Cara Membuat Teks Laporan Hasil Observasi

Halo, Sobat Zenius! Buat elo yang sekarang lagi duduk di bangku kelas 10, udah disuruh guru elo bikin penelitian kecil-kecilan buat nerapin metode observasi, belum? Setelah elo melakukan observasi terhadap suatu objek, maka hasil observasinya bakal elo tuang ke dalam sebuah teks laporan hasil observasi.

Ilustrasi siswa sedang melakukan observasi di laboratorium, kemudian menuliskannya ke dalam teks laporan hasil observasi.
Setelah praktikum di laboratorium, elo cantumkan hasil penelitian ke dalam teks laporan hasil observasi. (Arsip Zenius)

Misalnya, elo praktikum di laboratorium untuk mengamati suatu organisme di bawah mikroskop. Nah, apa yang elo dapatkan dari hasil pengamatan tersebut akan elo tuangkan ke dalam sebuah laporan.

Elo ceritakan secara terstruktur dan ilmiah mengenai hasil pengamatan tersebut. Nah, buat yang masih bingung gimana cara bikinnya, kita belajar bareng-bareng di sini, yuk!

Apa sih Observasi Itu?

Sebelum membuat teks laporannya, elo perlu tahu dulu pengertian dari observasi itu sendiri.

Menurut Adler & Adler, penulis buku Membership Roles in Field Research, observasi itu sebagai dasar dari pengumpulan data ketika melakukan penelitian kualitatif, terutama ketika melakukan penelitian sosial.

Pada intinya, observasi adalah aktivitas pengamatan terhadap aktivitas manusia dan juga benda-benda lainnya dengan melibatkan panca indra, persepsi, dan ingatan.

Baca Juga: Materi Teks Laporan Hasil Observasi

Langkah-Langkah Menyusun Teks Laporan Hasil Observasi

Nah, ada beberapa langkah yang perlu elo lakukan buat bikin karya tulis berdasarkan penelitian observasi. Apa aja, sih? Yuk, simak bareng-bareng!

Kerangka bahasan tentang langkah menyusun teks laporan hasil observasi.
Perhatikan langkah-langkah menulis teks laporan hasil observasi. (Arsip Zenius)

1. Menentukan Tema dan Tujuan Observasi

Langkah pertama dalam membuat teks laporan hasil observasi adalah menentukan tema dari kegiatan tersebut. Tema ini akan menjadi salah satu komponen penting dari teks laporan hasil penelitian yang elo buat secara individu atau berkelompok sama teman-teman elo.

Gue ingatkan juga untuk menentukan tujuan yang jelas dari kegiatan observasi yang elo lakukan. Ini penting, guys. Karena, tanpa tema dan tujuan yang jelas, nantinya observasi elo bisa rancu dan menyulitkan elo saat membuat laporan.

2. Melakukan Observasi Terhadap Objek

Langkah selanjutnya adalah melakukan kegiatan observasi. Elo harus memahami luar dalam objek yang lagi diobservasi. Semua hal bisa elo observasi, kok. Mulai dari benda mati hingga benda hidup.

Amatilah objek yang elo udah pilih dengan saksama dan cermat. Kalau memang benda yang elo amati itu hidup, maka elo ikuti segala bentuk perilakunya. Jangan cuma diam dan melihat aja, ya. Elo juga perlu mencatat hal-hal penting yang terjadi pada objek tersebut.

3. Menentukan Aspek yang Akan Dilaporkan

Setelah melakukan observasi dan mencatat hasil pengamatan, elo perlu melakukan langkah selanjutnya, yaitu menentukan aspek khusus untuk menjadi patokan dalam penyusunan teks laporan hasil observasi.

Penentuan aspek ini juga berguna untuk membatasi hal mana yang bisa elo laporkan dan mana yang nggak perlu elo laporkan. Kriteria yang elo terapkan ini tentu saja berdasarkan dengan tema dan tujuan yang sejak awal sudah elo tentukan.

4. Menulis Teks Deskripsi Hasil Laporan Observasi

Langkah yang satu ini cukup penting buat elo lakukan. Bahkan, kegiatan menulis deskripsi teks laporan hasil observasi adalah inti dari melakukan observasi itu sendiri. Elo perlu memperhatikan beberapa hal penting saat menyusunnya.

Baca Juga: 3 Contoh Teks Laporan Hasil Observasi

Hal Penting yang Perlu Diperhatikan Saat Menulis Teks Laporan Hasil Observasi

Saat menulis laporan hasil observasi, ada beberapa hal yang perlu elo perhatikan. Hal itu karena teks laporan hasil observasi berbeda dengan laporan hasil kegiatan penelitian yang lainnya. Berikut ini hal-hal yang perlu elo perhatikan.

Poin-poin penting yang harus diperhatikan saat menulis teks laporan hasil observasi.
Ini 5 hal yang perlu elo perhatikan saat menulis teks laporan hasil observasi. (Arsip Zenius)

Observasi Selalu Berisi Hal yang Objektif

Saat elo menulis hasil laporan observasi, tentu elo punya ide sendiri buat mengembangkannya. Tapi ingat, dalam teks laporan hasil observasi, informasi harus disampaikan secara objektif. Laporan hasil observasi disusun berdasarkan hasil pengamatan yang elo lakukan.

Jadi, nggak boleh ada pemikiran pribadi yang ikut memengaruhi hasil laporan tersebut. Misalnya, elo nggak suka sama objek penelitiannya, nah, nggak bisa tuh elo sengaja menjelek-jelekkan hasil laporannya nanti. Ingat, elo perlu objektif dan tetap menjaga profesionalitas.

Penulisan Harus Spesifik

Kalau elo ingin mengetahui hasil laporan yang disusun itu baik atau buruk, maka bisa dilihat dari bagaimana hasil pemaparan penulisannya. Penting banget buat elo memaparkan hasil temuan selama observasi dengan jelas serta spesifik. Mengapa harus seperti itu?

Nih ya, gue kasih tahu aja. Kalo nanti laporan hasil observasi elo sampaikan dengan penulisan yang bercampur aduk antara fakta objektif dan subjektif di dalam penelitian dengan yang di luar itu, maka para pembaca bisa kebingungan. Pembahasan jadi nggak tersampaikan dengan baik dan semestinya, lho.

Lalu, bagaimana penggunaan bahasa dalam teks laporan hasil observasi? Tentu saja dengan menggunakan bahasa yang lugas. Meskipun elo punya kemampuan mengarang novel, kalau sedang membuat hasil observasi sebisa mungkin gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh semua orang. Ingat juga untuk menggunakan standar berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Menulis Laporan Secara Faktual

Saat menyusun laporan, elo mengandalkan pengamatan objektif dari suatu hal. Maka dari itu, elo secara tidak langsung harus menulis berdasarkan fakta-fakta yang ada. Namun, mengapa teks laporan hasil observasi harus bersifat faktual?

Ini tentu saja berkaitan dengan tujuan umum dari sebuah observasi. Elo membuatnya dengan tujuan untuk melakukan silang kebenaran atau mencocokkan fakta-fakta yang ada dengan referensi yang ada seperti buku-buku bahan ajar yang elo sering baca di kelas.

Jadi, kalau nanti elo membuat teks laporan hasil observasi dengan cara mengarang bebas menggunakan daya imajinasi yang elo punya, maka itu bukan lagi laporan observasi. Melainkan cerita khayalan atau bisa juga disebut kisah fiksi.

