Persamaan Linear Dua Variabel: Metode Eliminasi & Substitusi

Hai Sobat Zenius! Balik lagi nih sama materi matematika. Pada artikel kali ini kita akan bahas contoh soal dan materi sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV) metode eliminasi dan substitusi. 

Materi sistem persamaan linear dua variabel ini udah sering muncul  di pelajaran SMA, mungkin elo udah nggak asing lagi. Apa sih SPLDV? Fungsinya apa? Cara hitungnya gimana? 

Nah mending langsung kita simak aja yuk materi dan contoh soal persamaan linear dua variabel di artikel ini.

Definisi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV)

Sistem persamaan linear dua variabel atau dalam matematika biasa disingkat SPLDV adalah suatu persamaan matematika yang terdiri atas dua persamaan linear (PLDV), yang masing-masing bervariabel dua, misalnya variabel x dan variabel y.

Ciri-Ciri SPLDV:

  • Sudah jelas terdiri dari 2 variabel
  • Kedua variabel pada SPLDV hanya memiliki derajat satu atau berpangkat satu
  • Menggunakan relasi tanda sama dengan (=)
  • Tidak terdapat perkalian variabel dalam setiap persamaannya

SPLDV juga ada fungsinya loh dalam menyelesaikan kejadian di kehidupan kita. Seperti menghitung keuntungan atau laba, mencari harga dasar atau harga pokok suatu barang, dan membandingkan harga barang.

Nah, sebelum masuk ke rumus dan metode, kita tentunya harus paham unsur-unsur yang ada pada sistem persamaan linear 2 variabel. Apa aja sih?

  • Variabel, yaitu pengubah atau pengganti suatu bilangan yang belum diketahui nilainya secara jelas. Variabel biasanya disimbolkan dengan huruf, seperti a, b, c, … x, y, z. Misalnya jika ada suatu bilangan yang dikalikan 2 kemudian dikurangi 9 dan hasilnya 3, maka bentuk persamaannya adalah 2x – 9 = 3. Nah x merupakan variabel pada persamaan tersebut.
  • Koefisien, yaitu bilangan yang menjelaskan banyaknya jumlah variabel yang sejenis. Koefisien terletak di depan variabel. Misalnya ada 2 buah pensil dan 4 buah spidol, jika ditulis dalam persamaan adalah 

Pensil = x , spidol = y

Jadi persamaannya adalah 2x + 5y. Nah karena x dan y adalah variabel, maka angka 2 dan 5 adalah koefisien.

  • Konstanta, yaitu nilai bilangan yang konstan karena tidak diikuti oleh variabel di belakangnya. Misal persamaan 2x + 5y + 7. Konstanta dari persamaan tersebut adalah 7, karena tidak ada variabel apapun yang mengikuti 7.
  • Suku, yaitu bagian-bagian dari suatu bentuk persamaan yang terdiri dari koefisien, variabel, dan konstanta. Misal ada persamaan 7x -y + 4, maka suku suku dari persamaan tersebut adalah  6x , -y , dan 4.
Unsur persamaan linear dua variabel
Unsur Persamaan Linear Dua Variabel (Arsip Zenius)

Sebelum lanjut belajar tentang rumus sistem persamaan linear dua variabel, subtitusi dan eliminasi, yuk didownload dulu aplikasi Zenius di gadget elo. Matematika bisa jadi menyenangkan dan mudah dimengerti bareng ZenBot dan ZenCore. Tonton juga video belajar gratisnya dengan klik banner di bawah ini!

cta banner donwload apps zenius

Download Aplikasi Zenius

Tingkatin hasil belajar lewat kumpulan video materi dan ribuan contoh soal di Zenius. Maksimaln persiapanmu sekarang juga!

icon download playstore
icon download appstore
download aplikasi zenius app gallery

Rumus Persamaan Linear Dua Variabel

Kalau elo udah paham unsur-unsur di atas, elo mungkin sudah bisa menyimpulkan rumus linear dua variabel. Rumusnya adalah sebagai berikut:

ax + by = c

Tapi apakah cukup dengan menghapal rumusnya saja? Tentu tidak ya. Dari rumus ini setidaknya elo sudah bisa tahu materi matematika apa yang akan elo kerjakan.

