Pengertian Ilmu Sosiologi dan Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari

Hola Sobat Zenius! Di artikel kali ini gue akan membahas mengenai prinsip sosiologi. By the way, khususnya buat elo anak jurusan IPS, elo pernah gak sih kepikiran, kenapa kita nih harus belajar ilmu sosiologi?

Oke, tapi sebelum membahas mengenai ilmu sosiologi adalah apa. Gue mau membahas dulu suatu hal yang masih sering disalahartikan oleh banyak orang, yaitu perbedaan antropologi, psikologi, dan sosiologi. Elo sendiri tahu gak perbedaan dari ketiga ilmu tersebut?

Perbedaan ilmu sosiologi, antropologi, dan psikologi
Perbedaan ilmu sosiologi, antropologi, dan psikologi (dok. Giphy)

Ketiga ilmu tersebut memang memiliki persamaan, yaitu mempelajari tentang manusia. Tapi, ketiganya memiliki fokus yang berbeda-beda. Kalau psikologi membahas tentang manusia, tapi berfokus pada individu. 

Selain itu, psikologi juga membahas yang berkaitan dengan perilaku dan kondisi mental. Sedangkan, antropologi dan sosiologi membahas kelompok manusia atau masyarakat. Bedanya, antropologi itu membahas tentang bahasa (linguistik), arkeologi, fisik (biologi), dan sosial budaya. 

Misalnya, bagaimana sih adat pernikahan di suatu daerah itu dilaksanakan atau kalau ada kematian apa sih yang biasa dilakukan oleh masyarakat di suatu daerah. Lalu, bagaimana dengan ilmu sosiologi? 

Ilmu sosiologi adalah ilmu yang membahas tentang struktural, seperti bagaimana kehidupan sosial bermasyarakat dan perubahan sosial dari zaman ke zaman. 

Jadi, udah jelas ya kalau psikologi, antropologi, dan sosiologi itu memiliki perbedaan fokus tentang manusia. Nah, di artikel kali ini, kita akan membahas lebih dalam tentang ilmu sosiologi. Simak selengkapnya di bawah ini!

Baca Juga: Kupas Tuntas Jurusan Ilmu Psikologi

Apa Itu Sosiologi?

Ilmu yang satu ini terbilang baru bagi elo yang baru masuk SMA, betul gak? Karena, di SMP gak ada mata pelajaran ini. 

Ya meskipun beberapa dari elo udah ada yang mendengar istilah “sosiologi” sebelumnya, tapi tahu gak sih arti dari sosiologi itu apa? Kita coba telusuri asal usul istilah ini, yuk!

Istilah sosiologi pertama kali diciptakan pada tahun 1838 oleh seorang filsuf asal Perancis bernama Auguste Comte. Anak sosiologi pasti udah gak asing nih sama nama tersebut, karena ia dijuluki sebagai Bapak Sosiologi. 

Comte merasa bahwa sains itu gak hanya mempelajari alam, melainkan juga dunia sosial. Ia berpikir bahwa analisis ilmiah juga bisa lho menemukan hukum yang mengatur kehidupan sosial kita. 

Dari sini lah, Comte memperkenalkan konsep positivisme kepada sosiologi, yaitu cara yang digunakan dalam memahami dunia sosial berdasarkan fakta ilmiah. Dengan begitu, Comte berharap masa depan bisa dibangun menjadi lebih baik lagi.

apa itu sosiologi zenius
Auguste Comte “Bapak Sosiologi” (dok. Wikimedia Commons)

Comte menjelaskan bahwa istilah sosiologi berasal dari bahasa Latin socius yang berarti kawan atau sesama dan logos dari bahasa Yunani yang berarti pengetahuan atau ilmu.

Dengan begitu, secara bahasa sosiologi adalah ilmu kawan. Lalu, gimana pengertian sosiologi menurut para ahli? Kita ambil pendapatnya Max Weber yang mengatakan bahwa:

“Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial”

Dari dalam negeri, ada pendapat Selo Soemardjan dan Soemardi yang mengatakan bahwa:

“Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur dan proses sosial, termasuk perubahan sosial”

Jadi, kalau kita coba simpulkan, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari masyarakat secara struktural. Masyarakat yang gimana nih? Masyarakat yang dimaksud merupakan sekelompok orang yang memiliki kehidupan sosial atau kebudayaan bersama dalam wilayah tertentu.

Kita ambil contoh ilmu Sosiologi diterapkan saat Hari Raya Idul Fitri ada budaya mudik di Indonesia. Nah, budaya itu hanya ada di negara-negara tertentu aja, gak semua negara ada budaya mudik. 

Contoh ilmu sosiologi lainnya adalah menggunakan batik atau kebaya kalau datang ke undangan pernikahan, kenapa sih kok gak pakai jas seperti orang-orang barat. 

Nah, itu merupakan contoh kajian sosiologi, yang mana sosiologi itu mempertanyakan dan mencoba mencari penjelasan tentang fenomena-fenomena yang ada di masyarakat.

Baca Juga: Belajar Sosiologi Buat Apa?

Fungsi Ilmu Sosiologi

Setelah elo tahu pengertian dari dan contoh ilmu sosiologi yang diterapkan sehari-hari, selanjutnya yang gak kalah penting yaitu elo harus tahu fungsi dari belajar ilmu sosiologi. 