Teks Laporan Hasil Pengamatan Sederhana dan Menarik

Berusahalah belajar untuk menulis yang baik dan benar terlebih dahulu sebelum membuat karya observasi. Terutama menulis dengan runtut dan saling berkesinambungan antarparagraf atau kalimatnya.

Percuma kalau elo punya tema yang bagus dan menarik, tapi nggak bisa membuat pembahasannya mengalir. Lebih baik temanya biasa-biasa saja, tapi elo bisa mengembangkannya menjadi tulisan yang menarik. Elo bisa coba-coba belajar membaca-baca dulu gaya bahasa penulisan laporan dari penulis lain.

Hasilnya Harus Lengkap

Kriteria selanjutnya adalah elo harus menyampaikan hasil observasi dengan menyeluruh. Nggak dibenarkan buat elo menyampaikan laporan setengah-setengah. Apalagi sampai menyembunyikan data-data penting.

Elo harus menyampaikan secara apa adanya agar para pembaca bisa percaya. Ketika sudah lengkap laporannya, maka orang lain akan percaya dan tidak lagi memiliki keraguan atas pemaparan elo.

Gimana, sudah paham, kan, sampai sini? Gue, sih, yakin kalau elo pasti bisa bikin teks laporan hasil observasi dengan membaca uraian di atas. Namun, kalau elo masih bingung, elo bisa banget buat nonton video belajar Zenius tentang teks observasi dengan klik banner di bawah ini.

CTA banner ke video belajar zenius bahasa indonesia

Contoh Soal dan Pembahasan Teks Laporan Hasil Observasi

Untuk menguji sejauh mana pemahaman elo mengenai materi teks laporan hasil observasi, gue ada beberapa contoh soal dan pembahasan yang bisa dijadikan sebagai referensi. Cekidot!

Contoh Soal 1

Teks yang berisi hasil dari kegiatan observasi atau pengamatan disebut….

A. Teks eksposisi.

B. Teks observasi.

C. Teks narasi.

D. Teks anekdot.

E. Teks negosiasi.

Jawab: B. Teks observasi.

Pembahasan:

Teks observasi merupakan teks yang berisi hasil dari kegiatan pengamatan atau observasi. Dengan begitu, jawaban yang paling tepat adalah B.

Contoh Soal 2

Langkah pertama dalam membuat teks laporan hasil observasi adalah….

A. Menyusun laporan.

B. Melakukan observasi.

C. Menentukan tema dan tujuan.

D. Menyiapkan peralatan observasi.

E. Mencari metode observasi.

Jawab: C. Menentukan tema dan tujuan.

Pembahasan:

Langkah pertama yang perlu elo lakukan dalam menyusun teks laporan hasil observasi adalah menentukan tema dan tujuan. Urutannya adalah sebagai berikut.

1. Menentukan tema dan tujuan observasi.

2. Melakukan observasi terhadap objek.

3. Menentukan aspek yang akan dilaporkan.

4. Menulis teks laporan hasil observasi.

Jadi, jawaban yang paling tepat dari pertanyaan di atas adalah C.

Baca Juga: Jenis Teks dalam Bahasa Indonesia dan Penjelasannya

*****

Semoga apa yang disampaikan di atas bisa dengan mudah elo pahami, ya. Buat yang lebih menyukai belajar dengan nonton video, elo bisa mengakses materi Bahasa Indonesia lainnya di video Zenius. Elo juga bisa mencoba melatih kemampuan dengan level soal yang mirip SNBT (UTBK) beneran dengan klik link di bawah ini!

Try Out bareng Zenius

Biar lebih lengkap elo juga bisa berlangganan paket belajar Zenius! Kita punya berbagai pilihan paket yang udah disesuaikan sama setiap kebutuhan elo. Klik gambar di bawah ini ya untuk pengalaman belajar yang lebih seru!

SKU-BELI-PAKET-BLJR-1

Referensi:

Teknik-teknik Observasi – Hasyim Hasanah (2016).

Membership Roles in Field Research – Patricia Adler & Peter Adler (1987).

Jenis-Jenis Observasi: Modul Kuliah Metodologi Penelitian Kuantitatif – Baskoro, Jakarta: UIN Jakarta.

Metode Penelitian Observasional – S. Nasution (2010).

Menulis Ilmiah: Metode Penelitian Kualitatif – Septiawan K. Santana (2007).

Latar Belakang dan Hasil Konferensi Meja Bundar

Setelah memproklamasikan kemerdekaan, Indonesia masih harus berjuang lagi untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan dari pihak Belanda yang akhirnya diperoleh dalam Konferensi Meja Bundar. Simak kisah selengkapnya di bawah ini!

Halo, Sobat Zenius! Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada tahun 1945, Indonesia nggak serta-merta merdeka gitu aja. Ada banyak rintangan yang dihadapi oleh para pahlawan bangsa setelah itu, seperti perjuangan fisikーtermasuk kekerasan dan peperanganーdan perjuangan diplomasi dengan pihak kolonialis.

Kenapa sih kok udah proklamasi masih aja muncul sengketa, memangnya Belanda nggak mau mengakui kalau Indonesia udah merdeka, ya? Yap, begitulah. Sejak tahun 1942, Belanda menyerah ke Jepang. Hal itu membuat wilayah Indonesia diambil alih oleh Dai Nippon.

pengeboman kota hiroshima menjadi awal latar belakang konferensi meja bundar zenius education
Pengeboman Kota Hiroshima oleh Sekutu pada Perang Dunia II (Dok. Tenor)

Nah, elo masih ingat kan waktu Jepang kalah dari Sekutu di Perang Dunia II akibat pengeboman di Hiroshima dan Nagasaki? Momen itu dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Tapi, kemudian Belanda datang lagi ke Indonesia dengan membonceng sekutu dan ingin kembali menguasai wilayah Indonesia.

Bangsa Indonesia nggak mau dong kalau ada penjajahan lagi, orang jelas-jelas kita udah memproklamasikan kemerdekaan. Sebisa mungkin bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan itu dan meminta pihak kolonialis mengakuinya. Akhirnya, terjadilah perlawanan dari pihak Indonesia terhadap Belanda dengan adanya rangkaian perang dan berbagai perundingan yang pada akhirnya mencapai kesepakatan dalam Konferensi Meja Bundar.

Apa Itu Konferensi Meja Bundar?

Nah, ujung perjuangan bangsa Indonesia pasca Proklamasi Kemerdekaan adalah diadakannya Konferensi Meja Bundar atau KMB pada tahun 1949. Konferensi Meja Bundar berlangsung di kota Ridderzaal, Den Haag, Belanda. Mungkin elo juga pernah lihat kalau tempat Konferensi Meja Bundar ini memiliki nama lain yakni The Hague.

Konferensi ini nggak diadakan dalam sehari, lho. Konferensi Meja Bundar terjadi pada tanggal 23 Agustus hingga 2 November 1949.

