdayaan untuk menunjangnya.

Terakhir, kita adalah makhluk sosial yang gak akan jauh dari kegiatan bermasyarakat, termasuk dalam hal pekerjaan. Misalnya elo menjadi pimpinan yang akan mengembangkan karyawan, dan elo harus membuat training atau pelatihan untuk para karyawan. 

Dari kondisi ini, elo tentu sudah bisa menentukan apa tujuan pemberdayaan komunitas yang elo kerjakan. Yaitu untuk meningkatkan kualitas karyawan. Jadi, jelas ya, materi ini penting buat dipelajari sebagai bekal jangka panjang.

ilustrasi pentingnya mempelajari pemberdayaan komunitas zenius education
Pemberdayaan komunitas penting untuk dipelajari (Dok. Giphy)

Tujuan Pemberdayaan Komunitas

Untuk mengurai tujuan pemberdayaan komunitas, mari kita balik lagi ke perubahan sosial. Misalnya perubahan sosial yang terjadi di kota besar, sehingga masyarakat desa banyak yang melakukan urbanisasi.

Kondisi ini, lambat laun pasti berdampak pada perubahan sosial di desa, seperti kehilangan SDM. Nah, apa sih yang harus dilakukan supaya perubahan sosial tersebut bisa tetap stabil tanpa berdampak buruk?

Jawabannya dengan melakukan pemberdayaan komunitas. Tujuannya apa? Pemberdayaan dilakukan karena komunitas setempat ingin bertahan hidup. Jadi, kita membantu masyarakat supaya tetap berdaya dalam menghadapi perubahan sosial.

Kalau mau tahu lebih tentang tujuan dan alasan kenapa ada pemberdayaan, elo bisa langsung temukan jawabannya di video belajar Zenius secara gratis di sini.

Baca Juga: Teori Migrasi, Contoh, dan Dampaknya – Geografi Kelas 11

Apa Itu Pemberdayaan Komunitas?

Dari tadi kita ngomongin tentang pemberdayaan, tapi elo tahu gak sih arti dari pemberdayaan komunitas itu apa?

“Pemberdayaan komunitas merupakan serangkaian upaya dalam pembangunan sosial yang mendorong komunitas agar mampu mengidentifikasi masalah dan potensinya untuk memecahkan permasalahannya sendiri.”

Analoginya gini, setiap daerah memiliki potensinya masing-masing. Misalnya desa A memiliki potensi wisata alam yang cukup baik, tapi oleh masyarakat sekitarnya nggak dimanfaatkan optimal. Terlebih lagi dengan kehidupan ekonomi masyarakat sekitar yang rendah. 

Nah, tujuan pemberdayaan komunitas yang elo lakukan dari kondisi ini, salah satunya menyiapkan aset untuk mendatangkan investor untuk mengelola potensi di desa tersebut.

Sayangnya, seringkali masyarakat sekitar itu gak dilibatkan dalam proses pembangunan. Alhasil, mendatangkan investor bukanlah solusi yang tepat, justru bisa menimbulkan masalah baru seperti pencemaran lingkungan.

Jika kondisinya seperti ini, tujuan pemberdayaan komunitas yang elo lakukan berubah jadi menggugah keterlibatan masyarakat agar lebih aktif dan memiliki inisiatif. Jadi, kita hanya membantu supaya masyarakat desa A terlibat aktif membangun potensi daerahnya untuk dijadikan wisata alam. Peran kita hanya membantu dan mendorong mereka untuk memecahkan masalahnya sendiri.

hakikat pemberdayaan komunitas lokal memiliki tujuan agar masyarakat menjadi
Komunitas menjadi sasaran dalam pemberdayaan komunitas (dok. kemenparekraf.go.id)

Sekarang kalau elo ditanya, sasaran pemberdayaan komunitas itu siapa? Tentu saja jawabannya adalah komunitas. Nah, komunitas yang dimaksud itu siapa? Dalam sosiologi, elo perlu tahu perbedaan masyarakat (society) dan komunitas (community).

  • Masyarakat bersifat abstrak dan luas → masyarakat Indonesia dengan berbagai permasalahannya.
  • Komunitas bersifat spesifik dan dekat → komunitas desa A dengan permasalahan kurangnya inisiatif membangun desa wisata.

Oke, paham ya sampai sini? Intinya, hakikat pemberdayaan komunitas lokal memiliki tujuan agar masyarakat menjadi lebih aktif, berinisiatif, dan berdaya dalam membangun dan menyelesaikan masalahnya. Intinya, komunitas adalah aktor dalam suatu pembangunan.

Baca Juga: Pembangunan Ekonomi – Materi Ekonomi Kelas 11

Contoh Soal dan Pembahasan Pemberdayaan Komunitas

Untuk menguji sejauh mana pemahaman elo mengenai materi di atas, gue ada contoh soal dan pembahasan yang bisa dijadikan sebagai referensi. Cekidot!

Contoh Soal: Paradigma pembangunan yang melatarbelakangi bidang pemberdayaan komunitas adalah ….

  1. Paradigma ekonomi klasik
  2. Developmentalis
  3. Paradigma pembangunan top-down
  4. Paradigma pembangunan kontemporer
  5. Pembangunan holistik dan economic-based

Jawaban: Paradigma pembangunan kontemporer.

Pembahasan: Elo harus ingat kalau hakikat dari pemberdayaan komunitas adalah masyarakat terlibat aktif dalam pembangunan. Dari pilihan di atas: paradigma ekonomi klasik, developmentalis, dan paradigma pembangunan top-down bersifat satu arah, di mana masyarakat sebagai objek, bukan aktornya. Sedangkan, pembangunan kontemporer merupakan pembangunan yang suara dan kepentingan masyarakatnya juga didengar dan bahkan menjadi basis dari tujuan pembangunan.

*****

Gimana Sobat Zenius, sampai sini udah paham kan tentang pemberdayaan komunitas? Buat elo yang lebih menyukai belajar dengan nonton video, elo bisa mengakses materi ini di video belajar Zenius dengan klik banner di bawah ini menggunakan akun yang sudah elo daftarkan di website dan aplikasi Zenius sebelumnya, ya!

materi pelajaran sosiologi zenius

Khusus buat elo yang ingin meningkatkan nilai rapor, sekaligus menambah pemahaman elo pada semua materi pelajaran kelas 10, 11, 12, elo bisa bergabung ke paket belajar Zenius Aktiva Sekolah.

Di paket ini, elo akan diberikan akses ke ribuan video materi belajar premium, try out hingga live class yang bisa bikin elo makin jago menghadapi ujian. Yuk, cari tahu info lengkapnya dengan klik banner di bawah ini.

indeks harga

Originally Published: December 31, 2021
Updated By: Rizaldi Abror

Pengertian Ilmu Sosiologi dan Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari

Hola Sobat Zenius! Di artikel kali ini gue akan membahas mengenai prinsip sosiologi. By the way, khususnya buat elo anak jurusan IPS, elo pernah gak sih kepikiran, kenapa kita nih harus belajar ilmu sosiologi?

Oke, tapi sebelum membahas mengenai ilmu sosiologi adalah apa. Gue mau membahas dulu suatu hal yang masih sering disalahartikan oleh banyak orang, yaitu perbedaan antropologi, psikologi, dan sosiologi. Elo sendiri tahu gak perbedaan dari ketiga ilmu tersebut?

Perbedaan ilmu sosiologi, antropologi, dan psikologi
Perbedaan ilmu sosiologi, antropologi, dan psikologi (dok. Giphy)

Ketiga ilmu tersebut memang memiliki persamaan, yaitu mempelajari tentang manusia. Tapi, ketiganya memiliki fokus yang berbeda-beda. Kalau psikologi membahas tentang manusia, tapi berfokus pada individu. 

Selain itu, psikologi juga membahas yang berkaitan dengan perilaku dan kondisi mental. Sedangkan, antropologi dan sosiologi membahas kelompok manusia atau masyarakat. Bedanya, antropologi itu membahas tentang bahasa (linguistik), arkeologi, fisik (biologi), dan sosial budaya. 

Misalnya, bagaimana sih adat pernikahan di suatu daerah itu dilaksanakan atau kalau ada kematian apa sih yang biasa dilakukan oleh masyarakat di suatu daerah. Lalu, bagaimana dengan ilmu sosiologi? 

Ilmu sosiologi adalah ilmu yang membahas tentang struktural, seperti bagaimana kehidupan sosial bermasyarakat dan perubahan sosial dari zaman ke zaman. 

Jadi, udah jelas ya kalau psikologi, antropologi, dan sosiologi itu memiliki perbedaan fokus tentang manusia. Nah, di artikel kali ini, kita akan membahas lebih dalam tentang ilmu sosiologi. Simak selengkapnya di bawah ini!

Baca Juga: Kupas Tuntas Jurusan Ilmu Psikologi

Apa Itu Sosiologi?

Ilmu yang satu ini terbilang baru bagi elo yang baru masuk SMA, betul gak? Karena, di SMP gak ada mata pelajaran ini. 

Ya meskipun beberapa dari elo udah ada yang mendengar istilah “sosiologi” sebelumnya, tapi tahu gak sih arti dari sosiologi itu apa? Kita coba telusuri asal usul istilah ini, yuk!

Istilah sosiologi pertama kali diciptakan pada tahun 1838 oleh seorang filsuf asal Perancis bernama Auguste Comte. Anak sosiologi pasti udah gak asing nih sama nama tersebut, karena ia dijuluki sebagai Bapak Sosiologi. 

Comte merasa bahwa sains itu gak hanya mempelajari alam, melainkan juga dunia sosial. Ia berpikir bahwa analisis ilmiah juga bisa lho menemukan hukum yang mengatur kehidupan sosial kita. 

Dari sini lah, Comte memperkenalkan konsep positivisme kepada sosiologi, yaitu cara yang digunakan dalam memahami dunia sosial berdasarkan fakta ilmiah. Dengan begitu, Comte berharap masa depan bisa dibangun menjadi lebih baik lagi.

apa itu sosiologi zenius
Auguste Comte “Bapak Sosiologi” (dok. Wikimedia Commons)

Comte menjelaskan bahwa istilah sosiologi berasal dari bahasa Latin socius yang berarti kawan atau sesama dan logos dari bahasa Yunani yang berarti pengetahuan atau ilmu.

Dengan begitu, secara bahasa sosiologi adalah ilmu kawan. Lalu, gimana pengertian sosiologi menurut para ahli? Kita ambil pendapatnya Max Weber yang mengatakan bahwa:

“Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial”

Dari dalam negeri, ada pendapat Selo Soemardjan dan Soemardi yang mengatakan bahwa:

“Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur dan proses sosial, termasuk perubahan sosial”

Jadi, kalau kita coba simpulkan, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari masyarakat secara struktural. Masyarakat yang gimana nih? Masyarakat yang dimaksud merupakan sekelompok orang yang memiliki kehidupan sosial atau kebudayaan bersama dalam wilayah tertentu.

Kita ambil contoh ilmu Sosiologi diterapkan saat Hari Raya Idul Fitri ada budaya mudik di Indonesia. Nah, budaya itu hanya ada di negara-negara tertentu aja, gak semua negara ada budaya mudik. 

Contoh ilmu sosiologi lainnya adalah menggunakan batik atau kebaya kalau datang ke undangan pernikahan, kenapa sih kok gak pakai jas seperti orang-orang barat. 

Nah, itu merupakan contoh kajian sosiologi, yang mana sosiologi itu mempertanyakan dan mencoba mencari penjelasan tentang fenomena-fenomena yang ada di masyarakat.

Baca Juga: Belajar Sosiologi Buat Apa?

Fungsi Ilmu Sosiologi

Setelah elo tahu pengertian dari dan contoh ilmu sosiologi yang diterapkan sehari-hari, selanjutnya yang gak kalah penting yaitu elo harus tahu fungsi dari belajar ilmu sosiologi. 

Kenapa sih harus belajar sosiologi? Kenapa gak belajar ilmu alam aja? Apa sih ngaruhnya ke kehidupan gue?

  1. Sosiologi sebagai pembangunan

Fungsi ilmu sosiologi yang pertama akan kita bahas yaitu pembangunan. Dalam bermasyarakat, pasti akan ada perubahan yang terjadi. 

Nah, fungsi sosiologi dalam pembangunan yaitu membantu supaya perubahan tersebut dapat berjalan dengan baik, mulai dari membuat perencanaan, pelaksanaan, hingga proses evaluasi. 

Tujuannya supaya perubahan tersebut bisa memberikan dampak positif yang lebih besar kepada masyarakat.

  1. Sosiologi dalam perencanaan sosial

Maksud dari fungsi yang kedua ini yaitu sosiologi berusaha untuk mempersiapkan individu di dalam masyarakat supaya meminimalisir kemungkinan-kemungkinan timbulnya masalah sosial di kalangan masyarakat. 

Yap, kita semua tahu nih kalau di dalam masyarakat itu akan ada banyak perubahan, seperti perubahan pola perilaku, norma, dan nilai. Nah, perubahan sosial itu gak hanya membawa dampak positif, pasti ada aja dampak negatifnya. Maka dari itu, sosiologi berusaha untuk melakukan perencanaan sosial atau antisipasi.

  1. Sosiologi dalam penelitian

Dalam setiap masalah sosial, kita pasti ingin tahu kan faktor penyebabnya apa? Kita perlu data-data pendukung mengenai permasalahan tersebut, supaya kita bisa menemukan solusi yang paling cocok. 

Maka dari itu, dibutuhkan penelitian seperti mengumpulkan data atau wawancara untuk mengumpulkan informasi yang kredibel.