Kenapa sih harus belajar sosiologi? Kenapa gak belajar ilmu alam aja? Apa sih ngaruhnya ke kehidupan gue?

  1. Sosiologi sebagai pembangunan

Fungsi ilmu sosiologi yang pertama akan kita bahas yaitu pembangunan. Dalam bermasyarakat, pasti akan ada perubahan yang terjadi. 

Nah, fungsi sosiologi dalam pembangunan yaitu membantu supaya perubahan tersebut dapat berjalan dengan baik, mulai dari membuat perencanaan, pelaksanaan, hingga proses evaluasi. 

Tujuannya supaya perubahan tersebut bisa memberikan dampak positif yang lebih besar kepada masyarakat.

  1. Sosiologi dalam perencanaan sosial

Maksud dari fungsi yang kedua ini yaitu sosiologi berusaha untuk mempersiapkan individu di dalam masyarakat supaya meminimalisir kemungkinan-kemungkinan timbulnya masalah sosial di kalangan masyarakat. 

Yap, kita semua tahu nih kalau di dalam masyarakat itu akan ada banyak perubahan, seperti perubahan pola perilaku, norma, dan nilai. Nah, perubahan sosial itu gak hanya membawa dampak positif, pasti ada aja dampak negatifnya. Maka dari itu, sosiologi berusaha untuk melakukan perencanaan sosial atau antisipasi.

  1. Sosiologi dalam penelitian

Dalam setiap masalah sosial, kita pasti ingin tahu kan faktor penyebabnya apa? Kita perlu data-data pendukung mengenai permasalahan tersebut, supaya kita bisa menemukan solusi yang paling cocok. 

Maka dari itu, dibutuhkan penelitian seperti mengumpulkan data atau wawancara untuk mengumpulkan informasi yang kredibel.

  1. Sosiologi dalam pemecahan masalah sosial

Dalam kehidupan masyarakat ada banyak sekali masalah, seperti tawuran antar pelajar, kemiskinan, dan pengangguran. Untuk menangani masalah tersebut, kita harus tahu faktor penyebabnya apa dan bagaimana solusinya. 

Nah, sosiologi berusaha menjawab faktor-faktor penyebab, dampak, dan solusi dari permasalahan sosial tersebut.

Cara Berpikir Sosiologi atau Imajinasi Sosiologi

Untuk memudahkan kita dalam memahami ilmu sosiologi, kita perlu adanya imajinasi sosiologi. Tapi sebelum itu, elo pernah gak sih memikirkan hal-hal seperti: 

Kenapa ya kok orang-orang lebih banyak yang ingin masuk IPA daripada IPS?” atau “Kenapa sih kita harus upacara bendera setiap hari Senin atau tiap ada momen penting?”. 

Kalau elo pernah dan sering mempertanyakan hal-hal seperti itu, berarti elo udah memegang prinsip imajinasi sosiologi yang pertama. Wah apa itu?

Prinsip 1: Seeing the strange in familiar

Konsep seeing the strange in familiar adalah ketika elo melihat hal-hal aneh yang udah familiar atau umum terjadi di masyarakat. Contohnya tadi, kenapa mayoritas orang ingin masuk IPA daripada IPS. 

Hal itu gak hanya berlaku di sekolah elo atau daerah elo aja, melainkan di sekolah dan daerah lain.

cara berpikir ilmu sosiologi atau imajinasi sosiologi zenius
Sosiologi imagination atau cara berpikir sosiologi (dok. ThoughtCo)

Prinsip 2: Seeing the general in particular

Setelah elo melihat hal-hal aneh yang ternyata umum, elo akan melihat pola dari fenomena tersebut. 

Misalnya dari contoh tadi, elo tahu polanya kalau ternyata banyak sekolah yang lebih banyak kelas IPA daripada IPS-nya. Kemudian, banyak lowongan kerja yang berasal dari jurusan IPA atau saintek.

Prinsip 3: Seeing personal choices in social contexts

Prinsip yang kedua sebelumnya hanya membahas pola yang udah elo temukan secara individu, dengan arti pola tersebut belum mengacu pada konteks sosialnya. 

Belum ada alasan atau penjelasan dari lingkup sosial atau masyarakatnya. Nah, ketika elo udah masuk ke prinsip ketiga, elo akan tahu nih kalau ternyata orang-orang lebih memilih IPA karena faktor dorongan keluarga. 

Selain itu, ada juga yang beralasan bahwa banyak lowongan kerja berasal dari jurusan IPA atau saintek.

Memang untuk mendapatkan data pasti kenapa suatu fenomena terjadi itu dibutuhkan penelitian mendalam. Tapi, ketika elo udah memiliki imajinasi sosial dengan ketiga prinsip di atas, setidaknya cara berpikir elo udah sosiologi banget deh. 

Hal itu akan memudahkan elo dalam melihat fenomena-fenomena yang ada di sekitar elo.

Oke, itu tadi penjelasan gue mengenai pengertian, prinsip dan contoh ilmu Sosiologi di kehidupan nyata. 

Oke deh, uraian di atas menjadi pengantar ilmu sosiologi untuk elo supaya lebih mudah dalam memahami sosiologi ke depannya. Karena memang luas banget bahasa Sosiologi, walaupun luas, tapi seru banget. 