“Konferensi Meja Bundar adalah suatu pertemuan antara pihak Indonesia dan Belanda untuk menyelesaikan sengketa. Konferensi ini menjadi upaya diplomasi yang berhasil membebaskan Indonesia dari pihak Belanda.”

latar belakang konferensi meja bundar zenius education
Konferensi Meja Bundar (Arsip Zenius)

Konferensi Meja Bundar adalah bagian dari perjuangan diplomasi kemerdekaan Indonesia. KMB dimulai di Den Haag, Belanda pada tanggal 23 Agustus hingga 2 November 1949. Untuk membaca sejarah perjuangan diplomasi lain, baca artikel berikut: Perjuangan Diplomasi dalam Mempertahankan Kemerdekaan.

Dari sini jadinya udah jelas ya Konferensi Meja Bundar sebagai bentuk diplomasi dilaksanakan di mana dan bertujuan apa.

Bagaimana Konferensi Meja Bundar Bisa Terjadi?

Yap, kenapa sih kok perlu diadakan KMB? Oke, kali ini kita bahas mengenai latar belakang Konferensi Meja Bundar.

Sebelumnya, Indonesia udah beberapa kali mengadakan diplomasi dengan pihak Belanda, seperti Perjanjian Linggarjati (1946), Perjanjian Renville (1948), dan Perjanjian Roem-Royen (1949).

Nah, Konferensi Meja Bundar diadakan untuk melanjutkan Perjanjian Roem-Royen dan upaya Indonesia untuk lepas dari Belanda. Sebelum KMB berlangsung di Den Haag, pihak Indonesia dan BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg atau komite federal bentukan Belanda) mengadakan Perundingan Inter-Indonesia, hasilnya kedua pihak sepakat untuk mendirikan Republik Indonesia Serikat (RIS).

Perundingan Inter-Indonesia dilaksanakan dua kali, yaitu di Yogyakarta pada 19 Juni 1949 dan Jakarta pada 22 Juni 1949. Untuk menghadapi KMB, Indonesia menyiapkan delegasinya, lho.

Apa saja yang dihasilkan di Perundingan Inter-Indonesia? Baca selengkapnya di artikel berikut: Tujuan dan Hasil Konferensi Inter Indonesia.

Oke, jadi jelas ya kalau Konferensi Meja Bundar diadakan sesuai dengan hasil perundingan Roem-Royen.

Siapa Aja sih Delegasi Indonesia dalam KMB?

Dalam KMB, delegasinya nggak hanya dari Indonesia dan Belanda aja, guys. Ada beberapa delegasi dari berbagai kategori, yaitu Indonesia, BFO, Belanda, dan diawasi oleh UNCI (United Nation Commision for Indonesia).

  1. Indonesia: Drs. Mohammad Hatta, Nir. Moh. Roem, Prof. Dr. Mr. Soepomo, Dr. J. Leimena, Mr. Ali Sastroamidjojo, Ir. Djuanda, Dr. Sukiman, Mr.Suyono Hadinoto, Dr. Sumitro Djojohadikusumo, Mr. Abdul Karim Pringgodigdo, T. B. Simatupang, dan Mr. Sumardi.
  2. BFO: Sultan Hamid.
  3. Belanda: J.V. Maarseveen.
  4. UNCI: Chritchley.

Jadi, jelas ya bahwa delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar adalah Mohammad Hatta beserta 12 delegasi lainnya. Kalau elo ditanya, siapa pemimpin delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar? Jawabannya udah jelas ya, Drs. Mohammad Hatta. Paham ya sampai sini?

Bagaimana Hasil dari KMB?

Keempat delegasi KMB tersebut mendiskusikan bagaimana caranya mereka bisa membentuk negara Republik Indonesia Serikat (RIS)ーIndonesia dan BFO. Selain itu, dalam KMB juga dibahas mengenai ketatanegaraan, keuangan, dan militer.

Berhubung KMB ini merupakan suatu rangkaian, jadi nggak mungkin kan kalau bahasannya hanya itu? Yap, ada lagi nih pembahasan di KMB, yaitu mengenai kerjasama Uni Indonesia-Belanda. Jadi, Indonesia akan dijadikan sebagai negara serikatnya Belanda. Selain itu, Indonesia juga diminta untuk membayar utang-utang pemerintah Hindia-Belanda sejak 1942.

Tapi, topik-topik di atas hanya sebagian pembahasan aja, sedangkan hasil dari Konferensi Meja Bundar adalah sebagai berikut:

  1. Belanda mengakui kedaulatan Indonesia sebagai negara RIS selambat-lambatnya pada akhir Desember 1949 sebagai negara yang merdeka.
  2. Ketentuan Irian Barat menurut Konferensi Meja Bundar adalah akan dibicarakan lebih lanjut paling lama dalam waktu satu tahun setelah pengakuan kedaulatan.
  3. APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat)
  4. Pembentukkan kerja sama Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.
  5. Utang kolonial yang akan dibayarkan oleh Indonesia kepada Belanda terhitung sejak tahun 1942.

Hasil dari KMB tersebut diputuskan pada tanggal 2 November 1949.

Sampai sini paham ya? Nah, ngomong-ngomong tentang KMB, banyak yang bertanya mengenai permasalahan pasca KMB, seperti “Konferensi Meja Bundar meninggalkan satu permasalahan besar bagi Indonesia, yaitu ….”

Kalau elo mendapatkan pertanyaan seperti itu kira-kira udah bisa jawab belum? Kalau masih bingung, coba deh elo lihat lagi hasil dari KMB di atas. Yap, KMB meninggalkan satu permasalahan besar bagi Indonesia, yaitu Irian Barat. Bahkan, sampai satu tahun setelahnya juga nggak ada tuh titik terang dari pihak Belanda mengenai kepastian Irian Barat.

Jadi, meski Konferensi Meja Bundar dilaksanakan pada tahun 1949 dan hasil perundingan Konferensi Meja Bundar sudah disepakati, ada hal-hal yang ternyata belum terselesaikan bahkan hingga melampaui tenggat waktu yang disetujui dalam perundingan, ya.

Oke, semoga udah jelas nih apa saja hasil kesepakatan dalam Konferensi Meja Bundar.

Konferensi Meja Bundar menyisakan masalah Irian Barat
Konferensi Meja Bundar menyisakan masalah Irian Barat (Dok. Tenor)

Materi Video Kedaulatan Indonesia 1949

Kita sudah belajar nih, kalau kedaulatan Indonesia sempat diakui sebagai RIS oleh Belanda pada 1949. Tapi, kenapa sih harus sebagai RIS? Kenapa RIS harus dibentuk? Ketahui jawabannya di video materi Zenius. Kamu cuma perlu login (atau daftar dulu) buat mengaksesnya.


Contoh Soal Konferensi Meja Bundar

Setelah elo membaca dan memahami uraian di atas, maka udah saatnya untuk menguji sejauh mana pemahaman elo. Nih, gue ada beberapa contoh soal dan pembahasan yang bisa dijadikan sebagai referensi. Cekidot!

Contoh Soal 1

Konferensi Meja Bundar dilaksanakan di ….

a. Leiden
b. Seattle
c. Jakarta
d. Bandung
e. Den Haag

Jawab: e. Den Haag

Pembahasan: KMB dilaksanakan di Den Haag, Belanda pada 23 Agustusー2 November 1949.

Contoh Soal 2

Salah satu dampak ekonomi setelah dilaksanakannya KMB adalah ….

a. Kerja sama dengan PBB harus diakhiri.
b. Dihapusnya subsidi pangan dari Belanda.
c. Dilakukannya blokade ekonomi oleh Belanda.
d. Kas negara kosong sebab membiayai konferensi.
e. Indonesia harus membayar utang kepada Belanda.