  1. Sosiologi dalam pemecahan masalah sosial

Dalam kehidupan masyarakat ada banyak sekali masalah, seperti tawuran antar pelajar, kemiskinan, dan pengangguran. Untuk menangani masalah tersebut, kita harus tahu faktor penyebabnya apa dan bagaimana solusinya. 

Nah, sosiologi berusaha menjawab faktor-faktor penyebab, dampak, dan solusi dari permasalahan sosial tersebut.

Cara Berpikir Sosiologi atau Imajinasi Sosiologi

Untuk memudahkan kita dalam memahami ilmu sosiologi, kita perlu adanya imajinasi sosiologi. Tapi sebelum itu, elo pernah gak sih memikirkan hal-hal seperti: 

Kenapa ya kok orang-orang lebih banyak yang ingin masuk IPA daripada IPS?” atau “Kenapa sih kita harus upacara bendera setiap hari Senin atau tiap ada momen penting?”. 

Kalau elo pernah dan sering mempertanyakan hal-hal seperti itu, berarti elo udah memegang prinsip imajinasi sosiologi yang pertama. Wah apa itu?

Prinsip 1: Seeing the strange in familiar

Konsep seeing the strange in familiar adalah ketika elo melihat hal-hal aneh yang udah familiar atau umum terjadi di masyarakat. Contohnya tadi, kenapa mayoritas orang ingin masuk IPA daripada IPS. 

Hal itu gak hanya berlaku di sekolah elo atau daerah elo aja, melainkan di sekolah dan daerah lain.

cara berpikir ilmu sosiologi atau imajinasi sosiologi zenius
Sosiologi imagination atau cara berpikir sosiologi (dok. ThoughtCo)

Prinsip 2: Seeing the general in particular

Setelah elo melihat hal-hal aneh yang ternyata umum, elo akan melihat pola dari fenomena tersebut. 

Misalnya dari contoh tadi, elo tahu polanya kalau ternyata banyak sekolah yang lebih banyak kelas IPA daripada IPS-nya. Kemudian, banyak lowongan kerja yang berasal dari jurusan IPA atau saintek.

Prinsip 3: Seeing personal choices in social contexts

Prinsip yang kedua sebelumnya hanya membahas pola yang udah elo temukan secara individu, dengan arti pola tersebut belum mengacu pada konteks sosialnya. 

Belum ada alasan atau penjelasan dari lingkup sosial atau masyarakatnya. Nah, ketika elo udah masuk ke prinsip ketiga, elo akan tahu nih kalau ternyata orang-orang lebih memilih IPA karena faktor dorongan keluarga. 

Selain itu, ada juga yang beralasan bahwa banyak lowongan kerja berasal dari jurusan IPA atau saintek.

Memang untuk mendapatkan data pasti kenapa suatu fenomena terjadi itu dibutuhkan penelitian mendalam. Tapi, ketika elo udah memiliki imajinasi sosial dengan ketiga prinsip di atas, setidaknya cara berpikir elo udah sosiologi banget deh. 

Hal itu akan memudahkan elo dalam melihat fenomena-fenomena yang ada di sekitar elo.

Oke, itu tadi penjelasan gue mengenai pengertian, prinsip dan contoh ilmu Sosiologi di kehidupan nyata. 

Oke deh, uraian di atas menjadi pengantar ilmu sosiologi untuk elo supaya lebih mudah dalam memahami sosiologi ke depannya. Karena memang luas banget bahasa Sosiologi, walaupun luas, tapi seru banget. 

Kita jadi tahu alasan-alasan dari fenomena yang terjadi di masyarakat, seperti kenapa kita mengadakan upacara bendera setiap hari Senin, gimana perbedaan kehidupan di Jakarta dan Papua, kenapa ibu-ibu lebih suka nonton sinetron atau drama, dan lain sebagainya.

Dan buat elo yang lebih suka belajar menggunakan video daripada tulisan, elo bisa langsung meluncur ke video materi belajar Zenius >> Pengantar Ilmu Sosiologi.

Selain Sosiologi, elo juga bisa akses semua mata pelajaran, ikut live class bareng Zen Tutor, terus ngerjain latihan soal kalo berlangganan paket belajar Zenius Aktiva Sekolah.Buat daftar, elo langsung aja klik banner di bawah ini ya.

Mengenal Seluk Beluk Ilmu Sosiologi - Materi Sosiologi Kelas 10 9

Baca Juga Artikel Lainnya

Materi Sosiologi Kelas 10: Sosialisasi

Materi Sosiologi Kelas 11: Stratifikasi Sosial

Materi Sosiologi Kelas 11: Multikulturalisme

Originally published: December 7, 2021
Updated by: Sabrina Mulia Rhamadanty

Apa Itu Pelajaran Sosiologi & Penerapannya Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Halo Sobat Zenius, apa kabar? Apa itu pelajaran Sosiologi? Kali ini gue mau sharing tentang pelajaran yang gue suka banget, yaitu Sosiologi. Simak sampai selesai ya!

Kalo elo semua suka baca Zenius Blog, pasti udah familiar, dong, dengan tulisan-tulisan keren para tutor Zenius. 

Topik-topiknya juga keren banget, dari Fisika, Sejarah, Matematika, Biologi, Teknologi, Linguistik, sampe Filosofi juga ada! 

Namun, kayaknya mata pelajaran Sosiologi belum terlalu banyak dikupas, nih. Makanya gue pengen banget nulis tentang Sosiologi.

Nah, sering banget, nih, kalo gue ketemu orang, mereka denger sebuah ilmu yang bernama Sosiologi aja udah “sensi” duluan. Kesannya kayak belajar sosiologi boring, gak explorable, dll. 

Padahal, kebanyakan orang belum tau mengapa pengetahuan sosiologi perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan sebenernya nih banyak banget yang dibahas di Sosiologi, meski cabang ilmu ini acap kali dianaktirikan karena banyaknya miskonsepsi serta salah kaprah.

Nah di sini gue akan buktikan ke elo bahwa Sosiologi adalah cabang ilmu yang menarik, gak kalah menariknya dengan cabang-cabang ilmu lain yang populer. So, izinkan gue untuk meyakinkan elo akan hal tersebut dengan spill tujuan belajar Sosiologi itu apa?

Sosiologi itu belajar tentang apa, sih? Banyak yang mikir bahwa Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang moral & etika. 

Gak sedikit juga yang menganggap bahwa Sosiologi itu “cuma” teori doang. Terus, yang bener apa, dong? Nah, di artikel ini, secara khusus gue akan mengupas sosiologi mempelajari tentang apa melalui berbagai kesalahpahaman orang terhadapnya.

Sosiologi itu Belajar tentang Etika

Sebelum menjelaskan maksud dari poin pembahasan pertama, mungkin gue perlu bahas dulu apa itu etika? 

Etika adalah salah satu cabang filsafat yang mempelajari tentang hal yang dianggap baik dan buruk. Dalam suatu masyarakat, etika menjadi standar penilaian atau penentuan moral.

Dalam Sosiologi, prinsip etika tertuang dalam konsep norma. Norma itu apa, sih? Norma adalah seperangkat aturan dalam masyarakat yang menentukan hal mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk. 

Sebagai contoh, di masyarakat Indonesia yang menghargai norma kesopanan, berbicara dengan cara yang tidak sopan kepada orang tua bisa dianggap sebagai sesuatu yang tidak etis (tidak sesuai dengan etika).

Tujuan  mempelajari ilmu sosiologi mempelajari tentang memahami apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh suatu masyarakat. Namun, itu bukan berarti bahwa mempelajari Sosiologi sama dengan belajar beretika, atau mempelajari bagaimana caranya menjadi seorang anggota masyarakat yang baik. 

Walau tentunya hal ini bisa saja dilakukan dengan menyesuaikan perilaku dan perbuatan kita dengan norma yang berlaku dalam suatu masyarakat yang kita amati. 

Dengan belajar Sosiologi, elo menjadi tahu konteks besar dalam pandangan bermasyarakat, tapi bukan berarti ilmu Sosiologi menyuruh atau menuntun kita menjadi masyarakat yang “baik” atau “buruk”.

Apakah ini berarti bahwa bertindak sesuai kehendak masyarakat adalah suatu hal yang tidak penting? Nggak juga. 

Sosiologi mengamati seseorang, memahami mengapa suatu fenomena sosial terjadi di masyarakat. Bahkan, jika memang perlu, akan lebih baik lagi jika orang tersebut dapat memahami bagaimana fenomena atau permasalahan sosial harus ditanggapi atau diselesaikan.

Kemudian, untuk dapat memahami mengapa suatu fenomena sosial terjadi pada masyarakat dengan sebaik-baiknya, seseorang yang mempelajari Sosiologi perlu “melepas” seperangkat nilai dan norma yang dimilikinya agar ia tidak memandang fenomena tertentu secara bias. 

Bias yang dimaksud adalah perbenturan yang terjadi di antara nilai dan norma yang dimiliki seseorang dengan hal yang diamatinya.

Misalnya nih, elo lagi mengamati fenomena transgender. 

Ketika  elo tumbuh di sebuah masyarakat yang secara dominan hanya mendikotomikan gender ke dalam dua kelompok—laki-laki dan perempuan—mungkin akan membuat elo nganggap bahwa perilaku para transgender menyimpang atau bahkan salah. 

Ketika elo sudah terlebih dahulu memberikan penilaian atau penghakiman bahwa perilaku para transgender tersebut menyimpang atau salah, bisa jadi elo malah melupakan tugas utama elo, yaitu memahami mengapa para transgender berperilaku dengan cara-cara tertentu atau pola-pola tertentu. 

Ingat, tujuan belajar sosiologi atau menjadi seorang sosiolog dan researcher dalam bidang sosiologi berarti elo harus menyampingkan nilai-nilai individu yang menurut elo secara pribadi benar, kemudian elo harus fokus pada metodologi yang valid dalam mengupas sebuah fenomena kemasyarakatan dari sudut pandang yang netral.

Dalam mempelajari masyarakat, penting agar kita menghindari pandangan yang bias. Alasannya sederhana, pandangan yang bias justru akan menjauhkan kita dari pemahaman yang obyektif tentang suatu masyarakat. 

Pembahasan ini berkenaan dengan salah satu sifat Sosiologi yang kita pelajari, yaitu non-etis. 

Seperti yang telah kita ketahui, sikap non-etis berarti memandang dan memahami fenomena sosial tanpa memberikan penilaian baik/buruk maupun benar/salah. 

Tujuan akhir dari bersikap non-etis adalah memahami masyarakat secara objektif atau tanpa bias, sehingga kita dengan sebaik-baiknya dapat memahami mengapa suatu fenomena sosial terjadi.

Jadi dari poin ini bisa disimpulkan bahwa Sosiologi itu sifatnya NON-ETIS, yang mana berarti seorang sosiolog tidak dapat menilai sesuatu fenomena kemasyarakatan itu adalah hal yang baik/benar/ataupun salah.

Sosiologi itu Bukanlah Ilmu Pengetahuan (Science)

Kayak yang gue bilang tadi, Sosiologi seringkali menjadi subyek yang dipandang sebelah mata, khususnya oleh mereka yang hanya mengenal subyek ini di sekolah. 

Salah satu alasan mengapa subyek ini seringkali dipandang sebelah mata bisa jadi karena isi bahasannya yang membicarakan fenomena sosial sehari-hari. Karena “hanya” membahas fenomena sosial yang biasa ditemui sehari-hari, Sosiologi seringkali dianggap tidak ilmiah.

Padahal ada alasan mengapa pengetahuan sosiologi perlu diterapkan dalam kehidupan sehari hari seperti ilmu pengetahuan lainnya, yaitu, Sosiologi menawarkan perspektif dan penjelasan yang lebih mendalam tentang fenomena yang terjadi setiap hari.

Selain itu, Sosiologi juga memenuhi salah satu syarat sebagai ilmu pengetahuan, yaitu memiliki metode penelitian—baik kualitatif maupun kualitatif. 

Sama seperti ilmu pengetahuan lain, teori-teori yang dihasilkan dalam Sosiologi juga dikumpulkan melalui metode-metode penelitian yang ilmiah.

Contohnya nih, misal seorang siswa mau mengetahui dampak penggunaan smartphone terhadap konsentrasi belajar teman-temannya di sekolah. 

Pertama-tama, ia merumuskan masalah atau latar belakang dari penelitian, yaitu sering digunakannya smartphone oleh teman-temannya untuk mengakses media sosial ketika belajar di kelas. 

Selanjutnya, ia akan menentukan teori-teori yang sesuai dengan tema penelitian, teori-teori ini nantinya akan digunakan sebagai acuan untuk mendukung argumen yang ia tetapkan pada bagian selanjutnya, yaitu hipotesis. 

Kemudian, sang siswa akan membuat dugaan awal atau hipotesis tentang kesimpulan penelitian, misalnya ia berargumen bahwa digunakannya smartphone di kelas berdampak buruk pada konsentrasi belajar. 

Tahap selanjutnya adalah mengumpulkan data, hal ini bisa ia lakukan dengan menyebar kuesioner ke teman-temannya di kelas. 

Data yang ia peroleh kemudian akan diolah dan dianalisis. Pada tahap ini sang siswa akan menguji kebenaran dari hipotesis yang telah ia buat di awal penelitian. 

Jika data sudah dianalisis, kemudian ia perlu menyusun kesimpulan yang menjawab apakah hipotesis yang telah dibuat di awal penelitian benar atau salah.

Teori-teori dalam Sosiologi dihasilkan dari pengumpulan fakta dan terus diuji secara ilmiah. 