Kita jadi tahu alasan-alasan dari fenomena yang terjadi di masyarakat, seperti kenapa kita mengadakan upacara bendera setiap hari Senin, gimana perbedaan kehidupan di Jakarta dan Papua, kenapa ibu-ibu lebih suka nonton sinetron atau drama, dan lain sebagainya.

Dan buat elo yang lebih suka belajar menggunakan video daripada tulisan, elo bisa langsung meluncur ke video materi belajar Zenius >> Pengantar Ilmu Sosiologi.

Selain Sosiologi, elo juga bisa akses semua mata pelajaran, ikut live class bareng Zen Tutor, terus ngerjain latihan soal kalo berlangganan paket belajar Zenius Aktiva Sekolah.Buat daftar, elo langsung aja klik banner di bawah ini ya.

Mengenal Seluk Beluk Ilmu Sosiologi - Materi Sosiologi Kelas 10 9

Baca Juga Artikel Lainnya

Materi Sosiologi Kelas 10: Sosialisasi

Materi Sosiologi Kelas 11: Stratifikasi Sosial

Materi Sosiologi Kelas 11: Multikulturalisme

Originally published: December 7, 2021
Updated by: Sabrina Mulia Rhamadanty

Apa Itu Pelajaran Sosiologi & Penerapannya Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Halo Sobat Zenius, apa kabar? Apa itu pelajaran Sosiologi? Kali ini gue mau sharing tentang pelajaran yang gue suka banget, yaitu Sosiologi. Simak sampai selesai ya!

Kalo elo semua suka baca Zenius Blog, pasti udah familiar, dong, dengan tulisan-tulisan keren para tutor Zenius. 

Topik-topiknya juga keren banget, dari Fisika, Sejarah, Matematika, Biologi, Teknologi, Linguistik, sampe Filosofi juga ada! 

Namun, kayaknya mata pelajaran Sosiologi belum terlalu banyak dikupas, nih. Makanya gue pengen banget nulis tentang Sosiologi.

Nah, sering banget, nih, kalo gue ketemu orang, mereka denger sebuah ilmu yang bernama Sosiologi aja udah “sensi” duluan. Kesannya kayak belajar sosiologi boring, gak explorable, dll. 

Padahal, kebanyakan orang belum tau mengapa pengetahuan sosiologi perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan sebenernya nih banyak banget yang dibahas di Sosiologi, meski cabang ilmu ini acap kali dianaktirikan karena banyaknya miskonsepsi serta salah kaprah.

Nah di sini gue akan buktikan ke elo bahwa Sosiologi adalah cabang ilmu yang menarik, gak kalah menariknya dengan cabang-cabang ilmu lain yang populer. So, izinkan gue untuk meyakinkan elo akan hal tersebut dengan spill tujuan belajar Sosiologi itu apa?

Sosiologi itu belajar tentang apa, sih? Banyak yang mikir bahwa Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang moral & etika. 

Gak sedikit juga yang menganggap bahwa Sosiologi itu “cuma” teori doang. Terus, yang bener apa, dong? Nah, di artikel ini, secara khusus gue akan mengupas sosiologi mempelajari tentang apa melalui berbagai kesalahpahaman orang terhadapnya.

Sosiologi itu Belajar tentang Etika

Sebelum menjelaskan maksud dari poin pembahasan pertama, mungkin gue perlu bahas dulu apa itu etika? 

Etika adalah salah satu cabang filsafat yang mempelajari tentang hal yang dianggap baik dan buruk. Dalam suatu masyarakat, etika menjadi standar penilaian atau penentuan moral.

Dalam Sosiologi, prinsip etika tertuang dalam konsep norma. Norma itu apa, sih? Norma adalah seperangkat aturan dalam masyarakat yang menentukan hal mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk. 

Sebagai contoh, di masyarakat Indonesia yang menghargai norma kesopanan, berbicara dengan cara yang tidak sopan kepada orang tua bisa dianggap sebagai sesuatu yang tidak etis (tidak sesuai dengan etika).

Tujuan  mempelajari ilmu sosiologi mempelajari tentang memahami apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh suatu masyarakat. Namun, itu bukan berarti bahwa mempelajari Sosiologi sama dengan belajar beretika, atau mempelajari bagaimana caranya menjadi seorang anggota masyarakat yang baik. 

Walau tentunya hal ini bisa saja dilakukan dengan menyesuaikan perilaku dan perbuatan kita dengan norma yang berlaku dalam suatu masyarakat yang kita amati. 

Dengan belajar Sosiologi, elo menjadi tahu konteks besar dalam pandangan bermasyarakat, tapi bukan berarti ilmu Sosiologi menyuruh atau menuntun kita menjadi masyarakat yang “baik” atau “buruk”.

Apakah ini berarti bahwa bertindak sesuai kehendak masyarakat adalah suatu hal yang tidak penting? Nggak juga. 

Sosiologi mengamati seseorang, memahami mengapa suatu fenomena sosial terjadi di masyarakat. Bahkan, jika memang perlu, akan lebih baik lagi jika orang tersebut dapat memahami bagaimana fenomena atau permasalahan sosial harus ditanggapi atau diselesaikan.

Kemudian, untuk dapat memahami mengapa suatu fenomena sosial terjadi pada masyarakat dengan sebaik-baiknya, seseorang yang mempelajari Sosiologi perlu “melepas” seperangkat nilai dan norma yang dimilikinya agar ia tidak memandang fenomena tertentu secara bias. 