Bakal penting banget nih buat elo yang sedang bersiap menghadapi UTBK. Nah, untuk cara menghitung sistem persamaan linear dua variabel bisa elo baca di bawah ini.

Metode Penyelesaian Sistem Persamaan Linear Dua Variabel

Terdapat beberapa cara atau metode dalam menyelesaikan soal persamaan linear dua variabel. Metode tersebut adalah subtitusi dan eliminasi.

Pahami kedua metode ini lewat contoh soal SPLDV metode eliminasi dan substitusi yang akan dibahas setelah ini,

Metode Substitusi

Metode substitusi merupakan salah satu cara menyelesaikan SPLDV dengan cara mengubah satu variabel dengan variabel dari persamaan lain. 

Langsung cek contoh soal SPLDV metode substitusi di bawah ini ya.

Contoh Soal Metode Substitusi

Tentukan nilai variabel x dan y dari kedua persamaan berikut dengan menggunakan metode substitusi matematika!

2x + 4y = 28 

3x + 2y = 22

Jawab:

Pertama, elo harus pilih salah satu persamaan yang akan dipindahkan elemennya. Misalnya pilih persamaan pertama yaitu

2x + 4y = 28

Lalu pilih variabel y untuk dipindahkan ke ruas kanan. Maka, persamaannya berubah jadi

2x = 28 – 4y

Karena tadi elo memilih variabel y yang dipindah, maka koefisien pada variabel x dihilangkan dengan cara membagi masing-masing ruas dengan nilai koefisien x.

2x/2 = 28-4y/2

Maka dihasilkan persamaan x = 14 – 2y sebagai bentuk solusi dari variabel x.

Setelah itu, gabungkan persamaan 3x + 2y = 22 (yang tadi tidak pilih pada soal) dengan persamaan x = 14 – 2y dengan cara mengganti variabel x dengan persamaan

x = 14 – 2y

3x+ 2y = 22

3 (14 – 2y) + 2y = 22     (Di bagian ini variabel x sudah diganti dengan x= 14 -2y, ya)

     42 – 6y  + 2y = 22

                    -4y = 22 – 42

                    -4y = -20

                -4y/-4 = -20/-4

y = 5.

Maka, ditemukan variabel y adalah 5. 

Setelah ditemukan variabel y = 5, sekarang tinggal cari x dengan memasukkan 5 sebagai variabel y.

x = 14 – 2y

x = 14 – 2(5) 

x = 14 – 10

x = 4. 

Maka ditemukan variabel x adalah 4.

Sehingga jawaban dari soal SPLDV di atas adalah x = 4 dan y = 5.

Metode Eliminasi

Penyelesaian SPLDV menggunakan metode eliminasi adalah dengan menghapus atau menghilangkan salah satu variabel dalam persamaan tersebut. Misal, variabel dalam persamaan adalah a dan b, nah untuk mencari nilai a, kita harus menghilangkan b terlebih dahulu, begitu juga sebaliknya.

Biar makin paham langsung kerjain contoh soal SPLDV metode eliminasi aja yuk!

Contoh Soal Metode Eliminasi

Tentukan nilai variabel x dan y dari persamaan berikut

x + 2y = 20

2x + 3y = 33

Dengan menggunakan metode eliminasi!

Jawab:

Pertama, cari nilai variabel x dengan cara menghilangkan y pada masing-masing persamaan.

x + 2y = 20

2x + 3y = 33

Koefisien pada variabel y dari masing-masing persamaan tersebut adalah 2 dan 3.

Selanjutnya kita cari KPK (kelipatan persekutuan terkecil) dari 2 dan 3.

2 = 2, 4, 6, 8, …

3 = 3, 6, 8, …

Setelah tahu KPK dari 2 dan 3 adalah 6, kita bagi 6 dengan masing masing koefisien.