Sebagai contoh, misalnya sebuah penelitian yang dilakukan sekitar dua puluh tahun lalu dengan judul “Pengaruh Ketergantungan Alkohol dengan Kecenderungan Bertindak Kriminal di Kota Bandung”. 

Ini berarti data harus dikumpulkan terlebih dahulu sampel penelitiannya di area geografis yang tepat, harus didefinisikan juga “ketergantungan alkohol” itu seberapa sering konsumsi alkoholnya. Perlu didefinisikan juga “tindakan kriminal” itu batasannya apa saja, dll.

Kemudian, jika penelitian dengan tema yang sama dilakukan sekarang dengan beberapa tahun kemudian, mungkin kesimpulan yang kita peroleh akan berbeda. Kenapa? Karena kondisi masyarakat pasti selalu berubah dan bergerak dinamis.

Jadi apakah Sosiologi itu bagian dari science? Ya tentu saja. Science itu kan upaya manusia untuk memahami segala sesuatunya bekerja, dan sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat dengan menggunakan metode penelitian dengan kaidah-kaidah metodologi ilmiah.

So, untuk melakukan penelitian dalam Sosiologi, nggak sembarangan, Sobat Zenius, elo harus tetap mengikuti kaidah-kaidah dan kerangka berpikir ilmiah.

Norma Merupakan Sebuah Kebenaran

Norma merupakan suatu kesepakatan konsensus tentang hal yang dianggap baik atau buruk dalam masyarakat. Walau “disepakati”, bukan berarti bahwa norma merupakan suatu kebenaran yang bersifat mutlak, ya.

Misalnya elo manggil orang tua temen elo dengan hanya menyebut namanya (sebut saja Bunga). 

Di masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai sopan santun, kemungkinan besar apa yang elo lakukan akan dianggap menyimpang dari norma. 

Berbeda jika elo tinggal di Amerika Serikat, perilaku memanggil orangtua dengan sebutan nama mungkin dianggap sebagai suatu hal yang wajar.

Apa yang dapat simpulkan dari contoh tadi? Norma merupakan sebuah konstruksi sosial, artinya ia dibangun berdasarkan kesepakatan setiap masyarakat. Kemudian, norma tidak bersifat absolut, melainkan kontekstual. 

Hal ini berarti keberlakuan norma di setiap masyarakat akan berbeda, sehingga apa yang dianggap baik maupun buruk di setiap masyarakat juga akan berbeda.

Jika kita telusuri secara kritis, norma juga tidak terlepas dari konteks politik. Hal ini berarti bahwa hal-hal yang disepakati sebagai norma dalam suatu masyarakat tidak akan terlepas dari siapa kelompok yang berkuasa di dalam masyarakat tersebut serta gagasan-gagasan apa yang ingin dilanggengkan untuk mempertahankan kekuasaan kelompok tersebut.

Kita ambil contoh “norma” yang berlaku di Jerman pada konteks kekuasaan Partai Nazi di tahun 1933-1945.

Di bawah kediktatoran Hitler, “norma” untuk membenci etnis Yahudi dikonstruksikan di tengah masyarakat Jerman. 

Ada berbagai pandangan yang menjelaskan mengapa kebencian terhadap etnis Yahudi dibangun oleh pemerintah Jerman pada masa tersebut. Salah satunya menurut seorang sejarawan Jerman bernama Ralf Georg Reuth adalah keterpurukan ekonomi Jerman yang dianggap turut disebabkan oleh etnis Yahudi. 

Dominasi Partai Nazi pada masa tersebut memberikan mereka kekuasaan untuk menciptakan suatu norma yang berwujud sikap anti-Yahudi.

Dari paparan di atas, dapat dilihat bahwa norma (kebencian terhadap bangsa Yahudi) yang dibangun di tengah masyarakat Jerman pada masa kepemimpinan Hitler tidak terlepas dari konteks politik. 

Kebencian terhadap bangsa Yahudi dibangun sebagai suatu “kebenaran” untuk mendukung kepentingan-kepentingan yang hendak dicapai oleh penguasa Jerman saat itu. 

Nah, dalam konteks belajar Sosiologi, elo bisa banget ngeliat efek dari “norma” ini sebagai salah satu faktor penyebab kekalahan Jerman di Perang Dunia II.

Contoh lain, mungkin elo familiar dengan jargon “penak jamanku, to” yang seringkali ditulis berdampingan dengan foto presiden kedua Indonesia, yaitu Soeharto. 

Jargon tersebut juga merupakan suatu bentuk “norma” yang tidak terlepas dari konteks politik. 

Jargon tersebut dapat dikatakan sebagai suatu norma karena ia merupakan suatu “kebenaran” yang disepakati oleh orang-orang yang mendukung keberlanjutan masa pemerintahan Soeharto.

Dua contoh yang telah dipaparkan memberikan gambaran kepada kita bahwa norma tidak mewakili suatu kebenaran absolut. “Kebenaran” dari norma yang berlaku dalam suatu masyarakat merupakan hasil konstruksi dan tidak luput dari usaha untuk mencapai atau mempertahankan kekuasaan kelompok tertentu. 

Hal ini berdampak pada “kebenaran” yang seringkali jadi mengacu pada apa yang dianggap benar oleh kelompok yang berkedudukan dominan dalam masyarakat.

Sosiologi itu Isinya Teori Doang

Banyak orang berpendapat bahwa tujuan belajar sosiologi hanya sebatas tentang memahami masyarakat secara teoretis dan nggak ada “langkah nyata” untuk menyelesaikan permasalahan dalam masyarakat. 

Pandangan ini kurang tepat, karena Sosiologi memiliki dimensi-dimensi yang lebih pragmatis dari hanya sekadar mengenal masyarakat melalui teori.

Meski nampak abstrak, sebenarnya Sosiologi bisa banget nawarin langkah nyata dalam merespons suatu fenomena. Langkah nyata ini biasanya diolah melalui salah satu cabang Sosiologi yang disebut sebagai Applied Sociology atau yang juga dikenal dengan nama Practical Sociology

Seperti Sosiologi pada umumnya, cabang yang dikenal sebagai Sosiologi terapan ini mempelajari masyarakat melalui penelitian serta teori-teori Sosiologi untuk memahami mengapa suatu fenomena sosial terjadi dalam masyarakat. 

Namun, tidak berhenti di situ, hasil penelitian yang telah dibuat kemudian digunakan sebagai acuan untuk melakukan perubahan sosial yang dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada di dalam masyarakat.

Sebagai contoh, seseorang melihat masalah yang dihadapi oleh masyarakat miskin dalam mengakses pendidikan. 

Dengan menggunakan teori Sosiologi tentang pendidikan, ia kemudian mengajukan solusi yang dapat mempermudah akses masyarakat miskin terhadap pendidikan. 

Solusi yang telah dirumuskan kemudian diwujudkan sebagai rekomendasi kebijakan pemerintah atau dapat juga direalisasikan melalui program Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang pendidikan.

Walaupun lebih berfokus pada penyelesaian masalah secara praktis, Applied Sociology ujung-ujungnya akan tetap mengacu pada teori atau hasil suatu penelitian yang telah dilakukan. 

Pada akhirnya, kesinambungan teori dan praktik tidak dapat dipisahkan dari satu dengan yang lainnya karena solusi yang baik hanya dapat dihasilkan ketika masalah yang hendak diselesaikan dapat dipahami secara mendalam, salah satu caranya melalui teori. 

Serba balanced, lah. Nggak “cuma” teori, kan?

Ahli Sosiologi Nggak Punya Banyak Pilihan Karier

Terus, kalo gue ngambil jurusan Sosiologi untuk kuliah, gue bisa kerja jadi apa?

Selama berkuliah, orang-orang yang lulus dari jurusan Sosiologi nggak hanya belajar teori, salah satu hal lain yang juga dipelajari secara mendalam adalah metode penelitian. 

Berbagai metode penelitian kuantitatif maupun kualitatif dipelajari untuk digunakan dalam berbagai macam penelitian sosial. 

Jadi, berbagai jenis pekerjaan yang berkenaan dengan penelitian sangat cocok untuk lulusan jurusan Sosiologi. 

Sekarang coba ya gue eksplorasi apa saja pekerjaan-pekerjaan tersebut dan kenapa lulusan jurusan Sosiologi ideal

Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial – Sosiologi Kelas 12

Penulis: Wintalia Witantri

Hai, semuanya! Pernah nggak ketika melihat smartphone yang elo punya sekarang, elo tiba-tiba kepikiran sama ponsel yang elo miliki sepuluh tahun lalu? Jauh banget nggak tuh perbedaannya?

Kayak gue, nih. Gue sekarang pakai ponsel Android yang membantu gue dalam banyak hal. Sementara itu, sepuluh tahun lalu, gue masih pakai ponsel QWERTY yang paling banyak cuman bisa dipake telepon sama SMS doang. Sinyal mentok EDGE, belum 4G atau bahkan 5G kayak sekarang. Paling jauh bisa main game uler-uleran, deh.

Elo merasakan ada perubahan dalam penggunaan gadget juga nggak? Nah, perubahan ini tuh termasuk dalam perubahan sosial, lho! Makanya kali ini, gue akan mengajak elo untuk cari tahu lebih lanjut soal bentuk-bentuk perubahan sosial dan contohnya.

Tapi, sebelum itu, kita coba korek-korek dulu apa sih sebetulnya perubahan sosial itu? Banyak banget definisi yang dibikin oleh para ahli, tapi simpelnya, perubahan sosial bisa elo pahami sebagai perubahan yang terjadi pada dan di dalam masyarakat. Bentuk-bentuk perubahan sosial bisa dibagi menjadi lima kategori, yakni bentuk perubahan sosial berdasarkan waktu, ukuran perubahan, perencanaan, dan cakupan sifatnya. Sekarang, langsung aja kita bahas semuanya.

contoh-bentuk-perubahan-sosial
Perubahan teknologi smartphone merupakan contoh perubahan sosial. (Arsip Zenius)

Perubahan Sosial Berdasarkan Waktu

Bentuk perubahan sosial ini dibagi jadi dua, yakni evolusi dan revolusi. Kita bahas yang pertama dulu, nih. Evolusi adalah perubahan yang membutuhkan waktu yang relatif lama. Langsung gue kasih contohnya ya biar kebayang.

Misal perubahan dari masyarakat berburu ke masyarakat agraris. Masyarakat berburu yang bisanya mengandalkan makanan dari binatang buruan dan tanaman berubah menjadi masyarakat agraris yang dapat memproduksi makanan sendiri. Perubahan ini nggak terjadi sekejap, tapi pelan-pelan melalui perubahan-perubahan yang lebih kecil.

bentuk-perubahan-sosial-berdasarkan-waktu
Perubahan masyarakat berburu menuju masyarakat agraris tidak berlangsung serentak. (Arsip Zenius)

Dengan kata lain, perubahan ini nggak terjadi serentak di mana masyarakat berburu semuanya mendadak jadi petani dalam proses yang singkat.

Baca juga: Agrikultur: Kesalahan Terbesar Manusia Sepanjang Sejarah?

Selain penjelasan dan contoh tadi, evolusi ini memiliki tiga arah. Ketiga arah tersebut adalah unilinear, universal, dan multilinear. Gimana aja, tuh?

Evolusi unilinear artinya perubahan masyarakat harus melalui tahap tertentu. Misalnya dari primitif ke tradisional ke modern. Ini beda dengan evolusi universal yang mengatakan bahwa masyarakat dapat melewati tahapan yang berbeda untuk berubah.

Yang terakhir adalah evolusi multilinear yang merupakan perubahan yang berbeda-beda dalam masyarakat, tetapi menuju arah yang sama. 

Sekarang kita bahas bentuk yang kedua yakni revolusi. Berlawanan dengan evolusi, revolusi ini adalah perubahan yang terjadi relatif cepat. Selain cepat, juga mengubah lembaga atau institusi sosial dalam masyarakat secara drastis.

Contohnya Revolusi Amerika yang terjadi dalam kurun waktu relatif cepat serta memberikan dampak pada wilayah tersebut. Amerika akhirnya nggak dijajah lagi oleh Inggris. Hal ini otomatis mengubah lembaga atau institusi sosial secara drastis pada waktu itu, dong.

Contoh lainnya adalah Revolusi Industri yang pertama. Gara-gara ditemukannya mesin uap, produksi barang jadi lebih cepat. Ini berdampak drastis sampai ke negara-negara di dunia, lho.

pabrik-dengan-mesin-uap
Mesin uap mengawali Revolusi Industri 0.1. (Arsip Zenius)

Baca juga: Perkembangan dan Sejarah Revolusi Industri 4.0 (Dari 1.0)

Nah, gimana, elo udah bisa belum nih mendeskripsikan bentuk-bentuk perubahan sosial berdasarkan kecepatan berlangsungnya? Kalau udah, sekarang kita pindah ke bentuk perubahan sosial berdasarkan ukuran perubahannya.

Perubahan Sosial Berdasarkan Ukuran Perubahan

Ada dua bentuk perubahan sosial berdasarkan ukuran perubahannya atau signifikansinya, yakni besar dan kecil. Perubahan sosial besar mengubah dasar kehidupan masyarakat. Ini karena perubahan ini mengubah lembaga atau institusi sosial dalam masyarakat.Contohnya aja ya, perubahan masyarakat tradisional menjadi serba online. Misal dulu kalau lapar tengah malem dan nggak punya stok mi instan, elo mungkin terpaksa harus menahan lapar sampai pagi.

bentuk-perubahan-sosial-mengubah-cara-hidup
Salah satu perubahan besar yang mengubah cara hidup masyarakat adalah munculnya aplikasi pesan makanan berbasis online. (Arsip Zenius)

Sekarang, tinggal pesan lewat aplikasi. Makin ke sini jadi berkembang mata pencaharian sebagai kurir pesan antar. Penyedia jasa makanan dan lain-lain pun juga mikirin cara untuk bisa mengintegrasikan usaha mereka dengan kondisi yang udah serba online. Ini mengubah institusi sosial dalam masyarakat.