Jawab: e. Indonesia harus membayar utang kepada Belanda.

Pembahasan: Melalui pertemuan KMB, telah disepakati bahwa Indonesia harus melunasi hutang kepada Belanda sebanyak 4,3 miliar Gulden. Indonesia menyetujui permintaan tersebut dengan pertimbangan betapa berharganya arti sebuah kedaulatan negara.

Contoh Soal 3

Masalah yang tersisa dalam Konferensi Meja Bundar bagi Indonesia adalah ….

a. Irian Barat
b. Belanda mengakui Indonesia sebagai negara dalam bentuk serikat
c. Angkatan Perang Republik Indonesia dibentuk
d. kerja sama Uni Indonesia-Belanda
e. utang Belanda ditanggung oleh Indonesia

Jawab: a. Irian Barat

Pembahasan: Irian Barat menjadi masalah yang tersisa setelah KMB lantaran hingga pada setahun setelahnya, tidak ada kepastian dari Belanda mengenai posisi Irian Barat.

*****

Gimana nih, sampai sini udah paham kan tentang Konferensi Meja Bundar?

Buat yang lebih menyukai belajar dengan nonton video, elo bisa mengakses materi ini di video belajar Zenius dengan klik banner di bawah ini menggunakan akun yang sudah didaftarkan di website dan aplikasi Zenius sebelumnya, ya!

Pelajari materi Sejarah di video materi belajar Zenius

Biar makin mantap, Zenius punya beberapa paket belajar yang bisa lo pilih sesuai kebutuhan lo. Di sini lo nggak cuman mereview materi aja, tetapi juga ada latihan soal untuk mengukur pemahaman lo. Yuk langsung aja klik banner di bawah ini!

Latar Belakang dan Hasil Konferensi Meja Bundar - Materi Sejarah Kelas 11 9

Originally published: January 24, 2022
Updated by: Wintalia Witantri (Kampus Merdeka Intern)

Hasil Kebudayaan Masa Perundagian – Materi Sejarah Kelas 10

Hi, Sobat Zenius! Tahu nggak, sih, kalau hasil kebudayaan masa perundagian adalah kapak corong dan kapak perunggu? Nah, dalam artikel ini gue mau mengupas lebih dalam lagi mengenai kehidupan manusia pada masa ini.

Perkembangan masyarakat dan teknologi selalu berjalan progresif, termasuk pada periodisasi zaman.

Menurut arkeolog Indonesia, R. Soekmono, periode prasejarah di Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu zaman batu dan zaman logam.

Zaman batu terjadi ketika manusia mulai menggunakan peralatan yang terbuat dari batu. Zaman ini dibagi lagi menjadi paleolitikum, mesolitikum, neolitikum, dan megalitikum.

zaman prasejarah spongebob zenius education.
Spongebob pada zaman batu. (dok. Tenor)

Selanjutnya, ada zaman logam atau disebut juga dengan masa perundagian. Khusus untuk masa perundagian ini kita bahas pada poin selanjutnya ya.

Baca juga: Mengenal Skala Waktu Geologi – Materi Biologi Kelas 12

Apa Itu Masa Perundagian?

Masa perundagian adalah zaman ketika manusia udah mulai menguasai teknologi mengolah logam. Sehingga, manusia bisa membuat dan menggunakan peralatan dari logam.

Bagaimana kehidupan manusia pada masa perundagian? Apa aja hasil kebudayaan masa perundagian?

Sesuai dengan konsepnya, masa perundagian sudah menghasilkan kebudayaan terbuat dari logam. . Namun, pada awal-awal periode masih ada kok yang memakai batu.

Penggunaan logam masih di kalangan terbatas, karena ya persediaan logam juga terbatas saat itu, nggak semua orang punya bahan logam lah intinya.

Semakin lama, keterampilan membuat alat-alat dari logam mulai menyebar. Sejak periode ini, manusia modern telah memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menghasilkan peralatan dan perkakas berbahan logam.

Periode ini dikatakan juga sebagai pertumbuhan teknologi secara eksponen, karena benda hasil kebudayaan zaman perundagian mengalami kemajuan dalam hal pembangunan dan kekuasaan.

Ya coba aja elo bayangin, saat ini kita mengenal pedang, smartphone, televisi, mobil, mesin, dan berbagai teknologi lainnya yang menunjang kehidupan kita.

Nah, teknologi tersebut nggak terlepas dari adanya logam yang ditemukan dan diasah sejak zaman logam atau masa perundagian.

Tanpa adanya logam, maka nggak ada tuh pemimpin kerajaan atau pemimpin suku—biasanya pemimpin ini yang paling kuat saat peperangan—nah peperangan butuh senjata yang terbuat dari logam. Jadi, tanpa logam ya nggak ada tuh yang namanya stratifikasi sosial.

Sampai sini paham ya kenapa zaman ini sangat penting bagi perkembangan teknologi dan politik.

Sama seperti zaman batu, zaman ini dibagi lagi menjadi beberapa zaman, yaitu zaman perunggu dan zaman besi.

Kehidupan Sosial Masyarakat pada Masa Perundagian

Salah satu ciri kehidupan sosial masyarakat pada masa perundagian adalah semakin teratur. Maksudnya, pada masa ini udah ada pembagian kerja antar masyarakat berdasarkan kemampuan yang dimilikinya.

Jadi, pada masa perundagian ada golongan undagi yang merupakan golongan terampil.

Tugas mereka adalah membuat peralatan dan teknologi dari logam untuk membantu pekerjaan masyarakat, khususnya bertani.

Dari situ mulai banyak nih pekerjaan, dengan kata lain ya pekerjaan semakin kompleks. Perempuan juga nggak hanya tinggal di rumah, tetapi ada yang berdagang di pasar.

Baca juga: Stratifikasi Sosial: Pengertian, Fungsi, Sifat, dan Contohnya – Materi Sosiologi Kelas 11

Kehidupan Ekonomi Masyarakat pada Masa Perundagian

Bagaimana kehidupan ekonomi masyarakat pada masa perundagian?

Seperti yang udah gue singgung sebelumnya, bahwa pada zaman ini masyarakat udah mulai mengenal pembagian kerja dan pekerjaan juga semakin kompleks. Ada yang menjadi undagi, bertani, beternak, dan berdagang.

Logam benar-benar meningkatkan perkembangan teknologi di kalangan masyarakat.

Adanya logam memungkinkan munculnya alat-alat baru untuk menunjang kehidupan. Dari situ, kegiatan ekonomi udah mulai maju dan berkembang.

Selain itu, zaman ini juga bisa dikatakan sebagai awal mula munculnya aturan tata tertib dan norma.

Hasil Kebudayaan Masa Perundagian

Undagi merupakan golongan terampil yang membuat berbagai peralatan dari logam. Sehingga, pada zaman ini banyak sekali peninggalan berupa peralatan logam.

Dari peralatan-peralatan itulah terlihat tingkat kebudayaan yang semakin jelas.

Apa saja hasil kebudayaan masa perundagian? Seperti yang udah gue singgung di awal, bahwa masa perundagian ini terbagi menjadi dua zaman, yaitu zaman perunggu dan besi.

Hasil kebudayaan zaman perunggu yaitu temuan jenis logam dengan bahan lebih keras dari tembaga. 