Bias yang dimaksud adalah perbenturan yang terjadi di antara nilai dan norma yang dimiliki seseorang dengan hal yang diamatinya.

Misalnya nih, elo lagi mengamati fenomena transgender. 

Ketika  elo tumbuh di sebuah masyarakat yang secara dominan hanya mendikotomikan gender ke dalam dua kelompok—laki-laki dan perempuan—mungkin akan membuat elo nganggap bahwa perilaku para transgender menyimpang atau bahkan salah. 

Ketika elo sudah terlebih dahulu memberikan penilaian atau penghakiman bahwa perilaku para transgender tersebut menyimpang atau salah, bisa jadi elo malah melupakan tugas utama elo, yaitu memahami mengapa para transgender berperilaku dengan cara-cara tertentu atau pola-pola tertentu. 

Ingat, tujuan belajar sosiologi atau menjadi seorang sosiolog dan researcher dalam bidang sosiologi berarti elo harus menyampingkan nilai-nilai individu yang menurut elo secara pribadi benar, kemudian elo harus fokus pada metodologi yang valid dalam mengupas sebuah fenomena kemasyarakatan dari sudut pandang yang netral.

Dalam mempelajari masyarakat, penting agar kita menghindari pandangan yang bias. Alasannya sederhana, pandangan yang bias justru akan menjauhkan kita dari pemahaman yang obyektif tentang suatu masyarakat. 

Pembahasan ini berkenaan dengan salah satu sifat Sosiologi yang kita pelajari, yaitu non-etis. 

Seperti yang telah kita ketahui, sikap non-etis berarti memandang dan memahami fenomena sosial tanpa memberikan penilaian baik/buruk maupun benar/salah. 

Tujuan akhir dari bersikap non-etis adalah memahami masyarakat secara objektif atau tanpa bias, sehingga kita dengan sebaik-baiknya dapat memahami mengapa suatu fenomena sosial terjadi.

Jadi dari poin ini bisa disimpulkan bahwa Sosiologi itu sifatnya NON-ETIS, yang mana berarti seorang sosiolog tidak dapat menilai sesuatu fenomena kemasyarakatan itu adalah hal yang baik/benar/ataupun salah.

Sosiologi itu Bukanlah Ilmu Pengetahuan (Science)

Kayak yang gue bilang tadi, Sosiologi seringkali menjadi subyek yang dipandang sebelah mata, khususnya oleh mereka yang hanya mengenal subyek ini di sekolah. 

Salah satu alasan mengapa subyek ini seringkali dipandang sebelah mata bisa jadi karena isi bahasannya yang membicarakan fenomena sosial sehari-hari. Karena “hanya” membahas fenomena sosial yang biasa ditemui sehari-hari, Sosiologi seringkali dianggap tidak ilmiah.

Padahal ada alasan mengapa pengetahuan sosiologi perlu diterapkan dalam kehidupan sehari hari seperti ilmu pengetahuan lainnya, yaitu, Sosiologi menawarkan perspektif dan penjelasan yang lebih mendalam tentang fenomena yang terjadi setiap hari.

Selain itu, Sosiologi juga memenuhi salah satu syarat sebagai ilmu pengetahuan, yaitu memiliki metode penelitian—baik kualitatif maupun kualitatif. 

Sama seperti ilmu pengetahuan lain, teori-teori yang dihasilkan dalam Sosiologi juga dikumpulkan melalui metode-metode penelitian yang ilmiah.

Contohnya nih, misal seorang siswa mau mengetahui dampak penggunaan smartphone terhadap konsentrasi belajar teman-temannya di sekolah. 

Pertama-tama, ia merumuskan masalah atau latar belakang dari penelitian, yaitu sering digunakannya smartphone oleh teman-temannya untuk mengakses media sosial ketika belajar di kelas. 

Selanjutnya, ia akan menentukan teori-teori yang sesuai dengan tema penelitian, teori-teori ini nantinya akan digunakan sebagai acuan untuk mendukung argumen yang ia tetapkan pada bagian selanjutnya, yaitu hipotesis. 

Kemudian, sang siswa akan membuat dugaan awal atau hipotesis tentang kesimpulan penelitian, misalnya ia berargumen bahwa digunakannya smartphone di kelas berdampak buruk pada konsentrasi belajar. 

Tahap selanjutnya adalah mengumpulkan data, hal ini bisa ia lakukan dengan menyebar kuesioner ke teman-temannya di kelas. 

Data yang ia peroleh kemudian akan diolah dan dianalisis. Pada tahap ini sang siswa akan menguji kebenaran dari hipotesis yang telah ia buat di awal penelitian. 

Jika data sudah dianalisis, kemudian ia perlu menyusun kesimpulan yang menjawab apakah hipotesis yang telah dibuat di awal penelitian benar atau salah.

Teori-teori dalam Sosiologi dihasilkan dari pengumpulan fakta dan terus diuji secara ilmiah. 

Sebagai contoh, misalnya sebuah penelitian yang dilakukan sekitar dua puluh tahun lalu dengan judul “Pengaruh Ketergantungan Alkohol dengan Kecenderungan Bertindak Kriminal di Kota Bandung”. 

Ini berarti data harus dikumpulkan terlebih dahulu sampel penelitiannya di area geografis yang tepat, harus didefinisikan juga “ketergantungan alkohol” itu seberapa sering konsumsi alkoholnya. Perlu didefinisikan juga “tindakan kriminal” itu batasannya apa saja, dll.