Kalau perubahan kecil, ya tinggal kebalikannya: tidak membawa perubahan berarti dalam institusi sosial. Contoh gampangnya perubahan model smartphone elo yang beberapa tahun lalu kameranya cuman satu biji, sekarang jadi banyak. 

Nah, mau gimana pun model kamera smartphone elo berganti, kemungkinan besar nggak akan sampai mengubah tatanan hidup seluruh masyarakat, kan? Karena yang terjadi hanyalah tambahan variasi ponsel aja, bisa elo pilih sesuai selera dan kebutuhan masing-masing.

Selanjutnya, kita bahas bentuk perubahan sosial berdasarkan perencanaannya.

Perubahan Sosial Berdasarkan Perencanaan

Bentuk perubahan sosial ini dibagi jadi dua juga: direncanakan dan tidak direncanakan. Ada yang nyebut juga sebagai perubahan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki. Sederhananya, kalau yang direncanakan, artinya masyarakat punya kuasa untuk mengubah institusi atau lembaga sosial.

Contohnya adalah deklarasi Kemerdekaan Indonesia. Siapa sih yang dulu pengin Indonesia merdeka? Bagian dari masyarakat sendiri, kan?

Baca juga: Peristiwa Rengasdengklok – Latar Belakang, Kronologi, dan Tujuan

Sementara itu, perubahan sosial yang tidak direncanakan artinya masyarakat tidak punya keinginan atau rencana untuk melakukan perubahan sosial itu. Contohnya perubahan yang terjadi karena bencana alam.

Siapa sih yang mengharapkan kedatangan, misalnya, gempa bumi? Atau yang kita alami sekarang, deh. Pandemi. Banyak banget kan hal mendasar yang berubah ketika pandemi terjadi? Tapi apakah masyarakat punya rencana atas datangnya perubahan itu? Kemungkinan besar, enggak.

perubahan-sosial-yang-tidak-direncanakan
Penggunaan masker yang masif adalah satu bentuk perubahan sosial yang awalnya tidak direncanakan. (Arsip Zenius)

Gimana? Udah paham apakah maksud bentuk perubahan sosial jenis perubahan yang direncanakan dan tidak direncanakan? Nah, selanjutnya kita bahas bentuk perubahan sosial berdasarkan sifatnya.

Perubahan Sosial Berdasarkan Sifat Cakupannya

Bentuk perubahan sosial yang ini terdiri dari perubahan prosesual dan struktural. Untuk yang prosesual, perubahannya lebih terlihat sebagai penyempurnaan atau perbaikan. Misalnya kamera smartphone tadi. Dari yang awalnya beresolusi kecil lalu disempurnakan terus kualitasnya jadi semakin bagus.

Sementara itu, perubahan struktural adalah perubahan yang sifatnya mendasar. Perubahan ini mengubah cara hidup masyarakat. Ini mirip sama perubahan besar tadi, ya.

Contohnya perubahan dari era Orde Baru ke Reformasi. Perubahan ini membawa dampak yang berbeda-beda dari segi politik, hukum, ekonomi, sosial.

Baca juga: Tujuan Reformasi Indonesia dan Area Perubahannya – Materi Sejarah Kelas 12

Demikian tadi penjelasan tentang bentuk-bentuk perubahan sosial dan contohnya. Yang perlu elo tau, perubahan sosial dalam masyarakat ini merupakan perwujudan sifat manusia yang dinamis, selalu berubah. Perubahan ini juga bakalan bisa terus terjadi selama masyarakat itu terus berinteraksi.

Untuk mengecek pemahaman elo lebih lanjut, elo bisa coba kerjain contoh soal di bawah ini, ya!

Contoh Soal dan Pembahasan

Berikut merupakan contoh perubahan besar adalah ….

a. bergantinya tren gerakan tari di media sosial

b. perubahan mata pencaharian masyarakat

c. perubahan makanan yang sedang viral

d. pergantian genre musik yang digemari anak muda

e. bergantinya jenis game online yang banyak dimainkan

Pembahasan

Perubahan besar merupakan perubahan yang terjadi pada beberapa aspek kehidupan masyarakat, seperti ekonomi, politik, budaya, pendidikan dan sebagainya. Dari pilihan jawaban di atas, perubahan yang memiliki pengaruh terhadap aspek kehidupan masyarakat adalah perubahan mata pencaharian masyarakat. Maka dari itu, jawaban yang benar adalah b.

***

Oke, jadi gitu ya penjelasan mengenai bentuk-bentuk perubahan sosial beserta contoh-contohnya. Kalau elo mau mendalami materi ini lebih lanjut, bisa langsung klik materi bentuk perubahan sosial lewat banner ini, ya!

Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial Masyarakat - Materi Sosiologi Kelas 12 9

Supaya proses belajar lo semakin efektif, Zenius punya beberapa paket belajar yang bisa lo pilih sesuai kebutuhan lo. Yuk klik banner di bawah ini untuk berlangganan!

SKU-BELI-PAKET-BLJR

Mengenal Tokoh Sosiologi dan Teorinya

Halo Sobat Zenius, tokoh sosiologi siapa aja sih yang elo kenal? Di kesempatan kali ini gue mau ajak elo kenalan dengan tokoh sosiologi dan teorinya. Baca terus ya agar kenal dan paham ajarannya.

“Sejak kapan ilmu sosiologi ada?”

“Sebutkan tokoh tokoh sosiologi!”

“Siapa sih bapak sosiologi?”

Kalau elo udah baca tulisan gue sebelumnya tentang pengantar ilmu sosiologi di sini, mungkin elo udah tahu jawaban dari pertanyaan di atas. 

Yap, ilmu sosiologi ini memang terbilang baru jika dibandingkan dengan disiplin ilmu yang lain, sebab ia baru muncul sekitar hampir 200 tahun yang lalu oleh Auguste Comte. 

Meskipun ilmu sosiologi terbilang baru, tapi konsepnya sudah ada sejak zaman Yunani oleh para tokoh bernama Aristoteles, Plato, dan Socrates yang menanyakan perihal masyarakat yang baik itu seperti apa, dan bagaimana cara menentukan pemimpin.

Nah, itu sudah nyerempet-nyerempet ke bahasan sosiologi, kan?

Supaya lebih terstruktur dan mempermudah elo dalam mengenali para ahli sosiologi dan teorinya, gue akan menguraikannya di bawah ini.

Tokoh Pendiri Sosiologi

Sosiologi gak semata-mata lahir karena salah satu atau beberapa tokoh. Sosiologi lahir seiring dengan perkembangan manusia.

Namun, ada beberapa tokoh yang membuat sosiologi terlihat dan berkembang secara signifikan. 

Nah, siapa aja sih tokoh yang paling signifikan dalam perkembangan sosiologi dan mengapa mereka menjadi tokoh yang berperan signifikan?

Auguste Comte

Comte adalah tokoh yang paling terkenal dan dijuluki sebagai Founding Father-nya sosiologi. Memiliki nama lengkap Isidore Marie Auguste François Xavier Comte, ia lahir pada tanggal 19 Januari 1798 dan meninggal pada 5 September 1857.

tokoh sosiologi auguste comte zenius
Foto tokoh sosiologi Auguste Comte “Bapak Sosiologi” (dok. Wikimedia Commons)

Seperti yang udah gue sebutin sebelumnya, tokoh sosiologi yang dijuluki sebagai bapak sosiologi dunia adalah Auguste Comte.

Kenapa sih kok Comte ini dijuluki sebagai Bapak Sosiologi? Karena, Comte adalah tokoh yang paling berusaha untuk membuat sosiologi menjadi “The Science of Social Phenomena”. 

Maksudnya apa? Di artikel sebelumnya udah gue jelaskan mengenai sosiologi sebagai sains. Jadi, Comte merasa bahwa sains itu gak hanya mempelajari alam, melainkan juga dunia sosial. 

Ia berpikir bahwa analisis ilmiah juga bisa lho menemukan hukum yang mengatur kehidupan sosial kita. Dari sinilah muncul mengenai fisika sosial atau Social Physics yang berisi hukum-hukum atau rumus sosial.

Kemudian, dari fisika sosial muncul yang namanya “The Law of Three Stage”. Menurut Comte, masyarakat itu melalui tahapan-tahapan perubahan yang berbeda. Masing-masing tahapan akan menjelaskan fenomena masyarakat di sekitarnya.

Ketiga tahapan tersebut yaitu teologis, metafisis, dan positivis. 

Waduh, apaan tuh? Eitss, elo tenang aja, karena materi The Law of Three Stage ini akan elo pelajari lebih detail di Kelas 12 pada Bab Perubahan Sosial.

Oh iya Comte berasal dari Prancis ya. Jadi kalau elo ketemu pertanyaan tokoh dari Perancis yang dijuluki bapak sosiologi adalah…. Elo udah tau lah ya jawabannya.

Max Weber

Yang namanya ilmu sosial itu gak seperti matematika, selalu ada perbedaan pendapat di antara para ahli yang sama-sama bisa diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat.

Nah, sama halnya dengan tokoh yang kedua asal Jerman ini, yaitu Maximilian Karl Emil Weber atau yang lebih terkenal sebagai Max Weber (21 April 1864ー14 Juni 1920).

tokoh sosiologi max weber zenius
Foto tokoh sosiologi Max Weber “Understanding Father” (dok. Wikimedia Commons)

Tokoh sosiologi yang mengenalkan tindakan sosial adalah Max Weber. Weber dijuluki sebagai Understanding Father.

Menurutnya, ilmu sosial itu berbeda dengan ilmu alam, jadi kita gak bisa menggunakan fenomena menggunakan hukum. 

Nah, berbeda kan dengan pendapat Comte sebelumnya? Weber menggunakan pendekatan sosiologi menggunakan interpretasi.

Kalau sekarang elo tahu tentang “tindakan sosial”, nah itu merupakan hasil pemikiran Weber. 

Elo akan mempelajari tindakan sosial pada Bab Interaksi Sosial di Kelas 10. Selain itu, Max Weber juga menjelaskan bahwa kajian sosiologi gak hanya pada level makro (masyarakat), tetapi juga bisa dikaji pada level mikro (individu dalam suatu masyarakat).

Karl Marx

Gue ada pertanyaan nih, siapakah tokoh sosiologi klasik yang dikenal dengan pendekatan sosiologi konflik? Jawabannya bisa elo temukan di pembahasan tokoh sosiologi yang satu ini.

Karl Marx atau yang biasa dijuluki sebagai Godfather memiliki nama lengkap Karl Heinrich Marx. Ia lahir pada 5 Mei 1818 dan meninggal pada 14 Maret 1883. 

Kenapa sih kok dijuluki sebagai Godfather? Karena, Karl Marx merupakan tokoh sosiologi yang sangat penting bagi perkembangan ilmu sosiologi dan ilmu lain seperti ekonomi.

Ia memunculkan perspektif “konflik”, sebuah perspektif yang sangat baru dalam ilmu sosiologi.

tokoh sosiologi karl marx zenius
Foto tokoh sosiologi Karl Marx “Godfather” (dok. Wikimedia Commons)

Marx merumuskan “The Have vs Have Not”, maksudnya yaitu pihak yang memiliki (have) akan selalu konflik dengan pihak yang tidak memiliki (have not). Seperti piramida, pihak yang memiliki atau berkuasa jumlahnya lebih sedikit, namun posisinya lebih tinggi daripada pihak yang tidak memiliki. 

Hal itu karena yang have not merasa selalu dieksploitasi oleh pihak have, sedangkan have membutuhkan pihak have not untuk dieksploitasi supaya bisa mempertahankan posisinya.

Selama masih ada kelas antara have dan have not, maka konflik akan sulit dihentikan. 

Menurut Marx, salah satu cara menghentikannya yaitu dengan menghilangkan kelas sosial tersebut. Dari situ, Marx menjadi salah satu tokoh penting yang melahirkan paham komunisme. Nah, “konflik” ini ternyata merupakan fenomena yang banyak sekali terjadi di masyarakat. 

Elo akan belajar tentang perubahan sosial menurut Marx di Kelas 12. Dari artikel tentang tokoh sosiologi dan teorinya ini elo jadi tahu dikit-dikit bocoran materi apa yang akan elo dapat di kelas 11 atau 12 kan.

Selain itu, Marx juga melahirkan teori materialisme historis, di mana yang namanya materialisme sudah ada dan bisa dicari secara historis.

Sepanjang peradaban manusia, apa yang dianggap berharga dan gak berharga diukur dari materinya. Nah, ini nyambung ke have dan have not tadi.

David Emile Durkheim

Ngomong-ngomong tentang materi yang berhubungan dengan ekonomi, ada juga nih tokoh seperti Karl Marx yang nggak jauh membahas sosial dan ekonomi, yaitu David Emile Durkheim. \

Ia dijuluki sebagai Professor Father, lahir pada 15 April 1858 dan meninggal pada 15 November 1917.

tokoh sosiologi david emile durkheim zenius
Foto tokoh sosiologi David Emile Durkheim “Professor Father” (dok. Wikimedia Commons)

Durkheim melihat dari sisi revolusi industri, bukan perspektif konflik. Menurutnya, revolusi industri mengakibatkan perubahan solidaritas di dalam masyarakat.