Masyarakatnya udah mulai mengenal teknologi peleburan dan pencampuran logam. Hal ini dibuktikan dengan adanya penemuan perunggu yang merupakan pencampuran dari tembaga dan timah.

Memasuki zaman besi, manusia udah menemukan jenis logam lain yang ternyata lebih keras dari perunggu. Jadi, diperlukan pemanasan yang sangat tinggi untuk meleburkan logam tersebut. Namun, ternyata logam ini lebih sempurna menghasilkan peralatan daripada perunggu.

Eitss … tapi perlu elo ingat juga, bahwa pada zaman logam itu masih ada yang menggunakan batu dan masih banyak juga peralatan gerabah.

Hal itu karena ada beberapa alat atau benda yang nggak bisa digantikan dengan mudah oleh bahan logam.

Beberapa contoh hasil kebudayaan manusia purba pada masa perundagian adalah kapak corong, moko, kapak perunggu, nekara, dan bejana perunggu.

nekara hasil kebudayaan masa perundagian zenius
Nekara merupakan salah satu hasil kebudayaan masa perundagian. (dok. Kemdikbud)

Sistem Kepercayaan pada Masa Perundagian

Ngomong-ngomong masalah kepercayaan, ternyata sistem kepercayaan masyarakat pada masa perundagian nggak jauh beda dengan masa sebelumnya, yaitu zaman batu.

Mereka masih menganut sistem animisme, yaitu kepercayaan kepada makhluk halus dan roh.

Nah, masyarakat purba pada masa itu juga melakukan pemujaan kepada roh nenek moyang mereka. Selain itu, mereka juga memelihara hubungan dengan orang yang udah meninggal.

Hal itu karena mereka percaya bahwa arwah nenek moyang akan memberikan pengaruh besar terhadap perjalanan hidup manusia pada saat itu.

animisme merupakan sistem kepercayaan masyarakat masa perundagian zenius education
Animisme merupakan sistem kepercayaan masyarakat masa perundagian. (dok. Humans and Nature)

Baca juga: Ciri-Ciri dan Contoh Historiografi Tradisional – Materi Sejarah Kelas 10

Contoh Soal Masa Perundagian dan Pembahasannya

Untuk menguji sejauh mana pemahaman elo mengenai hasil kebudayaan masa perundagian, gue ada beberapa contoh soal dan pembahasan yang bisa dijadikan sebagai referensi. Cekidot!

Contoh Soal 1

Apa yang dimaksud dengan masa perundagian?

Jawab: Masa perundagian disebut juga dengan zaman logam, artinya pada periode ini manusia modern telah memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menghasilkan peralatan dan perkakas berbahan logam.

Contoh Soal 2

Di bawah ini, manakah yang termasuk nama lain dari perundagian?

A. Fireworks

B. Flameworks

C. Metalworks

D. Frameworks

E. Teamworks

Jawab: C. Metalworks

Pembahasan: Perundagian disebut juga dengan zaman logam, dengan begitu dari nama-nama di atas yang termasuk nama lain perundagian adalah metalworks atau pekerjaan logam.

Nah, demikian penjelasan singkat mengenai hasil kebudayaan masa perundagian beserta kehidupan sosial, ekonomi, dan sistem kepercayaannya.

Buat yang lebih menyukai belajar dengan nonton video, elo bisa mengakses materi ini di video belajar Zenius, ya!

Gimana cara aksesnya? Mudah banget! Elo tinggal klik banner di bawah ini, ya!

Hasil Kebudayaan Masa Perundagian dan Kehidupan Ekonominya - Materi Sejarah Kelas 10 17

Biar makin mantap, Zenius punya beberapa paket belajar yang bisa lo pilih sesuai kebutuhan lo. Di sini lo nggak cuman mereview materi aja, tetapi juga ada latihan soal untuk mengukur pemahaman lo. Yuk langsung aja klik banner di bawah ini!

Hasil Kebudayaan Masa Perundagian dan Kehidupan Ekonominya - Materi Sejarah Kelas 10 18

Originally published: March 14, 2022
Updated by: Maulana Adieb

3 Contoh Teks Laporan Hasil Observasi

Hi, Sobat Zenius! Pada artikel kali ini gue mau mengajak elo semua buat membahas contoh teks laporan hasil observasi tentang Covid-19, akses media sosial, dan juga angka melek huruf Indonesia (AMH).

Sebelumnya, Sobat Zenius sudah mempelajari materi teks laporan hasil observasi atau teks observasi. Kalau elo belum membacanya atau belum memahaminya dengan baik, elo bisa baca artikelnya di bawah ini, ya.

Teks Laporan Hasil Observasi

Nah, tanpa berbasa-basi lagi, berikut beberapa contoh teks laporan hasil observasi yang bisa dipelajari bareng-bareng. Simak sampai habis, ya!

Contoh Teks Laporan Hasil Observasi tentang COVID-19

Virus corona atau SARS-CoV-2, merupakan virus yang pertama kali diidentifikasi pada tahun 2019, Wuhan, China, dimana infeksi dari penyakit ini disebut COVID-19.

Dilansir dari corona.jakarta.go.id COVID-19 merupakan penyakit yang dapat menyebabkan gangguan  pada sistem pernapasan dan radang paru yang disebabkan oleh infeksi Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). 

Gejala yang muncul beragam dari infeksi penyakit ini juga beragam, mulai dari seperti gejala flu biasa seperti batuk, pilek, nyeri tenggorokan, nyeri otot, nyeri kepala sampai yang berkomplikasi berat seperti pneumonia atau sepsis atau bahkan bisa tidak bergejala sama sekali.

contoh teks laporan hasil observasi
Sumber: JHU CSSE COVID-19

Meskipun sudah setahun lebih dari virus ini ditemukan, sampai saat ini (per 17 Februari 2021) kasus baru orang yang terinfeksi COVID-19 ini masih berlanjut, bahkan di Indonesia per 17 Februari 2021 terdapat sebanyak 10.029 kasus baru, dengan total lebih dari 1,23 juta kasus.

Dari grafik di atas kita juga bisa menyimpulkan bahwa keadaan tidak kian membaik, atau bahkan semakin parah jika dibandingkan dengan tahun 2020.

Hal ini membuktikan bahwa baik dari pemerintah terutama dari masyarakat harus bekerjasama dan sangat berperan penting dalam memutus rantai virus ini, agar pandemi ini bisa berakhir. 

Contoh Teks Laporan Hasil Observasi tentang Akses Media Sosial 

teks persuasi dan teks deskripsi
Pembuatan contoh teks laporan hasil observasi harus berlandaskan pada data akurat dan terpercaya.

Pada era yang serba digital saat ini, hampir setiap dari kita memiliki dan juga mengakses media sosial, dan berdasarkan data yang dikumpulkan oleh We Are Social pada Januari 2021, di mana dari total populasi manusia di bumi mencapai 7,83 miliar pada awal tahun 2021, dan 4,66 miliar orang di antaranya menggunakan internet, serta 4,20 miliar dari seluruh populasi manusia merupakan pengguna media sosial atau setara dengan lebih dari 53% dari total populasi dunia.

Dilansir dari Databoks, sebanyak 94% pengguna internet yang berusia 16-64 tahun, mengakses youtube pada satu bulan terakhir (Januari 2021).