6 : 2 = 3 → x3

6 : 3 = 2 → x2

Kemudian, kalikan dan lakukan eliminasi dengan menggunakan hasil pembagian masing-masing tadi

x + 2y = 20       | x3

2x + 3y = 33 _   | x2

Maka menghasilkan:

3x + 6y = 60

4x + 6y = 66 _

-x          = -6

 x          =   6

Sehingga dapat diketahui bahwa nilai x = 6. Untuk mencari variabel y, elo juga bisa menggunakan cara yang sama, hanya dibalik saja.

Itu tadi contoh soal eliminasi 2 variabel. Udah paham belum nih? Yuk cek pemahaman elo udah sampai mana dengan kerjain contoh soal SPLDV berikut ini!

Contoh Soal Persamaan Linear Dua Variabel

Pembahasan sebelumnya gue udah ajak elo menghitung dengan metode subtitusi dan eliminasi. Yang kali ini gue juga mau ngasih tau bentuk soal pilihan ganda SPLDV yang mungkin keluar di TPS nanti.

Di bawah ini yang merupakan sistem persamaan dua variabel adalah …

a. 2x + 4y + 4xy = 0

b. 2x + 4y = 14

c. 2x + 4 = 14

Dari pilihan a, b dan c mana nih yang termasuk dalam SPLDV? Gini nih cara jawabnya, elo tinggal lihat rumus SPLDV yang tadi udah dibahas.

Yup, jawabannya adalah pilihan b. Coba elo perhatikan pilihan b memiliki 2 variabel yaitu x dan y. Sedangkan, pilihan a memiliki 3 variabel yaitu x, y dan xy. Apalagi pilihan c yang hanya memiliki satu variabel yaitu x.

Jadi,  sistem persamaan yang merupakan sistem persamaan linear dua variabel adalah 2x + 4y = 14.

Nah, jadi sekian penjelasan singkat tentang sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV), PLDV, serta cara-cara penyelesaiannya. Jangan lupa sering-sering latihan ya biar makin paham!

Belajar materi ini lagi yuk bareng penjelasan oleh Zen Tutor, cukup klik banner di bawah ini dan jadi lebih banyak tau!

Persamaan Linear Dua Variabel: Metode Eliminasi & Substitusi 9
Yuk diklik!

Cobain yuk pengalaman belajar yang menyenangkan dan mudah dimengerti di live class Zenius. Dapatkan pula tryout ujian sekolah dan ribuan video materi pembelajaran dengan membeli paket belajar Zenius. Tingkatin prestasi bareng Zenius, langganan sekarang!

Langganan Zenius
Langganan sekarang!

Baca Juga Artikel Matematika Lainnya

Determinan Matriks dan Cara Menghitungnya

Sistem Persamaan Linear Dua Variabel: Metode Gabungan Dan Metode Grafik

Originally published: September 11, 2021
Updated by Silvia Dwi

Metode Ilmiah dan Hakikat Fisika

Halo, Sobat Zenius! Siapa yang nggak suka mata pelajaran Fisika? Kalau elo salah satunya, mending belajar dulu, nih, metode ilmiah fisika Kelas 10. Di artikel ini, gue mau ngajak elo semua buat membahas hakikat fisika lebih detail lagi.

Dalam mempelajari fisika, ada banyak dinamika yang akan dialami. Ketika bertemu dengan materi yang menarik dan nggak terlalu susah, gue suka sama fisika.

Tapi, ketika bertemu materi fisika yang menurut gue susah, di situ lah gue merasa nggak suka sama fisika.

Salahnya, dulu gue belajar fisika nggak pakai konsep, melainkan hafalan dan langsung ke rumus. Padahal, kalau kita mengurutkan body of knowledge dari ilmu sains, rumus adalah pengetahuan yang paling akhir harus kita ketahui.