Solidaritas masyarakat pada awalnya secara mekanik, kemudian berubah menjadi organik. Ini akan elo pelajari di Kelas 12 pada materi perubahan sosial.

Selain solidaritas, Durkheim juga membahas tentang bunuh diri (suicide). Ini merupakan pembahasan yang cukup jarang dibahas oleh para ahli lainnya, tapi dibahas oleh Durkheim.

Ia berpikir bahwa perubahan sosial bisa mendorong seseorang bisa melakukan bunuh diri. Jelas ya, meskipun bunuh diri merupakan tindakan otonom, tetapi ternyata bunuh diri ini ada kaitannya dengan perubahan sosial.

Tokoh Sosiologi yang Terlupakan

Hah, tokoh yang terlupakan? Memangnya ada? Sedih banget!

Yap, meskipun nggak se-terkenal para pendiri sosiologi, ternyata masih banyak tokoh sosiologi dan teorinya yang memiliki kontribusi cukup besar dalam ilmu sosiologi, tetapi jarang dibahas. 

Padahal kalau kita mau mendalami pemikiran para tokoh ini, kita akan mendapatkan insight yang super keren dan bermanfaat bagi hidup kita.

Hmm … ada siapa aja sih?

Ibnu Khaldun

Memiliki nama lengkap Abu Zayd ‘Abd ar-Rahman Ibn Muhammad Ibn Khaldun, lahir pada 27 Mei 1332 dan meninggal pada 17 Maret 1406. 

Sebelumnya, gue mau nanya dulu nih, apakah elo tahu istilah Muqaddimah? Istilah ini berasal dari Bahasa Arab, yang kalau dalam Bahasa Indonesia sama halnya dengan pengantar.

Nah, Ibnu Khaldun menulis buku yang berjudul Muqaddimah.

tokoh sosiologi ibnu khaldun zenius
Ibn Khaldun (dok. Wikipedia)

Ibnu Khaldun merumuskan tentang perbedaan warga kota menetap dan nomaden. Ia menjelaskan perbedaan masyarakat yang menetap di suatu tempat dengan yang hidupnya nomaden. 

Teori ini penting banget ketika kita akan membahas tentang peradaban manusia. Selain itu, Ibnu Khaldun juga menjelaskan teori tentang bagaimana suatu negara terbentuk.

Nah, keduanya penting banget kan bagi perkembangan ilmu-ilmu sosial, gak hanya sosiologi?

Harriet Martineau

Dari tadi kita membahas tokoh sosiologi yang kebetulan pria semua. Nah, pertanyaannya ada gak sih tokoh wanitanya? Jawabannya ada, yaitu Harriet Martineau atau yang dijuluki sebagai The Founding Mother (12 Juni 1802ー27 Juni 1876).

tokoh sosiologi wanita Harriet Martineau zenius
Harriet Martineau “Founding Mother” (dok. Britannica)

Harriet Martineau sering sekali dianggap sebagai sosiolog wanita pertama di dunia. Perannya gak kalah penting lho dari yang pria. Ia menulis buku Society in America yang membahas tentang posisi perempuan di masyarakat, jauh sebelum masyarakat menggaungkan istilah feminisme.

Selain itu, Harriet Martineau juga punya peran yang signifikan nih bagi perkembangan sosiologi. Ia menerjemahkan karya-karya Comte ke dalam Bahasa Inggris.

Yap, Auguste Comte menuliskan karya-karyanya dalam Bahasa Perancis, jadi peran Harriet Martineau sangat membantu banget nih bagi orang-orang yang mau mendalami dan memahami sosiologi.

Sayang banget ya padahal kontribusinya cukup besar dan signifikan namun tokoh sosiologi dan teorinya ini nggak cukup terkenal.

W.E.B. Du Bois

Penulis The Souls of Black Folk ini memiliki nama lengkap William Edward Burghardt Du Bois (23 Februari 1868ー27 Agustus 1963).

Ia merupakan African-American pertama yang mendapatkan gelar Ph.D. Kebayang gak sih, zaman dulu, masyarakat African-American itu sarat banget dengan yang namanya slavery atau perbudakan dan rasisme.

Nah, W.E.B. Du Bois bisa mendapatkan gelar Ph.D pada masa itu. Keren banget nggak sih?

tokoh sosiologi William Edward Burghardt Du Bois zenius
William Edward Burghardt Du Bois (dok. nps.gov)

Kaitannya dengan ilmu sosiologi, ia membahas tentang relasi antar ras di Amerika Serikat. Isu-isu relasi antar ras itu menjadi support bagi teori sosiologi.

Meskipun topik bahasan dia pada lingkup Amerika Serikat, namun pemikiran dia sangat terpakai di berbagai daerah lain, khususnya tentang rasisme.

Satu tahun setelah ia meninggal, pemerintah Amerika Serikat mengesahkan The United States Civil Rights Act.

Di dalamnya merupakan hal-hal yang diperjuangkan oleh Du Bois semasa hidupnya. Dengan adanya pengesahan tersebut, relasi antara kulit hitam dan putih mengalami perubahan yang signifikan di Amerika Serikat.

Itu tadi tokoh sosiologi dan teorinya baik yang cukup terkenal dan kurang terkenal. Bagaimana dengan tokoh sosiologi Indonesia? Ada nggak sih? Tentu ada dong, di Indonesia kita punya Selo Soemardjan, Soerjono Soekanto dan masih banyak lagi.

Semoga lewat artikel ini elo bisa menguraikan tokoh sosiologi dan teorinya. 

Kalau elo lebih menyukai belajar menggunakan video, Zenius punya video materi belajar tentang materi sosiologi ini. 

Cukup klik banner di bawah ini, elo udah bisa langsung belajar dan ngerti deh pokoknya!

Pelajari materi Sosiologi di video materi belajar Zenius
Klik dan langsung belajar ya!

Kemudian, buat Sobat Zenius yang mau belajar contoh soal dan pembahasan dari mata pelajaran lainnya, elo juga bisa, nih, berlangganan paket Aktiva Sekolah dari Zenius sekarang juga.

Dengan berlangganan paket belajar tersebut, elo juga berkesempatan ikut ujian try out sekolah hingga mengikuti sesi live class bareng Zenius per minggunya.

Menarik, kan? Yuk klik banner di bawah ini buat berlangganan!

Langganan Zenius

Sekian dulu ya pembahasan tentang tokoh-tokoh sosiologi. Kira-kira tokoh mana yang menjadi inspirasi bagi elo dalam kehidupan bermasyarakat?

Baca Juga Artikel Lainnya

Materi Sosiologi Kelas 10: Sosialisasi

Soal-soal Buat Pemanasan PTS Sosiologi Kelas 10 SMA

Lembaga Sosial: Materi Sosiologi Kelas 11

Originally published  December 14, 2021
Updated by Silvia Dwi & Maulana Adieb

Teknik Pengumpulan Data Penelitian – Materi Sosiologi Kelas 10

Ketika melakukan sebuah penelitian, data-data yang membuktikan terjadinya fenomena yang sedang dikaji sangatlah penting. Ada beberapa teknik pengumpulan data penelitian yang harus kamu ketahui. Apa aja? Yuk, kita pelajari bareng-bareng!

Apa Itu Teknik Pengumpulan Data?

Teknik pengumpulan data penelitian zenius education
Apa itu teknik pengumpulan data? (Arsip Zenius)

Setelah lo udah tau apa yang mau lo jadiin bahan penelitian, mau dikaitkan sama teori apa, pendekatan apa yang mau lo pake, hingga variabel dan hipotesisnya, kini saatnya lo mulai tahap pengumpulan data. Apa itu pengumpulan data? Waktu lo ngadain penelitian, pastinya lo punya yang namanya rumusan masalah. Nah, pengumpulan data inilah yang jadi proses penting untuk menjawab rumusan masalah yang lo angkat dalam penelitian lo—berdasarkan fakta yang udah lo dapetin di lapangan.

Sekarang, yuk kita lihat satu persatu cara penerapan, kelebihan, dan kekurangan masing-masing teknik tadi!

Teknik-Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian dapat dilakukan dengan cara observasi, wawancara, kuesioner (angket), dan studi pustaka. Kita bahas secara lebih detail tiap tekniknya, yuk!

Teknik Observasi

Teknik Pengumpulan Data Observasi Zenius
Dalam mengobservasi, lo gak melulu harus terjun ke lokasi karena ada metode nonpartisipatif. (Arsip Zenius)

Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan terhadap fenomena yang sedang kita teliti. Contohnya bisa kayak video social experiments sejenis ‘seperti apa sih reaksi orang-orang kalau melihat kakek-kakek kesulitan berjalan?’ yang mungkin pernah lo liat di YouTube. Jadi, yang diamati itu respon orang terhadap suatu hal tertentu. Tapi, dalam mengobservasi, lo gak melulu harus terjun ke lokasi, karena ada dua jenis observasi: partisipatif dan non partisipatif.

Jenis-Jenis Observasi

Pada observasi partisipatif, penelitinya ikut terlibat dalam fenomena yang diteliti. Sedangkan, kalo observasi non partisipatif, penelitinya hanya mengamati dari jauh.

Misalnya nih, lo mau bikin penelitian terhadap kebiasaan tertentu dari fans K-Pop. Kalo lo mau pake teknik observasi partisipatif, lo bakalan ikutin keseharian fans K-Pop mulai dari dengerin musiknya, ngikutin berita tentang artis-artisnya, dan mungkin juga bikin akun khusus buat fangirling atau fanboying.

Tapi, kalo lo mau pake observasi non partisipatif, lo cukup mengamati kegiatan fans K-Pop ini dari jauh aja.  Lo bisa memakai bantuan media audio dan visual untuk merekam data. Atau lo juga bisa melakukannya secara online, di Twitter misalnya, jika fans K-Pop di Twitter memang menjadi subjek penelitian lo.

Penerapan Observasi

Kalo lo mau pake teknik pengumpulan data observasi, ada 3 langkah yang perlu lo lakukan. Pertama, perencanaan. Lo mau meneliti apa? Gimana caranya lo dapet akses supaya bisa melakukan observasi?

Misalnya lo mau melakukan observasi di sebuah sekolah, lo harus minta izin dulu sama pihak sekolahnya sebelum bisa melakukan observasi. Atau, misal lo mau mengobservasi di Twitter, apakah lo harus izin Elon Musk dulu? Enggak perlu kalau ini sih, ya. Lo bisa izin langsung ke orang yang bersangkutan bahwa lo akan melakukan observasi terhadap mereka.

Langkah kedua adalah persiapan alat. Media apa yang bakalan lo pake buat merekam data yang lo kumpulin dari lapangan? Apakah lo butuh kamera untuk ambil foto atau video? Atau lo mau tulis datanya di catatan lapangan? Peralatan ini penting buat lo persiapkan agar lo bisa memastikan bahwa data yang lo cari bisa terekam dengan baik supaya berikutnya bisa lo telaah lebih lanjut.

Finally, eksekusi observasinya. Dalam melaksanakan observasi, pastikan bahwa lo bener-bener menangkap seluruh data yang lo butuhkan dalam penelitian lo. Jangan sampe ada yang ketinggalan. Contoh penelitian kebiasaan fans K-Pop tadi, mungkin lo bisa dokumentasikan juga interaksi antar fans yang bisa jadi data buat penelitian lo.

Kelebihan dan Kekurangan Observasi

Teknik observasi punya kelebihan dan kekurangan yang bisa lo jadiin bahan pertimbangan buat penelitian lo nanti. Kita mulai dari kelebihannya dulu. Observasi, tidak seperti teknik lainnya yang mengharuskan lo buat mempersiapkan beberapa hal sebelumnya, relatif sederhana. Lo tinggal dateng ke lokasi, mengamati, dan mendokumentasikan–gak seribet teknik lainnya.

Lalu, datanya juga akurat karena lo bisa dapet data langsung dari lapangan sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi. Terakhir, lo juga gak perlu bergantung sama laporan atau jawaban dari orang lain karena datanya lo dapetin langsung dari hasil pengamatan lo sendiri.

Tapi, observasi juga punya kekurangan. Yang pertama adalah isu etik–ketika lo mau melakukan pengamatan, lo harus dapet akses buat bisa mengamati fenomena yang lo teliti, kan? Tapi pada kenyataannya, dapetin akses tuh gak semudah itu. Misalnya lo mau mengamati tentang geng motor, tapi ternyata mereka gak mau diamati. Jadi susah, deh.

Kedua, data yang lo dapet kurang reliable karena data yang lo dapet bisa aja berubah seandainya yang mengobservasi subjek berbeda, atau subjek yang sama di waktu yang berbeda, ada kemungkinan datanya juga bakal berubah.

Yang ketiga adalah isu bias dan persepsi pribadi. Lo sebagai peneliti mungkin punya pandangan tersendiri terhadap sesuatu, dan itu bisa aja lho, mempengaruhi dokumentasi observasi lo.

Lastly, observasi lebih menyita waktu dan biaya. Lo perlu waktu beberapa lama buat observasi. Lo juga butuh uang buat beli peralatan, misalnya kamera, dan mungkin juga buat transportasi dan akomodasi selama lo observasi.

Lo bisa nonton lebih lanjut tentang kelebihan dan kekurangan observasi di video belajar Zenius ini.

Teknik Wawancara

Teknik Pengumpulan Data Wawancara
Ada dua jenis wawancara, yakni wawancara terstruktur dan tidak terstruktur. (Arsip Zenius)

Wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan cara tanya jawab bersama responden atau narasumber yang terpercaya.