Kemudian, jika penelitian dengan tema yang sama dilakukan sekarang dengan beberapa tahun kemudian, mungkin kesimpulan yang kita peroleh akan berbeda. Kenapa? Karena kondisi masyarakat pasti selalu berubah dan bergerak dinamis.

Jadi apakah Sosiologi itu bagian dari science? Ya tentu saja. Science itu kan upaya manusia untuk memahami segala sesuatunya bekerja, dan sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat dengan menggunakan metode penelitian dengan kaidah-kaidah metodologi ilmiah.

So, untuk melakukan penelitian dalam Sosiologi, nggak sembarangan, Sobat Zenius, elo harus tetap mengikuti kaidah-kaidah dan kerangka berpikir ilmiah.

Norma Merupakan Sebuah Kebenaran

Norma merupakan suatu kesepakatan konsensus tentang hal yang dianggap baik atau buruk dalam masyarakat. Walau “disepakati”, bukan berarti bahwa norma merupakan suatu kebenaran yang bersifat mutlak, ya.

Misalnya elo manggil orang tua temen elo dengan hanya menyebut namanya (sebut saja Bunga). 

Di masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai sopan santun, kemungkinan besar apa yang elo lakukan akan dianggap menyimpang dari norma. 

Berbeda jika elo tinggal di Amerika Serikat, perilaku memanggil orangtua dengan sebutan nama mungkin dianggap sebagai suatu hal yang wajar.

Apa yang dapat simpulkan dari contoh tadi? Norma merupakan sebuah konstruksi sosial, artinya ia dibangun berdasarkan kesepakatan setiap masyarakat. Kemudian, norma tidak bersifat absolut, melainkan kontekstual. 

Hal ini berarti keberlakuan norma di setiap masyarakat akan berbeda, sehingga apa yang dianggap baik maupun buruk di setiap masyarakat juga akan berbeda.

Jika kita telusuri secara kritis, norma juga tidak terlepas dari konteks politik. Hal ini berarti bahwa hal-hal yang disepakati sebagai norma dalam suatu masyarakat tidak akan terlepas dari siapa kelompok yang berkuasa di dalam masyarakat tersebut serta gagasan-gagasan apa yang ingin dilanggengkan untuk mempertahankan kekuasaan kelompok tersebut.

Kita ambil contoh “norma” yang berlaku di Jerman pada konteks kekuasaan Partai Nazi di tahun 1933-1945.

Di bawah kediktatoran Hitler, “norma” untuk membenci etnis Yahudi dikonstruksikan di tengah masyarakat Jerman. 

Ada berbagai pandangan yang menjelaskan mengapa kebencian terhadap etnis Yahudi dibangun oleh pemerintah Jerman pada masa tersebut. Salah satunya menurut seorang sejarawan Jerman bernama Ralf Georg Reuth adalah keterpurukan ekonomi Jerman yang dianggap turut disebabkan oleh etnis Yahudi. 

Dominasi Partai Nazi pada masa tersebut memberikan mereka kekuasaan untuk menciptakan suatu norma yang berwujud sikap anti-Yahudi.

Dari paparan di atas, dapat dilihat bahwa norma (kebencian terhadap bangsa Yahudi) yang dibangun di tengah masyarakat Jerman pada masa kepemimpinan Hitler tidak terlepas dari konteks politik. 

Kebencian terhadap bangsa Yahudi dibangun sebagai suatu “kebenaran” untuk mendukung kepentingan-kepentingan yang hendak dicapai oleh penguasa Jerman saat itu. 

Nah, dalam konteks belajar Sosiologi, elo bisa banget ngeliat efek dari “norma” ini sebagai salah satu faktor penyebab kekalahan Jerman di Perang Dunia II.

Contoh lain, mungkin elo familiar dengan jargon “penak jamanku, to” yang seringkali ditulis berdampingan dengan foto presiden kedua Indonesia, yaitu Soeharto. 

Jargon tersebut juga merupakan suatu bentuk “norma” yang tidak terlepas dari konteks politik. 

Jargon tersebut dapat dikatakan sebagai suatu norma karena ia merupakan suatu “kebenaran” yang disepakati oleh orang-orang yang mendukung keberlanjutan masa pemerintahan Soeharto.

Dua contoh yang telah dipaparkan memberikan gambaran kepada kita bahwa norma tidak mewakili suatu kebenaran absolut. “Kebenaran” dari norma yang berlaku dalam suatu masyarakat merupakan hasil konstruksi dan tidak luput dari usaha untuk mencapai atau mempertahankan kekuasaan kelompok tertentu. 

Hal ini berdampak pada “kebenaran” yang seringkali jadi mengacu pada apa yang dianggap benar oleh kelompok yang berkedudukan dominan dalam masyarakat.

Sosiologi itu Isinya Teori Doang

Banyak orang berpendapat bahwa tujuan belajar sosiologi hanya sebatas tentang memahami masyarakat secara teoretis dan nggak ada “langkah nyata” untuk menyelesaikan permasalahan dalam masyarakat. 

Pandangan ini kurang tepat, karena Sosiologi memiliki dimensi-dimensi yang lebih pragmatis dari hanya sekadar mengenal masyarakat melalui teori.