Jadi, sebelum ke rumus, ada konsep dan prinsip dulu. Hal penting itu justru gue langkahin, akhirnya gue kurang paham sama materi fisika.

belajar hakikat fisika kelas 10 zenius
Belajar fisika (dok. giphy)

Nah, ketika cara belajar yang salah itu gue ubah, gue menemukan keseruan saat belajar, termasuk belajar fisika.

Karena hal itu lumayan banyak mengubah gue dalam memahami fisika, maka gue mau ngajak kalian juga buat ngikutin cara belajar gue yang dimulai dari paham konsep sebelum lari ke rumus.

Sebenarnya, kalau elo paham sama materi Hakikat Fisika Kelas 10, elo akan lebih mudah lho dalam belajar fisika. So pastikan elo nggak skip materi ini di sekolah ya! Hehehe.

Hakikat Fisika

Hakikat itu apa sih? Kalau kita cari di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), arti hakikat adalah inti sari atau dasar.

Nah, sebagai cabang dari ilmu sains, hakikat fisika adalah sebagai body of knowledge (kumpulan pengetahuan), a way of investigating (cara menyelidiki), dan a way of thinking (cara berpikir).

Oke, kita langsung uraikan ketiganya aja ya.

tiga poin penting dalam hakikat fisika zenius
Ilustrasi hakikat fisika (Dok. Zenius)

Nah, sebelum mengurai ketiga hal tersebut, gue mau ngasih tahu elo buat download aplikasi Zenius dari sekarang, nih!

Pasalnya, lewat aplikasi elo bakal menemukan beragam fitur menarik buat belajar, seperti ZenBot, ZenCore, hingga simulasi ujian try out.

Elo juga bakal menemukan ribuan video pembelajaran yang dikemas dengan menarik ditambah ada contoh soal dan pembahasan di dalamnya.

Tunggu apa lagi? Yuk, download aplikasinya sekarang!

cta banner donwload apps zenius

Download Aplikasi Zenius

Tingkatin hasil belajar lewat kumpulan video materi dan ribuan contoh soal di Zenius. Maksimalin persiapan elo sekarang juga!

icon download playstore
icon download appstore
download aplikasi zenius app gallery

Body of Knowledge

Hakikat fisika yang pertama adalah body of knowledge. Apa sih yang dimaksud dengan body of knowledge atau kumpulan pengetahuan dalam fisika?

Dalam materi metode ilmiah kelas 10, Sobat Zenius akan mengenal 7 poin pengetahuan, yaitu fakta, konsep, hukum, prinsip, teori, model, dan rumus. Kita bahas satu per satu dimulai dari fakta.

  1. Fakta
    Poin pengetahuan di fisika itu harus berdasarkan fakta atau kenyataan. Jadi, nggak ada tuh yang namanya gosip atau hoax dalam fisika. Contoh fakta adalah air mendidih pada suhu 100°C, jelas ya ini terbukti dan elo juga bisa membuktikannya sendiri.
  2. Konsep
    Konsep adalah ide yang diabstraksikan dari peristiwa nyata. Contohnya apa? Misalnya tentang revolusi yang berarti gerak bumi mengelilingi matahari, dan rotasi yang artinya gerak bumi berputar pada porosnya. Konsep ini berasal dari peristiwa nyata, kemudian dijadikan bentuk tulisan dan jadilah konsep.
  3. Hukum
    Hukum merupakan pernyataan singkat yang bersifat umum dan bisa menjelaskan perilaku alam. Misalnya yang udah gak asing bagi kita adalah Hukum III Newton yang berbunyi, “Setiap aksi akan menimbulkan reaksi, jika suatu benda memberikan gaya pada benda lain, maka benda yang terkena gaya itu akan memberikan gaya yang besarnya sama dengan yang diterima, tetapi arahnya berlawanan”. Nah, hukum tersebut bisa kita amati pada saat menaiki tangga, ketika kita memberikan gaya ke bawah pada tangga, maka tangga juga akan memberikan gaya yang sama ke atas (berlawanan). Atau bisa juga dengan memukul paku menggunakan palu, itu juga termasuk penerapan Hukum III Newton.
  4. Prinsip
    Prinsip adalah pernyataan singkat yang bersifat khusus dan dapat menjelaskan perilaku alam. Nah, kalau hukum tadi berbicara mengenai umum, prinsip akan berbicara secara khusus. Bisa dikatakan juga bahwa prinsip adalah hukum yang bersifat khusus. Misalnya, suatu benda bisa bergerak melingkar, karena adanya gaya sentripetal.
  5. Teori
    Teori adalah penjelasan berdasarkan pengamatan yang didukung oleh hasil eksperimen. Jadi, masih perlu dibuktikan lagi nih kebenarannya. Misalnya teori Atom Thomson yang berbunyi, “Atom merupakan bola pejal yang bermuatan positif dan di dalamnya tersebar myatan negatif elektron”.
  6. Model
    Model adalah visualisasi dari suatu sistem/fenomena. Misalnya seperti teori Atom Thomson, untuk mempermudah orang-orang memahami seperti apa sih teori atom yang dibuat oleh Thomson, maka ia memberikan model atomnya.
  7. Rumus
    Rumus adalah pernyataan matematis dari produk-produk ilmiah. Misalnya kita tau nih bunyi dari Hukum III Newton, dari situ bisa diambil rumus bahwa Fg = u x N dengan Fg: gaya gesek, u: koefisien gesekan, dan N: gaya normal.