Alasan peneliti menggunakan teknik wawancara terhadap responden adalah untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam dari mereka. Lo bisa lebih menggali dan memahami pendapat narasumber lo tentang pengalaman, perilaku, dan lain-lain yang berhubungan dengan penelitian lo.

Misalnya lo mau meneliti tentang cara belajar anak-anak berprestasi di suatu angkatan. Lo bisa pake teknik wawancara buat menggali kebiasaan belajar mereka dengan lebih dalam. Contoh jawaban dari narasumbernya bisa kayak gini nih, “Aku suka belajar dari video dan artikel yang ada di Zenius.”

Jenis-Jenis Wawancara

Ada dua jenis wawancara, yakni wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Nah, kita mulai dari yang pertama dulu, ya.

Pada wawancara terstruktur, lo sebagai peneliti bakal nyiapin daftar pertanyaan dulu sebelum ketemu sama narasumbernya. Jadi di daftarnya tuh bisa mendetail banget, misalnya: Siapa nama lo? Lo sekarang kelas berapa? Hobi lo apa? Pelajaran kesukaan lo apa? Lo biasanya belajar jam berapa? Dan seterusnya.

Kalo wawancara tidak terstruktur, peneliti tetap ada persiapan sih, tapi biasanya yang dicatet cuma poin-poinnya aja yang nantinya akan dikembangkan jadi pertanyaan ketika udah ketemu sama narasumbernya. Misalnya di catatan lo cuma ada tulisan biodata, kebiasaan belajar, kesulitan belajar, dan hasil belajar. Nah nanti waktu ketemu narasumber, baru lo bikin pertanyaannya dengan berpatokan sama poin-poin tersebut.

Baca juga: Materi Sosiologi Kelas 10: Sosialisasi

Penerapan Wawancara

Teknik pengumpulan data dengan wawancara bisa dilakukan secara offline maupun online. Langkah pertama dari wawancara adalah lo membuat janji dulu sama narasumbernya. Mungkin ada beberapa narasumber yang bisa lo temui dadakan, tapi lebih baik kalo janjian dulu kan, biar ada waktu pastinya.

Tentukan lo mau ketemu jam berapa? Online atau offline? Kalo online, lewat e-mail, atau pakai Zoom atau Google Meet? Atau kalo offline, mau dimana? Ini lo diskusiin sama narasumbernya, yaps! Pastikan juga untuk mengutamakan kenyamanan narasumber, ya. Karena sebagai peneliti lo membutuhkan bantuan mereka.

Berikutnya adalah menyiapkan bahan. Lo mau wawancaranya terstruktur atau tidak terstruktur? Kalo terstruktur, lo harus siapin daftar pertanyaannya dengan mendetail. Jika lo memilih wawancara online misalnya lewat e-mail, akan lebih baik jika pertanyaannya dibikin terstruktur sehingga bisa dijawab dalam sekali waktu.

Sementara itu, kalo lo menerapkan wawancara tidak terstruktur, pastiin lo udah catet semua poin yang harus kecover dalam wawancara tersebut. Jika lo melakukan wawancara online lewat aplikasi meeting, menerapkan wawancara tidak terstruktur begini akan jauh lebih produktif karena tektokannya lebih gampang, tidak seperti via e-mail.

Akhirnya, eksekusi, deh! Mulai deh ngobrol sama narasumbernya. Jangan lupa buat mendokumentasikan wawancaranya, ya. Lo bisa lakuin ini dengan mencatat jawaban-jawaban narasumbernya atau direkam menggunakan perekam suara. Sebelumnya, pastikan juga kalau narasumber tidak keberatan kalau jawabannya direkam untuk kebutuhan dokumentasi dan penelitian lo.

Kelebihan dan Kekurangan Wawancara

Kita bahas kelebihan wawancara dulu, ya. Yang pertama adalah, data dari wawancara itu relatif bebas bias, khususnya dari sisi peneliti. Karena lo akan berusaha untuk menerjemahkan dan menceritakan kembali apa yang telah disampaikan oleh narasumber.

Berikutnya, wawancara itu fleksibel, ya. Lebih gampang aja gitu mengatur waktu janjiannya, bisa online, bisa offline, jamnya juga bisa dengan mudah disesuaikan. Kalaupun nggak ketemu waktunya, lo bisa melakukannya dengan mengirimkan daftar pertanyaan. Kemudian, lo memberikan narasumber batas waktu tertentu, misalnya seminggu, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan lo.

Cara ini juga menghemat cost. Misal narasumber lo beda pulau, lo nggak perlu jauh-jauh pergi ke sana. Asalkan narasumber lo setuju ya untuk melakukan wawancara misalnya lewat aplikasi kayak Zoom atau Google Meet.

Selain itu, kalau lo melakukan wawancara secara online maupun offline, kadang-kadang bisa muncul bahan pembicaraan lain atau mungkin pertanyaan yang lo lewati karena dirasa sudah terjawab. Terus yang gak kalah asyiknya, setelah bertemu dengan narasumber, lo bisa aja lho berakhir temenan sama mereka. Lumayan, kan, menambah relasi?

Tapi, kalo lo gak hati-hati, kelebihan terakhir itu bisa memunculkan isu objektivitas. Bisa aja kalo lo wawancara orang yang baru lo kenal, mereka bakal cenderung lebih ‘menjaga’ jawabannya. Sedangkan kalo lo udah kenal sama narasumbernya, jawaban mereka bisa lebih blak-blakan. Nah, disini lo harus hati-hati dalam menginterpretasikan datanya agar bisa objektif.

Kekurangan berikutnya adalah adanya reaksi negatif. Lo harus siap dalam menghadapi sikap narasumber terhadap permasalahan yang kita angkat. Kadang-kadang reaksi mereka bisa negatif, tapi kita pun harus hati-hati agar, baik secara sadar maupun tidak, terhindar dari memberikan reaksi negatif kepada narasumber.

Jika lo melakukan wawancara secara online, kekurangannya adalah adanya kemungkinan lo kesulitan membaca komunikasi nonverbal dalam bentuk gestur dan ekspresi narasumber dengan jelas. Selain itu, lo kemungkinan akan otomatis membatasi narasumber yang lo ambil. Melakukan wawancara online kan artinya lo mewawancarai mereka yang punya akses terhadap teknologi.  Jadi, mereka yang tidak memiliki akses tersebut kemungkinan tidak bisa masuk ke dalam daftar narasumber lo.

Teknik Kuesioner (Angket)

Teknik Pengumpulan Data Kuesioner Zenius
Dalam banyak kasus, peneliti gak perlu bertatap muka sama responden dengan metode kuesioner. (Arsip Zenius)

Kuesioner atau angket itu teknik pengumpulan data dengan cara memberi sejumlah pertanyaan, umumnya dalam bentuk tertulis, kepada subjek penelitian. Cara mengumpulkan data dengan teknik kuesioner ini bisa dilakukan secara offline maupun online. Pada dasarnya, caranya sama aja, sih. Bedanya, kalo online lo membagikan pertanyaan-pertanyaan itu lewat platform seperti Google Form, Survey Monkey, dan lain sebagainya. 

Kemudian kuesioner ada dua bentuk, yaitu angket tertutup, angket terbuka, dan angket campuran.

Baca Juga: Teknik Pengolahan Data Kualitatif – Materi Sosiologi Kelas 10

Jenis-Jenis Kuesioner

Pada angket tertutup, pertanyaan-pertanyaannya tuh udah ada pilihan jawaban yang disediakan oleh peneliti. Misal pertanyaannya: yang mana situasi belajar yang lo suka? Terus pilihan jawabannya: a. Sendiri di rumah b. Sendiri di luar  rumah c. Sama temen di rumah d. Sama temen di luar rumah. Nah, nanti partisipannya hanya bisa memilih salah satu dari jawaban yang udah diberikan.

Kalo angket terbuka, pertanyaannya tuh open ended, jadi responden diberi kebebasan dalam memberikan jawaban sesuai dengan pendapat mereka. Misal pertanyaannya “gimana situasi belajar yang bikin lo paling nyaman?” dan mereka bisa jawab “gue suka belajar subuh-subuh pas rumah lagi sepi-sepinya karena masih pada tidur.”

Sedangkan, angket campuran itu ada pilihan jawaban dan juga kolom jawaban yang bisa diisi sesuai kehendak responden. Misalnya di pilihan angket tertutup tadi doi pilih jawaban a, dibawahnya bisa disertai kolom, alasannya apa kok doi milih a?

Kelebihan dan Kekurangan Kuesioner

Dari kelebihannya dulu, yang pertama adalah peneliti gak perlu bertatap muka sama responden. Jadi, lo bisa nyebarin kuesionernya dimana aja, bisa lewat temen, bisa online lewat media sosial, atau bahkan di print terus di kirimkan ke rumah mereka. Kedua, jangkauan kuesioner lebih luas karena lebih mudah disebar apalagi kalo bentuknya online. Ketiga, datanya bisa diperoleh dalam satu waktu secara serentak dari orang-orang yang udah nerima kuesioner lo.

Kekurangannya adalah yang pertama, lo gak tau jawabannya jujur apa enggak. Kadang-kadang, ada lho orang yang asal jawab aja biar cepet selesai. Gue tau karena gue pernah gitu, hehe. Kedua, bisa aja dari sekian kuesioner yang lo kirim itu gak semuanya kembali ke lo. Gak semuanya menjawab. Dan terakhir, kadang ada jawaban yang mungkin terlewatkan atau sengaja dilewatkan oleh respondennya.

Baca Juga: Pengertian Teknik Sampling dalam Penelitian – Materi Sosiologi Kelas 10

Teknik Studi Pustaka

Teknik Pengumpulan Data Studi Pustaka Zenius
Tantangan dari studi pustaka adalah sumber datanya bisa aja udah outdated banget.
(Arsip Zenius)

Kalo dalam studi pustaka, data yang lo ambil sumbernya bukan dari orangnya

Upaya Penyelesaian Konflik Sosial – Materi Sosiologi Kelas 11

Guys, elo masih ingat nggak sih, tentang berita seorang nenek yang mencuri buah kakao dari sebuah perkebunan? Yap, berita ini dulu sempat viral nih, karena si nenek dijatuhi hukuman 3 tahun penjara. Padahal, masih banyak upaya penyelesaian konflik sosial lainnya lho, selain menempuh jalur persidangan. 

Nah, kira-kira permasalahan apa saja ya, yang terjadi di Indonesia dan upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan konflik sosial? Yuk, kita simak artikel ini!

Upaya Penyelesaian Konflik Sosial

contoh upaya penyelesaian konflik sosial
Upaya penyelesaian konflik sosial (Dok. Pixabay)

1. Mediasi

Selama ini, kita sering mendengar istilah mediasi, namun pernahkah kalian bertanya-tanya apa itu mediasi dalam sosiologi? 

Jadi, mediasi merupakan cara penyelesaian konflik yang melibatkan bantuan pihak ketiga (bersifat netral) sebagai penengah (kasih anjuran). 

Contoh mediasi yakni ketika Dini yang ketahuan mencuri kue di toko, tetapi ia tidak dituntut oleh pemilik toko ke ranah hukum karena ditengahi oleh Pak Joko. 

2. Arbitrase

Pengendalian konflik dengan cara arbitrase berarti menyelesaikan konflik dengan bantuan pihak ketiga (bersifat netral) yang bertindak sebagai pemberi keputusan. Keputusan-keputusan yang dibuat disertai dengan perjanjian tertulis dari pihak yang berkonflik. 

Contoh arbitrase yakni ketika wasit mengganjar kartu merah untuk Rano pasca keributannya dengan Aldo. Di sini, wasit bertindak sebagai pihak ketiga yang netral. Selain itu, keputusan wasit juga bersifat mutlak dan harus dipatuhi. 

3. Adjudikasi

Adjudikasi merupakan cara penyelesaian konflik melalui jalur pengadilan (sidang). Contoh adjudikasi yakni ketika hakim memutuskan hak asuh anak diberikan kepada sang istri setelah perceraian. 

Masih ingat apa saja yang menyebabkan konflik sosial? Kalau mau pelajarin lagi, baca artikel berikut, ya: Faktor Penyebab Konflik Sosial.

4. Kompromi

penyelesaian konflik kompromi
Dengan berkompromi, konflik bisa mereda dengan berkurangnya tuntutan dari kedua belah pihak (Dok. Pixabay)

Upaya penyelesaian konflik sosial selanjutnya adalah dengan cara kompromi. Kompromi adalah bentuk penyelesaian konflik dengan adanya upaya masing-masing pihak untuk mengurangi tuntutan. 

Contoh kompromi adalah ketika Mia terlibat kecelakaan dengan Diana, lalu mereka pun saling menuntut ganti rugi. Namun, pada akhirnya mereka saling mengikhlaskannya. 

5. Konsiliasi

Konsiliasi adalah bentuk penyelesaian konflik dengan adanya upaya mempertemukan pihak yang berkonflik. Contoh konsiliasi yaitu ketika Pak RT memanggil Budi dan Damar setelah rebutan lahan parkir. 

6. Koersi

penyelesaian konflik koersi adalah
Bentuk penyelesaian konflik dengan ancaman bisa disebut dengan koersi (Dok. Pixabay)

Koersi merupakan bentuk akomodasi dengan menggunakan ancaman, baik fisik maupun psikologis agar pihak lain bertindak sesuai yang diharapkan. Contoh koersi yakni ketika polisi menggunakan gas air mata sebagai upaya menghentikan demonstrasi yang ricuh. 