Tidak hanya YouTube, mayoritas orang-orang juga mengakses Whatsapp yaitu sebanyak 87,7%, Instagram yaitu sebanyak 86,6%, serta Facebook yaitu sebanyak 85,5%. 

Dari data tersebut bisa kita simpulkan bahwa semakin ke sini manusia semakin terhubung melalui adanya internet dan juga media sosial, baik untuk hiburan, berkomunikasi, dan sebagainya.

Hal ini penting bagi pemerintah maupun pengusaha untuk sekedar branding atau untuk berkomunikasi dengan target audiences mereka, mengingat pengguna internet dan juga media sosial sangat diminati saat ini.

Contoh Teks Laporan Hasil Observasi tentang Angka Melek Huruf Indonesia

Selanjutnya, contoh laporan hasil observasi yang berupa kondisi sosial adalah angka melek huruf Indonesia atau AMH. Berikut contoh teksnya.

Angka Melek Huruf atau yang biasa disingkat AMH merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur kemampuan membaca dan menulis penduduk Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas.

Tidak hanya menggambarkan kemampuan membaca dan menulis, tapi juga menggambarkan tingkat pendidikan dan juga pengetahuan dari penduduk indonesia, demi menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang semakin lebih baik. 

contoh teks hasil laporan observasi
Sumber: Katadata.co.id

Dilansir dari Databoks, kita bisa lihat dari gambar di atas, bahwa di tahun 2019 angka melek huruf mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu 2018, dimana untuk laki-laki meningkat sebanyak 0,55% dan menyentuh 97,48%, dan untuk wanita mengalami peningkatan sebanyak 0,34% yaitu menyentuh 94,33%. 

Dari diagram di atas kita juga bisa melihat bahwa angka melek huruf (AMH) lebih didominasi oleh pria, dengan perbedaan antara pria dan wanita yang melek huruf sebanyak 3,15% di tahun 2019. 

Meskipun angka melek huruf tersebut sudah cukup tinggi, namun masih ada sekitar 2,52-5,67% penduduk yang berusia diatas 15 tahun masih buta huruf atau belum bisa membaca dan menulis, sehingga hal ini masih perlu ditingkatkan lebih baik lagi. 

teks negosiasi
Pembuatan teks observasi bisa dilakukan bersama temanmu demi pengecekan yang lebih akurat (Dok. unsplash.com/gabriellefaithhenderson).

Itu dia beberapa contoh teks laporan hasil observasi yang bisa elo pelajari. Ketika nanti ada pertanyaan “buatlah contoh teks hasil observasi dengan struktur yang kamu ketahui”, Sobat Zenius bisa memahami struktur dari contoh di atas.

Sobat Zenius juga bisa mempelajari materi teks hasil observasi lebih dalam lagi dengan mengklik banner di bawah ini, ya!

3 Contoh Teks Laporan Hasil Observasi - Materi Bahasa Indonesia Kelas 10 17

Biar makin mantap, Zenius punya beberapa paket belajar yang bisa lo pilih sesuai kebutuhan lo. Di sini lo nggak cuman mereview materi aja, tetapi juga ada latihan soal untuk mengukur pemahaman lo. Yuk langsung aja klik banner di bawah ini!

3 Contoh Teks Laporan Hasil Observasi - Materi Bahasa Indonesia Kelas 10 18

Baca Juga Artikel Materi Bahasa Indonesia Lainnya

Jenis-jenis Frasa

Teks Negosiasi

4 Contoh Teks Negosiasi

Originally published: March 3, 2021
Updated by: Maulana Adieb

Latar Belakang, Hasil, dan Dampaknya

Hai Sobat Zenius!

Perjalanan bangsa Indonesia sebagai negara merdeka, ternyata tidak terlepas dari peranan perempuan lho. Salah satunya adalah dibentuknya Kongres Perempuan pada 22 Desember 1928. Kini tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu.

Nah, di artikel ini gue akan membahas lebih lanjut mengenai latar belakang kongres perempuan, serta bagaimana perannya dalam usaha pergerakan kemerdekaan Indonesia. Simak ya!

 Pengantar: Latar Belakang Gerakan Perempuan

Di era pemerintahan Kolonial Belanda, belum ada konsep mengenai kesetaraan gender. Dalam bidang pendidikan, hanya kaum laki-laki lah yang mendapat kesempatan untuk memperoleh pendidikan barat.

Kaum laki-laki diikutsertakan dalam sekolah-sekolah bentukan belanda seperti HIS (Sekolah dasar bagi keturunan priyayi), AMS (Sekolah Menengah Atas), STOVIA (Sekolah kedokteran),  dan lain sebagainya.

Kaum perempuan tidak diizinkan untuk mengakses dunia pendidikan. Perempuan dianggap hanya ditugaskan untuk mengurusi urusan-urusan rumah tangga. Selain itu, perempuan juga hanya berkewajiban untuk mentaati perintah suami, seperti mengurus anak dan melakukan pekerjaan rumah.

Kedudukan perempuan yang dianggap sebelah mata, akhirnya memunculkan berbagai reaksi dari kaum perempuan. Salah satu bentuk dari reaksi tersebut adalah perjuangan pergerakan perempuan, baik melalui fisik maupun non-fisik.

Pelopor Gerakan Perempuan

Tokoh pelopor gerakan perempuan
Tokoh pelopor gerakan perempuan (Arsip Zenius)

Perjuangan kaum perempuan sebenarnya telah dimulai sebelum abad ke 20. Perjuangan melawan penjajahan Belanda telah dimulai melalui perjuangan angkat senjata. Adapun tokoh-tokoh tersebut ialah seperti Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Martha Kristina Tiahahu, dan Nyi Ageng Serang.

Namun, memasuki abad ke 20, perjuangan kaum perempuan fokus pada persoalan sosial dan pendidikan. Pada saat itu, kedudukan kaum perempuan cukup memprihatinkan. Makanya diperlukannya perjuangan untuk membela hak kaum perempuan. Bentuk perjuangan tersebut adalah melalui gerakan yang dibawa oleh Dewi Sartika dan Raden Ajeng Kartini.   

Dewi Sartika

Ketidakadilan terhadap perempuan memicu lahirnya gerakan perempuan pertama pada tahun 1904. Tokoh yang mempelopori gerakan tersebut adalah Raden Dewi Sartika. Ia mendirikan sebuah lembaga pendidikan informal bernama “Sakola Istri”.

Pada tahun 1911, “Sakola Istri” berubah menjadi “Sakola Dewi Sartika”. Dan pada tahun 1914 diubah menjadi “Sakola Kautamaan Istri

Baca Juga:

Raden Dewi Sartika dan Perjuangannya dalam Pendidikan

Tujuan didirikanya pendidikan informal ini agar para perempuan mampu bersikap mandiri dan terampil. Sekolah ini menyediakan beberapa pendidikan dasar seperti menjahit, melukis, dan lain sebagainya.

Raden Ajeng Kartini

Pelopor gerakan perempuan lainnya adalah Raden Ajeng Kartini. Pada era Pemerintahan Kolonial Belanda, hak-hak perempuan sering kali tidak terlindungi. Bentuk-bentuk dari pelanggaran hak tersebut yakni perjodohan, pernikahan dini, serta poligami tanpa persetujuan pihak perempuan.