Nah, itu dia ke-7 poin dari hakikat fisika body of knowledge.

Dari poin-poin di atas, kita bisa tau nih kalau mau paham belajar fisika, berarti kita perlu melihat fakta yang ada terlebih dahulu, kemudian paham konsep, prinsip, dan hukumnya.

Terakhir baru deh lari ke rumusnya seperti apa. Kalau kita belajar sesuatu langsung ke rumusnya, maka ketika rumus tersebut dibolak-balik atau diuraikan lagi, kita bingung karena nggak sesuai sama hafalan rumus kita.

Intinya, paham konsepnya dulu.

A Way of Investigating

Hakikat fisika yang kedua adalah a way of investigating, yang artinya cara menyelidiki. Sebelumnya kita udah tau apa aja sih kumpulan pengetahuan dalam fisika, nah kumpulan pengetahuan itu disebut produk ilmiah.

Selanjutnya, kita masuk ke proses penyelidikan. Ini adalah proses di mana kita menyelidiki supaya tercipta produk ilmiah. Hakikat fisika yang kedua dan ketiga ini saling berhubungan, di mana untuk melakukan investigasi diperlukan proses berpikir yang benar.

A way of investigating ada berapa cara sih? Sama seperti body of knowledge, ada 7 langkah-langkah metode ilmiah fisika, yaitu:

  1. Menemukan Masalah atau Observasi
    Langkah pertama dalam melakukan metode ilmiah adalah melakukan observasi atau menemukan masalah. Lah kok malah cari-cari masalah sih, masalah satu aja ribet. Elo bisa menemukan masalah dari yang udah ada atau sengaja dicari. Misalnya elo lagi jalan melewati kandang sapi, elo menemukan masalah kalau kandangnya bau banget, mengganggu dan termasuk pencemaran udara deh pokoknya. Nah, dari situ elo ingin masalah tersebut ada solusinya, mulai deh elo melakukan observasi atau pengamatan, dengan cara kualitatif atau kuantitatif.
  2. Merumuskan Masalah
    Dari masalah yang udah elo temukan tadi, elo rumuskan permasalahannya. Biasanya kita menggunakan pertanyaan berupa 5W+1H untuk merumuskan masalahnya. Contohnya dari permasalahan di atas, kita dapatkan rumusan masalahnya sebagai berikut:
    – Apa yang menyebabkan lingkungan kandang bau?
    – Bagaimana cara mengatasi kandang yang bau?
  3. Mengumpulkan Informasi
    Setelah merumuskan masalah, langkah selanjutnya adalah mengumpulkan informasi. Elo bisa melakukan wawancara ahli atau studi literatur. Kalau menggunakan contoh kandang bau di atas, elo bisa mengumpulkan informasi dengan cara wawancara peternaknya dan cari studi literatur dari buku dan jurnal.
  4. Merumuskan Hipotesis
    Setelah mendapatkan informasi yang cukup, elo mulai merumuskan hipotesis. Hipotesis itu apa? Hipotesis adalah jawaban sementara dari sebuah masalah yang bersifat praduga dan harus dibuktikan kebenarannya. Contoh hipotesis seperti ini: penyebab kandang bau diduga tidak adanya pembuangan limbah yang baik. Sehingga, diperlukan pengolahan limbah.
  5. Melakukan Eksperimen
    Setelah hipotesis dirumuskan, elo harus melakukan eksperimen apakah hipotesis tersebut bisa dilanjutkan atau tidak. Dari kasus di atas, elo bereksperimen dengan melakukan pengolahan limbah dan beberapa cara lain.
  6. Menganalisis Data
    Selanjutnya, elo analisis dari berbagai percobaan yang udah elo lakukan, mana sih yang paling signifikan dalam mengurangi permasalahan kandang yang bau. Oh, ternyata pengolahan limbah nih yang memegang peran paling besar dalam mengurangi permasalahan bau kandang.
  7. Menarik Kesimpulan
    Dari hasil analisis, elo tarik deh kesimpulannya. Kesimpulan adalah jawaban dari rumusan masalah.

Kalau nanti Sobat Zenius kuliah dan udah di semester akhir, elo akan ketemu sama yang namanya tugas akhir, di mana elo harus melakukan penelitian untuk menghasilkan skripsi.

Nah, urutan dalam pengerjaan tugas akhir juga sama seperti hakikat fisika ini. Di mulai dari menemukan masalah, merumuskan masalah, riset sana-sini, merumuskan hipotesis, eksperimen, analisis data dari hasil eksperimen, dan ditarik kesimpulannya.

Jadi, hakikat fisika akan terus terpakai, nggak hanya ada di Kelas 10 aja, guys.

A Way of Thinking

Hakikat fisika yang ketiga adalah a way of thinking, yaitu cara berpikir bagaimana menjalankan proses penyelidikan tersebut supaya menghasilkan produk ilmiah.

Proses penyelidikan harus dijalankan dengan cara berpikir yang benar. Jangan sampai dalam melakukan penyelidikan itu kita berbohong atau memanipulasi supaya hasil penyelidikan sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Kalau gitu hasilnya nggak valid dong. Jadi, tetap terapkan sikap ilmiah seorang ilmuwan ya, guys!

Nah, di a way of thinking ada 5 komponen yang harus menemani proses berpikir elo dalam melakukan investigasi, yaitu:

  1. Rasa ingin tahu yang besar
    Sekarang gue mau nanya dulu deh, elo kalau suka atau tertarik sama orang, apa yang akan elo lakukan? Cari informasinya, mencoba mendekatinya, kurang lebih gitu kan? Nah, sama halnya dalam hakikat fisika. Ketika kita memiliki rasa ingin tau yang besar, maka kita akan semakin penasaran dan berusaha untuk mencari tau sesuatu, membuktikan kebenarannya, dan memuaskan rasa ingin tahu, kalau bahasa gaulnya kepo lah ya.

    Sebaliknya, kalau kita bodo amat, apa yang terjadi? Ya nggak akan ada investigasi, simpelnya gitu. Coba elo baca-baca biografinya para inventor, pasti semua penemuan mereka berawal dari rasa penasaran dan keingintahuan yang besar. Kalau mereka gak punya rasa ingin tahu yang besar, ya gak akan ada teknologi modern seperti sekarang ini.