7. Stalemate

Apa itu stalemate? Stalemate adalah situasi di mana ketika kedua belah pihak yang berkonflik memiliki kekuatan yang seimbang sehingga konflik terhenti pada titik tertentu. Contoh stalemate yakni berakhirnya Perang Dingin antara Amerika Serikat vs Uni Soviet, hingga konflik Korea Utara dan Korea Selatan.

Resolusi konflik termasuk dalam materi Konflik Sosial kelas 11. Buat yang mau baca ulang artikel konsep dasar konflik sosial, klik link berikut: Pengertian Konflik Sosial dan Teori Kekerasan.

cta banner donwload apps zenius

Download Aplikasi Zenius

Tingkatin hasil belajar lewat kumpulan video materi dan ribuan contoh soal di Zenius. Maksimaln persiapanmu sekarang juga!

icon download playstore
icon download appstore
download aplikasi zenius app gallery

Contoh Soal Upaya Penyelesaian Konflik Sosial

1. Konflik dapat terjadi di masyarakat. Meski demikian, cara penyelesaian konflik tidak boleh dengan cara kekerasan. Yang bukan merupakan cara penyelesaian konflik di dalam masyarakat adalah…

A. Stalemate

B. Mediasi

C. Konsiliasi

D. Koersi

E. Arbitrasi

Koersi adalah penyelesaian konflik melalui proses-proses koersif atau paksaan, sehingga jawaban yang tepat adalah D. Koersi.

*****

Yeay, selesai juga nih, pembahasan kita mengenai cara penyelesaian konflik sosial.Masih kurang? Elo bisa nonton video pembahasan materi ini lewat penjelasan Zen Tutor yang seru. Caranya tinggal klik gambar di bawah ini, ya!

Belajar upaya penyelesaian konflik di Zenius

Supaya proses belajar lo semakin efektif, Zenius punya beberapa paket belajar yang bisa lo pilih sesuai kebutuhan lo. Di sini lo nggak cuman mereview materi aja, tetapi juga ada latihan soal untuk mengukur pemahaman lo. Yuk klik banner di bawah ini untuk berlangganan!!

Langganan Zenius

Originally Published: January 12, 2022
Updated by: Arum Kusuma Dewi

Teori Solidaritas Emile Durkheim – Materi Sosiologi Kelas 11

Hai sobat Zenius! Gue ada pertanyaan nih– pernah nggak elo liat K-pop Idol kesukaan baru keluar album baru, terus elo patungan sama temen demi tukeran photo card? Atau yang lebih sederhana, elo janjian buat nobar pertandingan bola tim favorit sama temen geng lo.  

Nah, hal yang elo lakukan bareng teman, komunitas, bahkan masyarakat yang didasari suatu kesamaan sebenarnya merupakan bagian dari kesadaran kolektif. 

Ketika kalian punya kesamaan, mulai dari cita-cita, keyakinan bahkan kesukaan, kesadaran ini akan membawa elo untuk saling percaya dan membantu satu sama lain hingga membentuk solidaritas. 

Emile Durkheim yang dikenal sebagai bapak sosiologi modern punya teori menarik mengenai solidaritas. Yuk, kita dalami dulu pengertian teori solidaritas Emile Durkheim.

Teori Solidaritas Emile Durkheim

Durkheim mengatakan bahwa solidaritas merupakan perasaan saling percaya antara para anggota dalam suatu kelompok atau komunitas. Solidaritas ini merupakan bagian penting dalam hubungan antara individu dengan masyarakat. 

Berdasarkan buku berjudul “The Division of Labour in Society” yang ditulis Durkheim pada tahun 1964, pertumbuhan dalam pembagian kerja meningkatkan suatu perubahan dalam struktur solidaritas sosial mekanik ke solidaritas organik. (Santoso, S., & Harsono, 2014).

Wait, ini apa solidaritas mekanik dan organik? Mekanik mesin? Organik as in– bahan organik?

Hehe nggak dong. Jadi, Durkheim itu membedakan solidaritas menjadi dua macam, yaitu solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Mari kita kupas satu persatu dari pengertian, ciri-ciri dan contohnya.

Baca juga : Kelompok Sosial – Materi Sosiologi Kelas 11 SMA

Pengertian Solidaritas Mekanik

Solidaritas mekanik merupakan bentuk solidaritas yang didasarkan pada kesamaan kesadaran kolektif yang dimiliki antar individu dengan sifat-sifat dan pola-pola normatif yang sama. 

Nah, mekanik di sini nggak berkaitan sama mesin atau hal-hal modern ya. Justru solidaritas mekanik merupakan sebuah solidaritas yang tercipta di masyarakat tradisional.

Misalnya, di sebuah desa pinggir pantai yang dihuni para nelayan. Masyarakatnya terbiasa melakukan suatu hal bareng-bareng. Mulai dari berlayar bareng, cari ikan bareng, pulang bareng, jualan bareng, pokoknya kompak deh kayak elo dan bestie lo yang janjian belajar pake Zenius hehe. Nah, kegiatan yang dilakukan bersama-sama ini merupakan salah satu bentuk solidaritas mekanik.  

Sumber utama solidaritas mekanik nggak cuma dari profesi dan tempat elo tinggal. Kepercayaan, cita-cita, komitmen serta moral yang sama juga membangun rasa solidaritas antar individu. Hal ini terjadi karena para masyarakat ini memiliki perasaan dan kepentingan yang sama, ini lah kenapa solidaritas mekanik sering terjadi di masyarakat homogen.

Oh iya, elo juga perlu tahu kalau dalam masyarakat yang memiliki solidaritas mekanik hukum yang dibentuk biasanya bersifat represif. Artinya, jika seorang individu memiliki pandangan berbeda atau melakukan sesuatu yang menyimpang dari moral yang dipegang masyarakat maka ia bisa dikucilkan atau kena sanksi. 

Pengertian Solidaritas Organik

Nah, solidaritas organik merupakan kebalikan dari solidaritas mekanik karena solidaritas organik justru lahir dari sebuah perbedaan. Hal ini terjadi seiring dengan berkembangnya masyarakat ketika suatu pembagian kerja menjadi lebih kompleks. 

Biasanya solidaritas organik terjadi di perkotaan di mana setiap orang memiliki berbagai macam pekerjaan dengan tanggung jawab dan kebutuhan yang berbeda-beda. Semakin beragamnya pembagian kerja maka tingkat saling ketergantungan makin tinggi. 

Eh gimana? Korelasinya apa ya?

Oke, biar lebih gampang gue kasih contoh. Anggap nih elo adalah seorang marketer di sebuah perusahaan, dengan spesifikasi pekerjaan yang elo punya,  kemampuan elo di bidang penjualan jago banget. Tapi misal, ketika elo sakit gigi skill yang elo punya nggak bisa memenuhi kebutuhan elo untuk mengobati sakit gigi. Makanya elo jadi butuh kehadiran dokter gigi kan? 

Masing-masing individu dalam masyarakat ini memiliki keahlian tertentu dalam suatu pekerjaan. Hal yang mereka lakukan terbatas hanya berdasarkan pekerjaannya. Jadi, ketika ada kebutuhan di luar batas pekerjaannya dia membutuhkan orang lain yang bisa melakukan pekerjaan itu. Dari sini setiap individu dengan keterampilan yang berbeda-beda pun saling bekerja sama demi memenuhi kebutuhan masing-masing. 

Dalam masyarakat solidaritas organik hukum yang dipakai berbentuk restitutif. Berbeda dengan hukum represif hukum ini bertujuan bukan untuk menghukum melainkan untuk mengembalikan aktivitas normal dari suatu masyarakat yang kompleks. Pelanggaran yang terjadi akan dilihat sebagai serangan pada individu atau kelompok tertentu dari masyarakat bukannya terhadap keseluruhan sistem moral yang dianut. 

Teori solidaritas emile durkheim
solidaritas mekanik dan solidaritas organik

Perbedaan Solidaritas Mekanik dan Solidaritas Organik

Oke,sebelum kita lanjut ngomongin ciri solidaritas organik dan mekanik, biar pemahaman elo lebih mateng gua ada tabel yang bisa bantu elo membandingkan perbedaan karakter antara solidaritas organik dan solidaritas mekanik.

PenandaSolidaritas MekanikSolidaritas Organik
MasyarakatTradisionalModern
Pembagian KerjaRendah, GeneralisasiSpesialisasi
Sifat HukumRepresifRestitutif
Kesadaran KolektifTinggiRendah
AksentuasiPersamaan KolektifPerbedaan Individu
Sumber: Moderasi – Jurnal Studi Ilmu Pengetahuan Sosial,Volume I, No. 2

Ciri-Ciri Solidaritas Mekanik 

Elo bisa mengindentifikasi kelompok solidaritas mekanik dengan memahami kesamaan khas yang mereka miliki, mulai dari pakaian, garis keturunan, hobi, dll. Simak yuk ciri-ciri solidaritas mekanik berikut ini: 

  • Populasi sedikit
    Populasi sedikit artinya kelompok solidaritas mekanik biasanya beranggota sedikit, seperti dalam keluarga, pertemanan serta etnis dan suku. Jumlahnya nggak sampai berjuta-juta gitu. 
  • Bersifat homogen
    Antar individunya mirip, bisa dari penampilan, kepribadian dan cara pikir.
  • Diikat kesadaran kolektif
    Hubungan antar individu terjadi karena kesadaran keberanggotaan, misal temen satu fandom grup idol favorit elo.
  • Bersifat informal dan jangka panjang
    Masyarakat solidaritas mekanik memulai hubungan mereka dengan alami. Ibaratnya, elo berteman sama orang nggak pakai kontrak atau ngisi formulir dulu kan?

Ciri-Ciri Solidaritas Organik

Kelompok solidaritas organik masing-masing individunya terspesialisasi dan terhubung satu sama lain. Berikut ini ciri-ciri dari kelompok solidaritas organik:  

  • Bersifat formal dan kontraktual
    Hubungan yang terjadi biasanya bersifat sementara. Sering terjadi di lingkungan pekerjaan ketika elo menjadi bagian dari sebuah perusahaan melalui perjanjian.
  • Pembagian tugas menurut keahlian dan fungsi
    Setiap individu memiliki keterampilan tertentu yang berbeda satu sama lain.
  • Saling terhubung dan membutuhkan
    Masih berhubung sama ciri sebelumnya, saling terhubung di sini artinya antar individu saling bergantung sama lain berdasarkan fungsi masing-masing. 

Contoh Solidaritas Mekanik dan Organik

Dari hal yang gue bilang di atas, solidaritas mekanik biasa terjadi di pedesaan di mana masyarakatnya memiliki kesamaan profesi. Tapi, jenis solidaritas mekanik sebenarnya nggak terbatas hanya di desa lho.

Misal ceritanya begini, elo orang Padang yang merantau ke Bandung untuk kuliah. Di kampus, elo temenan sama mahasiswa Padang  lainnya yang juga sama-sama ke Bandung demi belajar. Di sini elo ngerasain perasaan ‘senasib’ apalagi ternyata kalian berdua juga sama-sama ngekos sendirian. Ikatan yang elo rasakan sama temen elo merupakan bagian dari solidaritas mekanik. Kesamaan akan hal-hal primodial yang diyakini penting sering kali membuat antar individu memiliki kesadaran kolektif yang kuat. 

Biar lebih paham mari kita lihat contoh lainnya! 

Contoh Solidaritas Mekanik

  • Masyarakat Suku Baduy yang terbagi menjadi Baduy Dalam dan Baduy Luar menunjukan solidaritas mekanik di mana selain warna kain yang beda, setiap orang di suku Baduy memiliki kesamaan seperti, pakaian, gaya hidup, kepercayaan, dan lainnya. 
  • Dalam kehidupan modern elo bisa temui contoh paling simpel ketika elo nonton konser. Misalnya, pas elo nonton konser BTS otomatis elo bakal dikelilingi sesama ARMY yang sama-sama demen BTS kayak elo kan? Mendukung BTS adalah bentuk solidaritas mekanik yang terjadi di fandom elo. 

Contoh Solidaritas Organik

  • Solidaritas organik biasanya terjadi di sebuah lembaga dan organisasi. Pokoknya yang punya dokumen legalitas formal seperti  perusahaan atau lembaga pendidikan kayak sekolah. Proses pendidikan yang elo alami selama 3 tahun sebagai murid SMA juga merupakan bentuk dari solidaritas organik karena keberadaan elo di sekolah ini memiliki jangka waktu tertentu.
  • Sebuah perusahaan biasanya memiliki departemen dengan tugas masing-masing. Misal bagian administrasi yang mengurus hal teknis ketatausahaan, bagian sales yang bertanggung jawab akan target penjualan. Semua departemen saling bekerja sama sesuai peran nasing-masing untuk memenuhi tujuan bersama. 

Sip, segitu dulu aja pembahasan kita soal teori solidaritas mekanik dan organik Emile Durkheim. Kalau elo makin penasaran sama materi Sosiologi lainnya, coba deh nonton video materi Zenius terus ngerjain soal-soalnya biar makin mantep. Pastikan dulu ya elo udah log in di akun Zenius biar bisa akses fitur-fiturnya.

Teori Solidaritas Emile Durkheim - Materi Sosiologi Kelas 11 17

Anyway, nggak cuma sosiologi kok kalau elo juga pengen belajar mata pelajaran lainnya dengan paket komplet ditemani tutor asik, sobat Zenius bisa coba paket belajar yang udah kita sesuaikan sama kebutuhan elo. Yuk intip paketnya!

Teori Solidaritas Emile Durkheim - Materi Sosiologi Kelas 11 18

Globalisasi beserta Contohnya – Materi Sosiologi Kelas 12

Sobat Zenius, gimana kabar elo? Semoga sehat selalu, ya! Dalam artikel ini kita akan membahas materi fenomena globalisasi yang sedang kita alami saat ini. Ayo kita cari tahu!