Meski nampak abstrak, sebenarnya Sosiologi bisa banget nawarin langkah nyata dalam merespons suatu fenomena. Langkah nyata ini biasanya diolah melalui salah satu cabang Sosiologi yang disebut sebagai Applied Sociology atau yang juga dikenal dengan nama Practical Sociology

Seperti Sosiologi pada umumnya, cabang yang dikenal sebagai Sosiologi terapan ini mempelajari masyarakat melalui penelitian serta teori-teori Sosiologi untuk memahami mengapa suatu fenomena sosial terjadi dalam masyarakat. 

Namun, tidak berhenti di situ, hasil penelitian yang telah dibuat kemudian digunakan sebagai acuan untuk melakukan perubahan sosial yang dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada di dalam masyarakat.

Sebagai contoh, seseorang melihat masalah yang dihadapi oleh masyarakat miskin dalam mengakses pendidikan. 

Dengan menggunakan teori Sosiologi tentang pendidikan, ia kemudian mengajukan solusi yang dapat mempermudah akses masyarakat miskin terhadap pendidikan. 

Solusi yang telah dirumuskan kemudian diwujudkan sebagai rekomendasi kebijakan pemerintah atau dapat juga direalisasikan melalui program Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang pendidikan.

Walaupun lebih berfokus pada penyelesaian masalah secara praktis, Applied Sociology ujung-ujungnya akan tetap mengacu pada teori atau hasil suatu penelitian yang telah dilakukan. 

Pada akhirnya, kesinambungan teori dan praktik tidak dapat dipisahkan dari satu dengan yang lainnya karena solusi yang baik hanya dapat dihasilkan ketika masalah yang hendak diselesaikan dapat dipahami secara mendalam, salah satu caranya melalui teori. 

Serba balanced, lah. Nggak “cuma” teori, kan?

Ahli Sosiologi Nggak Punya Banyak Pilihan Karier

Terus, kalo gue ngambil jurusan Sosiologi untuk kuliah, gue bisa kerja jadi apa?

Selama berkuliah, orang-orang yang lulus dari jurusan Sosiologi nggak hanya belajar teori, salah satu hal lain yang juga dipelajari secara mendalam adalah metode penelitian. 

Berbagai metode penelitian kuantitatif maupun kualitatif dipelajari untuk digunakan dalam berbagai macam penelitian sosial. 

Jadi, berbagai jenis pekerjaan yang berkenaan dengan penelitian sangat cocok untuk lulusan jurusan Sosiologi. 

Sekarang coba ya gue eksplorasi apa saja pekerjaan-pekerjaan tersebut dan kenapa lulusan jurusan Sosiologi ideal

Contoh Opportunity Cost Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Dalam memenuhi kebutuhan, manusia sering sekali dihadapkan dengan berbagai macam pilihan dan tidak jarang elo bingung dalam menentukan pilihan tersebut. Biasanya, biaya peluang yang biasa disebut juga opportunity cost adalah solusi yang tepat untuk menangani kasus seperti ini. Nah, di artikel ini gue akan kasih contoh opportunity cost dalam kehidupan sehari hari.

Sobat Zenius pernah mendengar istilah Ekonomi yang satu ini? Yap, buat elo yang saat ini duduk di kelas 10, biaya peluang menjadi materi yang harus elo pelajari dengan baik. Lalu elo juga akan diberikan contoh biaya peluang dalam kehidupan sehari hari.

Dalam kehidupan sehari-hari, opportunity cost bisa elo terapkan dengan baik dalam menentukan pilihan. Jadi, ada salah satu pilihan yang elo pilih dan satunya lagi dikorbankan.

Biaya peluang disebut juga biaya kesempatan. Jadi, apa maksud dari istilah yang satu ini?

Supaya lebih jelas mengenai pengertian hingga ciri-ciri biaya peluang dan penerapannya di kehidupan sehari-hari, gue akan membahas materi ekonomi kelas 10 ini secara detail.

Oke tanpa berlama-lama, langsung masuk ke pembahasannya aja ya.

Pengertian Biaya Peluang (Opportunity Cost)

Opportunity Cost
Ilustrasi Opportunity Cost (dok. Pixabay)

Menurut Robert B. Ekelund, seorang ekonom dari Amerika Serikat, menyebutkan bahwa pengertian opportunity cost atau biaya peluang adalah biaya penggunaan sumber daya ekonomi dengan tujuan tertentu yang diukur berdasarkan keuntungan yang tidak jadi diperoleh karena tidak memilih alternatif tersebut dibandingkan dengan komoditi yang diperoleh sebagai gantinya karena alternatif lain. 

Dengan kata lain, alternatif terbaik yang dikorbankan ketika menetapkan pilihan disebut biaya peluang atau opportunity cost

Biaya peluang muncul disebabkan oleh sebuah kebutuhan, sebagai manusia elo memiliki banyak kebutuhan yang tak terhingga jumlahnya.

Namun, tidak semua kebutuhan yang elo inginkan bisa didapatkan. Sobat Zenius harus menentukan pilihan dan menentukan mana yang menjadi kebutuhan utama atau kebutuhan prioritas yang  harus dipenuhi. 

Dalam pemikiran ekonomi lain menyebutkan bahwa biaya identik dengan memilih satu hal di dalam dunia kelangkaan yang menyebabkan elo harus menyerahkan atau mengorbankan sesuatu lain. 

Biaya peluang sangat penting dalam kegiatan ekonomi karena membantu elo untuk menentukan suatu prioritas ataupun menghemat pengeluaran bisnis.