    Baca Juga: Michael Faraday: Penemu Listrik yang Lahir dari Keluarga Tidak Mampu

  2. Objektif
    Selanjutnya, kita harus berpikir objektif. Nggak bisa kita berpikir subjektif yang masing-masing orang punya pandangan berbeda terhadap suatu hal. Itu akan membuat produk ilmiah kita gak valid. Kita harus berpikir dan melakukan investigasi juga secara objektif. Walaupun hasil investigasi gak sesuai dengan harapan kita, yang penting hasil tersebut valid dan bisa dipertanggungjawabkan.
  3. Jujur
    Nyambung dari poin objektif, ketika kita melakukan investigasi secara objektif, maka kejujuran adalah hal yang mudah. Lain halnya ketika kita melakukan investigasi secara subjektif yang hasilnya harus sesuai dengan keinginan kita, maka saat mempertanggungjawabkan hasil, kita akan sulit untuk jujur. Pasti ada yang dimanipulasi untuk meyakinkan orang lain. Nah, jangan gitu ya, guys. Kita harus jujur terhadap ilmu sains.
  4. Mau mendengar pendapat orang lain
    Setelah hasil investigasi elo dipublikasikan dan banyak yang mengetahuinya, elo harus terbuka juga sama pendapat orang lain, baik yang setuju maupun tidak setuju. Pendapat orang lain itu bisa elo jadikan sebagai bahan juga nih untuk perkembangan produk ilmiah elo. Coba elo ingat lagi tentang teori atom, itu kan nggak hanya satu orang yang menyampaikan hasil temuannya. Ada perkembangan dari atom Dalton, Thomson, Rutherford, dll.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga perlu nih menerapkan kelima komponen di atas. Kira-kira apa contoh metode ilmiah fisika dalam kehidupan sehari hari?

Ada banyak sekali contohnya. Misalnya, elo sedang sakit kepala, tapi nggak tahu apa penyebabnya. 

Obyek penelitian awalnya sudah pasti kepala. Lalu identifikasi masalahnya yaitu penyebab kenapa terjadi penyakit kepala.

Kemudian, elo mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya terkait penyebab sakit kepala. Bisa melalui Google atau datang langsung ke dokter.

Setelah datang ke dokter, maka dokter akan memberikan beberapa hipotesis penyebab sakit kepala, misalnya kurang istirahat atau pola tidur yang kurang baik.

Lalu, kemudian dari semua langkah tersebut maka elo bisa mengambil kesimpulan kalau penyakit kepala itu datang karena elo tidak menerapkan pola tidur yang baik.

Contoh Soal Hakikat Fisika

Dari uraian materi di atas, gue punya contoh soal hakikat fisika yang bisa elo jawab untuk menilai apakah informasi di atas mudah elo pahami atau tidak.

  1. Isaac Newton mencetuskan bahwa, “Resultan gaya yang bekerja pada suatu benda sama dengan hasil kali dari massa dan percepatan benda tersebut”. Pernyataan tersebut merupakan contoh dari body of knowledge dalam fisika berupa…
  2. Perhatikan poin-poin di bawah ini:
    a. Terbuka dengan hasil riset yang diperoleh
    b. Menjalankan riset dengan rasa ingin tau yang tinggi
    c. Melaporkan hasil riset denga data yang benar, tanpa memanipulasi
    d. Percaya diri dengan kemampuan sendiri dan mengabaikan pendapat orang lain terkait riset yang kita lakukan.
    e. Melakukan perbandingan dengan riset lain yang terkait dengan riset yang kita jalankan.
    Poin-poin di atas adalah contoh penerapan way of thinking ketika melakukan riset yang sesuai dengan hakikat fisika, kecuali
  3. Perhatikan tahapan metode ilmiah di bawah ini:
    a. Menemukan masalah
    b. Melakukan eksperimen
    c. Kajian pustaka
    d. Merumuskan hipotesis
    e. Merumuskan masalah
    f. Menarik kesimpulan
    g. Menganalisis data
    Tahapan metode ilmiah di atas akan menjadi benar dengan urutan nomor…

Latihan soal hakikat fisika di atas coba elo kerjakan, dan hasilnya coba share di