Pengantar

Sobat Zenius, elo percaya nggak kalau dulu mendapatkan informasi itu sulit banget? Kanal informasi terbatas, sehingga berita nggak bisa bergerak dengan cepat. Beda banget dengan keadaan sekarang!

Saat ini, kita bisa dengan mudah mencari informasi. Peristiwa bencana alam di daerah lain atau bahkan mancanegara bisa kita ketahui dalam waktu hitungan menit. Di balik semua itu ada faktor yang berperan penting, yaitu globalisasi.

Globalisasi itu apa, sih? Yuk kita pelajari sama-sama!

Pengertian Globalisasi

Globalisasi adalah keterhubungan masyarakat melampaui batas-batas wilayah, mengacu pada pergerakan orang, barang, bahkan jasa secara lebih luas dan cepat. Hal tersebut didorong oleh kemajuan teknologi (informasi & transportasi), keterbukaan & kerja sama masyarakat dunia, dan munculnya kota-kota hub sebagai pusat globalisasi.

Perkembangan Globalisasi

Perkembangan globalisasi terbagi menjadi sebagai 1) suatu fenomena (kejadian/fakta) dan 2) sebagai konsep (ide/pengertian) dalam ilmu sosial.

1. Globalisasi sebagai suatu Fenomena

Globalisasi merupakan suatu keadaan terhubungnya dunia melalui proses yang sangat besar, luas, dan sudah terjadi sejak lama. Hal tersebut dapat terbukti melalui beberapa peristiwa berikut:

1a. Jalur Sutra ( Silk Road)

Jalur sutra globalisasi

Jalur ini menghubungkan bagian timur ke barat dunia antara Asia, Eropa, dan Afrika sejak abad 2 Masehi. Pada masa itu sudah terjadi aktivitas migrasi, perdagangan, persebaran penyakit, dan pertukaran budaya antar kerajaan atau masyarakat.

1b. Age of Exploration/ Discovery

peta age of exploration globalisasi

Eksplorasi ini terjadi pada abad ke 15 Masehi ketika kondisi penjelajahan terbagi dua. Portugis ke arah kanan, sedangkan Spanyol ke arah kiri. Eksplorasi bangsa Eropa yang semakin jauh membuat mereka mengenal dunia luas dan mendorong terjadinya kolonialisme.

2. Globalisasi sebagai Konsep dalam Ilmu Sosial

Dunia sudah terkoneksi sedari lama sehingga globalisasi pun sudah lama terjadi sebelum para ahli mengeluarkan konsep globalisasi. Baru tahun 1980-an para ilmuwan sosial (ekonom, sosiolog, dan ilmuwan politik) membahas konsep globalisasi karena semakin pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan aktivitas ekonomi internasional dengan adanya teknologi yang menghubungkan ekonomi internasional.

Para ahli merumuskan dan membagi periode globalisasi secara berbeda-beda, namun karakteristik globalisasi sekarang berbeda dengan globalisasi di masa lalu. Globalisasi masa kini memiliki dua karakteristik khusus, yaitu:

2a. Intensif

Globalisasi tidak berhenti, lebih cepat, terus-menerus, dan terjadi 24 jam. Contohnya akses informasi dari internet yang 24 jam selalu up to date dan real time.

2b. Ekstensif

Lebih banyak hal-hal kecil dari kehidupan kita ikut terglobalisasi, contohnya ekspor impor garam ke berbagai negara.

Aspek-Aspek Globalisasi

Aspek globalisasi

Fenomena globalisasi yang sedang terjadi tentunya memberikan pengaruh pada berbagai aspek. Beberapa aspek yang dipengaruhi globalisasi adalah sebagai berikut.

1. Aspek Temporal dan Spasial

Temporal berarti waktu dan spasial artinya ruang. Globalisasi membuat ruang atau jarak dan waktu kiat mengecil atau memadat. Aspek spasial membuat jarak atau batas wilayah menjadi borderless, batas negara secara administratif masih ada, tetapi keterjangkauannya menjadi lebih mudah. Contohnya pada teknologi informasi dan komunikasi serta moda transportasi cepat.

Haji lebih mudah karena globalisasi

Misalnya kerja sama bebas visa antar negara yang memudahkan mobilisasi penduduk antar negara sehingga batas negara semakin samar. Dulu naik haji memakan waktu yang sangat lama karena masih menggunakan kapal, tapi sekarang sudah bisa dijalankan lebih cepat menggunakan pesawat.

Ketika ada kebakaran hutan di Australia, sekarang kita bisa tahu beritanya secara cepat atau bersamaan alias real time melalui internet. Sedangkan di masa lalu, proses sampainya berita luar negeri ke Indonesia membutuhkan waktu yang lebih lama karena melalui proses yang panjang dan rumit.

2. Aspek Politik dan Keamanan

Dalam aspek politik, kerjasama politik secara global terjalin, namun ini juga disertai meningkatnya ancaman keamanan internasional. Kerja sama melalui jalur diplomasi memungkinkan orang-orang untuk menjalin relasi internasional. Contohnya PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa), Uni Eropa, ASEAN (The Association of Southeast Asian Nations). Adapun contoh buruknya seperti terorisme dan jaringan narkotika.

Biasanya tiap negara membuat perjanjian perdamaian yang disebut dengan perjanjian non-agresi, meskipun tidak berperang, demi mencegah konflik di masa depan. Kerja sama antar negara bagaikan dua sisi mata uang karena bisa memberikan keuntungan dan kerugian. Contoh kerugiannya adalah terusiknya kedaulatan suatu negara karena negara lain menitipkan regulasi tertentu, sehingga otoritas negara tersebut menjadi berkurang. Tidak ada hubungan kerja sama yang murni sebab harus ada timbal balik yang diberikan.

Semakin banyak kerja sama yang dijalin dengan negara lain, maka semakin tinggi potensi intervensi atau ikut campur dari negara lain terhadap negara tersebut pada aspek-aspek tertentu. Nantinya pun bisa timbul ketergantungan kepada negara lain pada aspek tertentu.

Baca Juga:

Etnosentrisme – Pengertian, Penyebab, Dampak dan Contohnya

3. Aspek Ekonomi dan Kebudayaan 

Aktivitas perekonomian hari ini semakin terintegrasi di level global. Contohnya mata uang regional beberapa negara seperti BRICS, sistem keuangan global, produksi-konsumsi barang dan jasa (impor ekspor & jasa pengantaran luar negeri).

Tiga aktivitas utama ekonomi yaitu konsumsi, produksi, dan distribusi juga terdampak globalisasi. Misalnya merek sepatu negara A melakukan produksi di negara B menggunakan bahan-bahan dari negara C. Hal tersebut terjadi karena setiap negara terhubung dengan produksi tertentu yang disebut dengan global value chain.

Proses produksi perusahaan multinasional biasanya dilakukan di negara berkembang karena perusahaan dapat menghemat pengeluaran dengan gaji buruh yang lebih terjangkau jika dibandingkan dengan memproduksinya di negara asal.

Penyebaran K-Pop karena globalisasi

Di bagian budaya terjadi proses persebaran budaya dari satu negara ke negara lainnya. Misalnya budaya K-Pop dari Korea Selatan yang terkenal hingga mancanegara termasuk Indonesia. Di perjalanannya bisa juga terjadi proses glokalisasi, yaitu unsur lokal yang mendunia.

Pengaruh Globalisasi

Jika digabungkan dengan globalisasi berarti daya yang timbul dari keterhubungan masyarakat melampaui batas-batas wilayah. Pengaruhnya pun terbagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut:

1. Pengaruh Positif Globalisasi

Pengaruh positif artinya perubahan yang terjadi sesuai dengan nilai dan norma di masyarakat yang berubah seiring berjalannya waktu. Nilai masyarakat dapat bergeser dari positif menjadi negatif, begitu pula sebaliknya. Tergantung kesepakatan yang diakui bersama.

1a. Demokratisasi

Hal ini terjadi di bidang sosiokultural (kebiasaan). Media sosial dalam lingkup global menjadi lebih demokratis karena memungkinkan terbukanya ruang-ruang kritik terhadap pemerintah. Kesempatan untuk bersuara kelompok-kelompok minoritas tertentu juga menjadi semakin besar.

1b. Percepatan Pembangunan Kawasan

Hal ini berkaitan dengan bidang ekonomi. Kerja sama dan perjanjian internasional semakin banyak dilakukan oleh berbagai negara, semakin bebas perdagangannya, maka semakin lancar pula ekonominya. Produk globalisasi yang terkait adalah organisasi internasional seperti ASEAN (The Association of Southeast Asian Nations).

1c. Peluang Pasar Internasional

Komoditas ekspor impor meningkat disertai penanaman modal asing. Jelas pengaruh ini dirasakan pada bidang ekonomi. Sekarang para investor asing bisa dengan mudah berinvestasi di perusahaan Indonesia dibandingkan pada masa lalu.

1d. Pertukaran Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi)

Pengaruh ini masuk ke dalam bidang sosiokultural. Kekurangan iptek di suatu negara dapat diatasi dengan iptek dari negara lain. Adanya berbagai program kerja sama seperti pertukaran pelajar yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan dari luar negeri. Peredaran gadget yang semakin luas memungkinkan kita untuk menggunakan gadget keluaran terbaru dari luar negeri ketika produk tersebut launching lebih dulu di luar negeri dibandingkan di Indonesia.

Baca Juga:

Teori Solidaritas Emile Durkheim – Materi Sosiologi Kelas 11

2. Pengaruh Negatif Globalisasi

Nah, kebalikan dari pengaruh positif, pengaruh negatif artinya pengaruh yang tidak sesuai dengan nilai di masyarakat alias tidak diharapkan.

2a. Ketergantungan Global (Dependensi)

Kehidupan ekonomi di suatu negara dapat dipengaruhi oleh perkembangan dan ekspansi dari kehidupan ekonomi negara lain. Di antara negara tersebut, terdapat negara yang hanya berperan sebagai penerima akibat saja dan pada akhirnya akan bergantung pada negara lain.

Misalnya ada perusahaan asing yang sudah lama melakukan penambangan hasil bumi di suatu wilayah, namun penduduk di sekitar PT tersebut belum merasakan kesejahteraan meskipun hasil buminya melimpah. Negara kita jadi tergantung dengan perusahaan tersebut dalam pengolahan sumber daya alamnya .

2b. Memudarnya Kebudayaan Lokal

Maraknya pengaruh budaya asing yang masuk ke suatu negara dapat memudarkan budaya lokal bahkan mengubah nilai dan normanya. Misalnya musik dangdut, lagu daerah, dan lagu anak-anak yang mulai tergeser oleh musik dari negara lain. Misalnya K-Pop dari korea yang sudah mendunia dan masuk ke Indonesia juga.

2c. Permasalahan Global Lainnya

Kriminalitas internasional, kerusakan lingkungan, dan pandemi merupakan bagian dari permasalahan global. Penipuan sekarang sudah makin canggih melalui media digital dan dilakukan secara internasional. 

Kerusakan lingkungan berbanding lurus dengan kemajuan teknologi, maka ada konsekuensi lingkungan yang harus diambil dari majunya teknologi. Misalnya penggunaan kendaraan bermotor yang menimbulkan polusi, jadi berperan dalam penipisan lapisan ozon sehingga menyebabkan suhu udara yang semakin meningkat & polusi udara yang mencemari lingkungan.

Pandemi bisa terjadi karena mobilitas kita lebih mudah dan tinggi, jadi bisa membawa penyakit dari tempat lain dan menularkannya ke orang di sekitar.

Contoh Globalisasi

Contoh Globalisasi

Nah, di atas kita udah bahas banyak hal tentang globalisasi. Di bawah ini gue kasih beberapa contoh biar elo makin paham ya.

1. Pariwisata

Globalisasi telah mempermudah perjalanan internasional, lalu sebagai hasilnya industri pariwisata telah berkembang begitu pesat dalam beberapa dekade terakhir dan banyak tempat-tempat indah di berbagai belahan dunia sudah mulai bisa diakses.

2. Teknologi Informasi dan Komunikasi

Salah satu hasil dari globalisasi adalah kemajuan teknologi seperti internet, komunikasi seluler, dan teknologi cloud computing yang telah mengubah cara orang berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain dalam lingkup global.

3. Migrasi Internasional

Globalisasi meningkatkan migrasi manusia internasional. Warga dari berbagai negara dapat memindahkan diri ke negara lain untuk mencari pekerjaan dan mengejar pendidikan yang lebih baik dengan harapan dapat memperbaiki keadaan atau memiliki masa depan yang cerah.

Kesimpulan

Oke deh Sobat Zenius, itu dia materi tentang globalisasi. Semoga bermanfaat dan elo bisa memahami materi ini dengan baik ya! Kalo elo mau belajar lebih dalam, bisa banget klik banner di bawah ini.

Globalisasi: Pengertian, Perkembangan, Aspek-Aspek, Pengaruh, dan Contohnya - Materi Sosiologi Kelas 12 17

Zenius juga ada beberapa paket belajar yang bisa elo pilih sesuai kebutuhan elo. Di sini kita bisa belajar konsep materi dan latihan soal buat ngukur seberapa jauh kemampuan elo. Yuk klik banner di bawah ini!

Globalisasi: Pengertian, Perkembangan, Aspek-Aspek, Pengaruh, dan Contohnya - Materi Sosiologi Kelas 12 18

Penulis: Dinda Puspitasari

Sumber: Arsip Zenius