Ciri-ciri Biaya Peluang (Opportunity Cost)

Nah, di awal tadi elo udah memahami pengertian dari biaya peluang, di bagian ini elo akan diperkenalkan dengan ciri-ciri biaya peluang. 

Berbeda dengan biaya jenis lain, ada beberapa ciri-ciri yang harus dipenuhi agar suatu biaya bisa disebut opportunity cost.

Biaya peluang tidak menyangkut kelangsungan hidup sehari-hari

Biaya yang dikeluarkan dalam biaya peluang bukanlah untuk biaya kebutuhan sehari-hari. Namun, opportunity cost ini hanya mengorbankan satu pilihan dari pilihan yang telah dipilih dengan harapan menjadi sebuah pilihan yang tepat. 

Penerapan biaya peluang ini ibaratnya elo sedang menentukan pasangan atau pacar. Di mana elo harus memilih mana yang tepat untuk elo, tidak hanya dari satu sisi tetapi juga dari banyak sisi.

Opportunity cost tidak hanya ditentukan dengan uang saja. Ada faktor lain yang mempengaruhinya seperti kesenangan, waktu, keuntungan di masa depan dan faktor-faktor lain yang berkaitan.

Inilah perbedaan biaya peluang dan biaya sehari hari, kalau biaya peluang elo harus memilih antara dua pilihan atau lebih dengan memperhitungkan berbagai faktor. 

Sedangkan biaya sehari-hari adalah biaya yang memang selalu dikeluarkan tanpa memperhitungkan kerugian antara dua atau lebih pilihan. 

Pengambilan keputusan dalam biaya peluang tergantung pada tujuan dan situasi

Individu memiliki kebutuhan dan kemauan yang tentunya berbeda satu dengan yang lain. Mungkin saja pilihan yang satu merupakan suatu pilihan yang tepat untuk si A namun bisa jadi pilihan merupakan pilihan yang kurang tepat untuk si B.

Semua keputusan ini akan dikembalikan pada tujuan dan situasi masing-masing individu. 

Contohnya, karena si A merasa haus dan kepanasan, ia lebih memilih membeli es krim daripada sepiring nasi goreng. Karena tujuannya adalah menghilangkan haus. 

Sedangkan si B karena merasa belum sarapan dari pagi, ia memilih membeli nasi goreng. 

Pilihan ini akan berbeda, tergantung pada elo melihatnya dari sisi mana.

Biaya peluang dihitung dari nilai yang terbaik yang dikorbankan

Ciri dari biaya peluang yang selanjutnya adalah melihat dari nilai terbaik yang dikorbankan jika terdapat lebih dari dua pilihan. 

Semakin sedikit nilai yang harus dikorbankan maka pilihan itu lebih baik dibandingkan pilihan yang lain. Karena keuntungan dari pilihan lebih banyak.

Supaya elo makin paham dengan opportunity cost, langsung saja gue kasih beberapa contoh biaya peluang dalam kehidupan sehari-hari berikut ini. 

Contoh Biaya Peluang (Opportunity Cost) dalam Kehidupan

Ilustrasi Penggunaan Uang dalam Biaya Peluang (Arsip Zenius)
Ilustrasi Penggunaan Uang dalam Biaya Peluang (Arsip Zenius)

Pertimbangan pengeluaran uang sangat berkaitan dengan konsep opportunity cost.

Berikut ini adalah beberapa contoh dari konsep biaya peluang dalam kegiatan ekonomi adalah tindakan memilih dan yang sering ditemui sehari-hari:

  1. Contoh pertama, saat di kantin sekolah elo memutuskan untuk pergi ke warung siomay saat jam istirahat dan ternyata di warung siomay itu juga menjual batagor.

    Elo ingin membeli keduanya namun sayangnya uang saku yang elo punya tidak cukup untuk membeli kedua siomay dan batagor tersebut. Untuk itu elo harus memilih salah satu dari kedua pilihan tersebut antara membeli siomay dan batagor.

    Pada akhirnya elo akan mempertimbangkan apakah elo akan membeli siomay atau batagor. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya elo memutuskan untuk memilih siomay (pertimbangan ini mungkin karena siomaynya lebih enak, porsinya lebih banyak atau orang yang mengantre untuk membeli lebih sedikit).

    Dari kedua pilihan tersebut maka opportunity cost-nya adalah 1 porsi batagor karena elo gagal membeli batagor tersebut.

  2. Contoh kedua, ini biasanya berkaitan dengan kehidupan elo sebagai seorang siswa. Elo sebagai ketua OSIS diberikan kesempatan untuk mengikuti studi banding ke luar kota dengan ditanggung berbagai akomodasi oleh sekolah elo.

    Elo juga akan diajak jalan-jalan pada saat studi banding tersebut. Sebagai ketua OSIS, elo memiliki kesempatan juga untuk mencari banyak teman dan relasi melalui program ini atau bisa saja elo menemukan pacar atau gebetan.

    Namun pada waktu yang bersamaan elo juga lolos untuk mengikuti olimpiade tingkat nasional sebagai perwakilan dari sekolah.

    Nah, sekarang elo dihadapkan dengan dua pilihan yang harus elo tentukan. Elo tidak bisa memilih keduanya karena waktu yang bersamaan, dengan berbagai macam pertimbangan akhirnya elo memilih untuk tetap mengikuti olimpiade nasional sebagai salah satu perwakilan dari sekolah.