Baca Juga:

Hari Kartini: Perjuangan Hak Perempuan dan Melawan Penjajah

Opresi terhadap perempuan tersebut yang membuat Raden Ajeng Kartini menuliskan beberapa pemikirannya melalui sebuah surat kepada temannya di Belanda pada tahun 1911.

Nah, kumpulan dari surat-surat tersebutlah yang diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul “Door Duisternis tot Licht” atau “Habis Gelap Terbitlah Terang” oleh J.H. Abendanon (Menteri Kebudayaan Hindia Belanda).

Pemikiran-pemikiran R.A. Kartini membuat Van Deventer (penggagas kebijakan politik etis) mendirikan “Kartini School” pada tahun 1912. Kebijakan ini mendapat dukungan dari Ratu Belanda. Sekolah ini didirikan dengan tujuan para perempuan memperoleh pendidikan dasar yang layak.

Bentuk-bentuk pendidikan dasar di sekolah ini antara lain adalah baca tulis, melukis, dan menggambar. Kartini School berdiri di berbagai kota di Hindia Belanda, khususnya di Pulau Jawa, seperti di Jakarta, Bogor, dan Malang. Sekolah ini yang membuka gerbang pengetahuan bagi para perempuan lokal.

Berdirinya Organisasi Pergerakan Perempuan

Sebenarnya, diskusi mengenai nasib perempuan juga dibahas oleh gerakan pemuda. Diskusi tersebut umumnya membahas mengenai perluasan pendidikan bagi perempuan, kedudukan dalam rumah tangga, dan lain sebagainya. Namun, topik tersebut tidak dibahas mendalam karena gerakan pemuda pada masa itu masih fokus terhadap persoalan kebangsaan (politis).

Nah, gerakan-gerakan yang dipelopori oleh Dewi Sartika dan R.A. Kartini pada akhirnya menimbulkan kesadaran bagi kaum perempuan. Kaum perempuan merasa perlu untuk berserikat dan berkumpul untuk memperjuangkan hak mereka sebagai perempuan. 

Kesadaran kaum perempuan, serta munculnya pergerakan nasional, membuat kaum perempuan mendirikan organisasi pergerakan perempuan pertama bernama Poetri Mardika pada tahun 1912. Lahirnya organisasi ini mendapatkan dukungan dari Boedi Oetomo. Gerakan ini mempunyai peran yang penting dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.  

Baca Juga:

Peran Perempuan di Balik Sumpah Pemuda

Kelahiran organisasi perempuan tersebut menginspirasi lahirnya beragam organisasi pergerakan perempuan lainnya seperti Wanita Oetomo pada tahun 1921 oleh Raden Ayu Aisah,  Wanita Katolik pada tahun 1924 oleh Raden Ajeng Maria Soelastri Sasraningrat Darmaseputra, dan Jong Islamieten Bond Dames Afdeeling pada tahun 1925 oleh Nyonya Rangkayo Datuk Tumenggung.

Pembentukan Kongres Perempuan

hasil kongres perempuan
Linimasa Kongres Perempuan di Indonesia (Arsip Zenius)

Berdirinya berbagai organisasi pergerakan perempuan menjadikan tanda perjuangan kaum perempuan untuk membela hak-haknya, serta menjunjung tinggi kesetaraan. Namun, setiap organisasi pergerakan perempuan tentu mempunyai corak yang berbeda-beda. Maka, diperlukan satu kesatuan bagi seluruh organisasi pergerakan perempuan.

Kesatuan ini berfungsi untuk memudahkan koordinasi dari masing-masing organisasi. Selain itu, penyatuan ini dianggap semakin menunjukkan citra perjuangan kaum perempuan di tengah-tengah masyarakat pada saat itu.

Kongres Perempuan I

Pada tanggal 22-25 Desember 1928 dicetuskanlah Kongres Perempuan I di Yogyakarta. Kongres ini dipelopori oleh tiga tokoh, yaitu R.A. Soekonto dari Wanita Utomo, Nyi Hajar Dewantara dari Wanita Taman Siswa, dan Sujatin dari Putri Indonesia

Namun, kongres ini tidak berjalan secara bebas karena Pemerintah Kolonial Belanda menyulitkan terlaksananya kongres tersebut.  Hal ini Membuat pertemuan diselenggarakan secara tutup. Para peserta kongres pun umumnya hanyalah yang memilih kedekatan dengan ketiga pelopor kongres di atas.

Kongres yang berjalan selama 4 hari akhirnya membuahkan beberapa hasil. Hasilnya adalah usulan mengenai tunjangan janda dan anak-anak, studiefonds (biaya pendidikan) bagi perempuan yang tidak mampu, memperkuat pendidikan padvindsterij (kepanduan putri), dan memperbanyak sekolah putri. 

Kongres Perempuan I juga menetapkan pembentukan organisasi baru bernama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) pada tahun 1929. Pembentukan PPPI diharapkan menjadi penghubung bagi seluruh perkumpulan perempuan Indonesia.Setahun berikutnya nama organisasi tersebut berubah menjadi Perserikatan Perkumpulan Istri Indonesia (PPII).

Perubahan nama ini adalah untuk menegaskan kembali perjuangan kaum istri. Sebab, dahulu kaum istri dianggap harus selalu bergantung kepada suami. Dengan perubahan ini, kaum istri diharapkan mampu untuk mempunyai kemandirian dan keterampilan.

Kongres PPPI I

Agenda kongres PPPI I pada tanggal 28-31 Desember 1929 adalah membicarakan perubahan AD/ART organisasi, pendidikan bagi kaum perempuan, nasib para yatim piatu dan janda, reformasi undang-undang perkawinan Islam, dan meningkatkan harga diri seorang perempuan. 

Selain itu, agenda lainnya adalah mengenai kejahatan terhadap perempuan. Untuk mengatasi hal tersebut, dibentuklah P4A (Perlindungan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak) yang beranggotakan perempuan maupun laki-laki.

Hadirnya lembaga ini adalah upaya untuk melindungi kaum perempuan dari memburuknya kondisi kerja buruh perempuan serta melindungi perempuan dari perdagangan perempuan yang sangat masif akibat dari kemiskinan.

Kongres PPII II

Kongres PPII II pada tanggal 13-18 Desember 1930 membahas mengenai keikutsertaan kaum perempuan di dalam kongres di Asia, pembentukan asas-asas umum, dan  pembentukan Badan Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (BPPPA). Pembentukan BPPA dianggap sebagai solusi untuk memberikan perlindungan bagi Ibu dan Anak.

Kongres Perempuan II

Kongres Perempuan II dilakukan pada tanggal 20-24 Juni 1935 di Jakarta. Kongres Perempuan kembali dilakukan setelah adanya usul dari anggota PPII karena banyak organisasi perempuan yang belum tergabung di dalam PPII, seperti Perempuan Sahati, Perempuan Perti, dan Pasundan Istri.

Kongress ini menghasilkan beberapa keputusan, yaitu pembentukan badan kongres, pembentukan Badan Penyelidik Perburuhan Perempuan (BPPA), serta pembubaran PPII.

Pembentukan BPPA bertujuan untuk meningkatkan taraf kehidupan perempuan di era Kolonial Belanda. Sedangkan, PPII dibubarkan karena organisasi ini memiliki asas yang sama dengan Kongres Perempuan, serta masih ada banyak organisasi perempuan yang belum tergabung dalam PPII.