    Nah, itu artinya opportunity cost-nya adalah program studi banding yang elo korbankan. 

  3. Contoh ketiga, setelah lulus SMA, Dika dihadapkan dengan dua pilihan antara melanjutkan ke perguruan tinggi atau langsung bekerja. 

    Jika Dika memilih untuk langsung bekerja dia bisa mendapat gaji sebesar 2.000.000 per bulan. Jika dia kuliah dia perlu membayar uang SPP, uang buku, transportasi, pakaian dan biaya lainya yang bisa mencapai 3.000.000 per bulan.

    Dengan segala pertimbangan akhirnya Dika memilih untuk tetap melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, maka opportunity cost Dika adalah sebesar 24.000.000 (gaji bekerja selama satu tahun). 

  4. Contoh keempat, ketika lulus SMA Ali mendapat dua tawaran pekerjaan, pertama bekerja sebagai pelayan toko di dekat rumahnya dengan gaji 400.000 per bulan dan yang kedua adalah bekerja sebagai pelayan restoran dengan gaji 800.000 per bulan.

    Dengan berbagai pertimbangan (ingin lebih dekat dengan rumah dan keluarga) akhirnya Ali memilih untuk bekerja sebagai penjaga toko di dekat rumahnya.

    Dengan demikian Ali telah menghilangkan opportunity cost untuk bekerja sebagai pelayan restoran yang sebenarnya bisa mendapatkan gaji lebih besar dari pada penjaga toko.

Apa Manfaat Menerapkan Konsep Opportunity Cost dalam Kehidupan Sehari-hari?

Penerapan Biaya Peluang (Opportunity Cost) dalam Keputusan Investasi (dok. Pixabay)
Penerapan Biaya Peluang (Opportunity Cost) dalam Keputusan Investasi (dok. Pixabay)

Dengan pengetahuan mengetahui konsep biaya peluang dalam kegiatan ekonomi, elo juga bisa meminimalkan risiko investasi. 

Di samping manfaat dalam berinvestasi, beberapa manfaat yang bisa elo dapat dari penerapan opportunity cost baik dari segi ekonomi dan dari segi keperluan pribadi adalah sebagai berikut:

  • Memudahkan dalam Menentukan Prioritas.

    Manfaat biaya peluang (opportunity cost) yang pertama adalah elo bisa memilih mana yang paling penting dan paling menguntungkan untuk elo sesuai dengan kondisi dan keperluan elo masing-masing.

    Pada umumnya, elo memiliki berbagai macam ide dan juga pilihan yang ingin dicapai, namun kadang kala tidak semua bisa elo dapat secara bersamaan. Opportunity cost ini akan membantu elo untuk menentukan pilihan. 

  • Membuka Kesempatan dan Meminimalkan Risiko.

    Dengan memanfaatkan opportunity cost, elo bisa melakukan sejumlah perbandingan dalam menentukan keputusan yang cocok dan membawa faktor risiko yang cukup besar jika terjadi sesuatu di luar dugaan.

    Contohnya dalam menjalankan sebuah usaha akan selalu ada risiko, dengan adanya penghitungan opportunity cost maka elo sudah meminimalkan risiko yang mungkin terjadi. 

  • Membantu Perhitungan Modal.

    Perhitungan terhadap modal menjadi fundamental penting untuk setiap orang atau perusahaan banyak pihak-pihak yang ingin meminjamkan modal dengan syarat dan ketentuan yang berlaku untuk membangun sebuah bisnis.

    Nah, manfaat biaya peluang (opportunity cost) yang selanjutnya adalah untuk memprediksi berapa kisaran modal yang harus dimiliki sebelum membangun sebuah bisnis dengan rencana dan keseriusan.

Demikian tadi pembahasan tentang pengertian biaya peluang (opportunity cost) dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Semoga bisa bermanfaat dan berguna untuk elo dalam menentukan sebuah pilihan yang tepat.

Bagi Sobat Zenius yang sekiranya masih tertarik untuk mempelajari materi belajar Ekonomi kelas 10, 11, dan 12 lebih mendalam, elo bisa banget, kok, belajar melalui video pembelajaran dari tutor Zenius.

Di video tersebut, tutor akan menjelaskan materi dengan bahasa yang mudah dimengerti dan juga disisipkan berbagai macam contoh soal yang bisa dijadikan bahan belajar buat elo.

Gimana cara aksesnya? Gampang banget! Elo tinggal klik banner di bawah ini aja dan ketik materi yang elo butuhkan di kolom pencarian, ya!

opportunity cost

Sobat Zenius, sebelum artikel ini diakhiri gue mau kasih info dulu nih mengenai paket belajar Zenius yang bisa menemani elo untuk belajar. Ada paket Zenius Aktiva yang fiturnya sudah lengkap banget, elo bisa belajar mengenai soal-soal yang jawabannya dibahas dengan video. Langsung aja klik banner di bawah untuk info selengkapnya ya!

Biaya Peluang (Opportunity Cost) Dalam Kehidupan Sehari-hari – Ekonomi Kelas 10 9

Baca Juga Artikel Lainnya:

Rumus Multiplier Effect

Pengertian Pasar Input

Manajemen Keuangan

Originally published: February 21, 2020
Updated by: Maulana Adieb & Arieni Mayesha