Kongres Perempuan III

Kongres Perempuan III dilakukan pada tanggal 23-24 Juli 1938 di Bandung. Kongres ini dipimpin oleh Emma Puradiredja, Ketua Pasundan Istri Bandung. Kongres ini merupakan penegasan kembali dari Kongres Perempuan II, terkait persamaan hak antara laki-laki dan perempuan.

Kongres ini menghasilkan beberapa keputusan, yaitu pembentukan Badan Perlindungan Perempuan Indonesia dalam Perkawinan (BPPIP), pembentukan komisi kawin, serta penetapan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. 

Kongres Perempuan IV

Kongres Perempuan selanjutnya dilakukan pada bulan Juli 1941 di Semarang. Kongres ini dipimpin oleh Siti Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito. Poin-poin yang dihasilkan dari kongres ini adalah dukungan terhadap tuntutan darii GAPI (Gabungan Politik Indonesia) mengenai “Indonesia Berpalemen”. Indonesia Berparlemen, merupakan sebuah konsep yang menuntut agar rakyat memiliki hak untuk menentukan parlemen.

Selain itu, kongres perempuan IV juga menuntut agar hak pilih (acktief kiesrecht) untuk menentukan Dewan Rakyat (Volksraad) tidak hanya dirasakan kaum laki-laki, melainkan juga dirasakan oleh kaum perempuan. Serta, mengajukan kepada Dewan Kota agar bahasa Indonesia dijadikan mata pelajaran sekolah menengah atas.

Hasil Pergerakan Perempuan    

Hasil Pergerakan Perempuan
Hasil pergerakan perempuan (Arsip Zenius)

Masa Pra-Kemerdekaan

Era Pemerintahan Belanda

Hadirnya Kongres Perempuan membuat peran perempuan semakin terlihat, khususnya dalam dunia politik. Contohnya ketika Rasuna Said terpilih menjadi anggota Volksraad (Dewan Perwakilan Rakyat) di Hindia Belanda.

Selain itu, Pada tahun 1938, Belanda memberikan kesempatan kepada kaum perempuan Indonesia untuk dipilih menjadi Dewan Kota (Gementee Raad). Tokoh-tokoh tersebut ialah  Emma Poeradiredja di Bandung, Sri Umiyati di Cirebon, Nyonya Sunaryo Mangunpuspito di Semarang, dan Siti Sundari Sudirman di Surabaya.

Era  Pemerintahan Jepang

Pada era Pendudukan Jepang dibentuk berbagai organisasi perempuan seperti Barisan Poetri Asia Raja, Barisan Pekerdja Perempoean Poetra, dan Fujinkai. Namun, Pemerintah Jepang membubarkan seluruh organisasi tersebut dan meleburkannya menjadi satu organisasi bernama Fujinkai Jawa Hokokai.

Namun, peran organisasi tersebut tidak maksimal. Alasannya karena perempuan mendapat tekanan fisik dan mental oleh Pemerintah Jepang. Kaum perempuan pun hanya mampu menggalang persatuan secara sembunyi-sembunyi.

Masa Kemerdekaan

Era Pemerintahan Soekarno

Memasuki masa kemerdekaan, peran perempuan dalam dunia politik semakin diakui. Pada penyelenggaraan pemilu pertama tahun 1955, perempuan mendapat hak pilih dan berkesempatan menjadi anggota parlemen. Pemerintah Indonesia juga mengeluarkan UU No. 80 tahun 1957 mengenai prinsip pembayaran yang sama dengan beban kerja yang sama bagi kaum pria dan perempuan.

Namun, perjuangan kaum perempuan dirasa belum sepenuhnya terpenuhi. Tindakan Presiden Soekarno yang saat itu menikah kembali dengan Hartini, meskipun telah beristrikan Fatmawati, mendapat kecaman dari organisasi perempuan.

Organisasi Persatuan Wanita (Perwani) menilai tindakan Soekarno tidak patut, mengingat reputasinya sebagai seorang pemimpin dan Bapak proklamator. Hal ini sangat merugikan kaum perempuan. Akhirnya, Perwani pun mendesak dibentuknya UU Perkawinan.

Era Pemerintahan  Soeharto

Pada masa pemerintahan Soeharto, UU Perkawinan dikeluarkan pada tahun 1974. Beberapa hal yang diatur dalam UU ini adalah mengenai persoalan poligami, batas perkawinan bagi pria dan wanita, serta hak dan kewajiban bagi pasangan suami dan istri.

Walaupun UU ini hanya mengatur pegawai negeri, tetapi UU ini dianggap sebagai keberpihakan pemerintah terhadap kaum perempuan yang menolak poligami. Namun, ada juga yang berpendapat UU ini belum cukup keras mengatur poligami, karena masih ada kalimat “diperbolehkan poligami jika mendapat izin istri pertama.” 

Di tahun yang sama, pemerintah juga membentuk Kementerian Muda Urusan Peranan Wanita pada tahun 1974. Kementerian ini hadir untuk memberdayakan kaum perempuan, agar perempuan terlibat aktif dalam bidang-bidang strategis. Kementerian ini juga mewadahi berbagai persoalan kejahatan terhadap perempuan, yaitu pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, aborsi, dan lain-lain.

Namun, kebijakan asas tunggal yang diusung Soeharto juga berdampak pada berbagai organisasi wanita yang berkembang. Sekitar 23 Organisasi perempuan tergabung di dalam Himpunan Wanita Karya (HWK). HWK merupakan organisasi koordinasi wanita di bawah partai Golongan Karya (Golkar) yang merupakan partai pemerintah.

Hal ini membuat ruang gerak organisasi wanita menjadi sulit. Organisasi wanita pun dibayang-bayangi oleh kepentingan atau kehendak partai penguasa. Penyatuan berbagai organisasi perempuan ini juga dianggap sebagai pemberangusan ide yang melanggar prinsip demokrasi.

Kesimpulan

Perjuangan perempuan hingga hadirnya kongres perempuan memperoleh proses yang panjang. Ketidaksetaraan gender di masa penjajahan, membuat kaum perempuan akhirnya sadar untuk menentukan nasibnya sendiri.  

Bentuk dari persatuan kaum perempuan adalah dengan dibentuknya Kongres Perempuan pertama pada tahun 22 Desember 1928 yang hingga hari ini diperingati sebagai Hari Ibu.

Kehadiran Kongres Perempuan pun memberikan dampak yang signifikan bagi kaum perempuan. Hal ini terlihat ketika kaum perempuan akhirnya memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan, kesempatan dan hak pekerjaan yang sama dengan kaum laki-laki, serta hak untuk berpartisipasi di dalam dunia politik.

Namun, tantangan dalam perjuangan perempuan pun masih belum usai. Isu-isu kejahatan terhadap perempuan juga masih menjadi salah satu permasalahan besar di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Penutup

Sobat Zenius, sampai di sini dulu pembahasan kita tentang Kongres Perempuan. Kalau elo mau belajar materi ini lebih dalam, klik banner di bawah ini, ya!

Kongres Perempuan : Latar Belakang, Hasil, dan Dampaknya - Materi Sejarah Kelas 11 9

Guys, mau belajar dengan ribuan video materi, live class dengan tutor berpengalaman, serta bank soal untuh latihan? Zenius jawabannya! Zenius punya berbagai